
Menimbang dan Menimang di Pasar Ayam
Saya kurang tahu sejak kapan persimpangan tiga di desa G1 Mataram ini menjadi tempat transaksi jual beli unggas. Ayam, itik, bebek, diperjualbelikan oleh para ibu dan juga bapak-bapak. Mereka menawarkan unggas-unggas tersebut dengan dua cara.
Cara yang pertama adalah menimbang. Harga satu kilogram unggas ditentukan. Unggas yang akan dijual atau dibeli ditimbang. Hasil timbangan dikalikan nominal harga, itulah harga yang harus dibayar.
Cara yang kedua adalah dengan menimang. Ayam yang hendak dibeli, ditimang seperti ibu menimang bayinya. Ayam tersebut dibelai, diteliti, lalu ditawar. Kesepakatan harga antara penjual dan calon pembeli adalah nilai yang harus dibayar.
Pasar ayam ini mulai ramai sesudah fajar dan mengalami puncak keramaian sekitar pukul tujuh pagi. Biasanya pada pukul 09.00 lokasi sudah kosong dari para penjual maupun pembeli. Yang tersisa hanyalah penjual nasi uduk dan gorengan yang sedari fajar sudah menemani dan mengharap rezeki dari para pengunjung dan orang yang melintas jalan tersebut.

Musi Rawas, 24 Oktober 2021
Unik juga cara transaksi. Menimbang dan menimang. Kalau menimang, agak beresiko. Bisa untung dan rugi tak ketahuan. Eh itu menurut saya sih. Pendapat bukan pedagang. Hehe…
Untung cuma dengan cara menimang proses tawar menawarnya, coba kalau harus sampai meminang repot bener kita yang beli, hahaha
Waah membeli ayam dengan menimang … Asik kayaknya Pak D ya…
Mau ditimang atau ditimbang. Kalau di sini penjual ayam biasanya menimang. Lalu sepakat harga.
Oh? Kalo dg cara menimang itu yg dah ahlinya yah? Keren yah…
Terima kasih koreksinya Bung Ind. Keren sekali.
Justru para “ahli” di bidang ayam, he he.
Oh, ternyata ada teknik jual beli dengan cara menimang. Ini untuk yang tidak punya timbangan atau untuk kualitas ayam, ya?
Cara unik meminang unggas…
Informasi yang segar sekali Pak D….
#mengarahap rezeki?