Pengalamanku menjadi Editor Penulis Media Literasi Nusantara Semaja (Melintas)

Tanggal 11 Mei 2023 adalah hari bersejarah bagi sebuah media portal berita dan literasi. Media yang menamakan diri Media Literasi Nusantara Semaja. Media itu disingkat melintas dengan domain .id, sehingga website itu beralamat di melintas.id.
Empat belas hari berikutnya, bersama puluhan penulis lainnya mencoba mengisi rubrik yang ada sesuai dengan hal yang dikuasasi atau setidaknya diminati.
Ada beberapa tulisan tentang teknis kepenulisan, menyangkut penggunaan pungtuasi dan pemakaian capital letter atau huruf kapital dalam judul dan badan artikel. Bahkan, ada yang secara terang-terangan membuat gambar tangkap layar dari salah satu tulisan di media tempat penulis berkontribusi.

Tidak mengapa, karena kritik tidak harus dari luar. Ada yang dinamakan otokritik, kritik dari dalam diri sendiri.
Ada yang keberatan, namun ada pula yang mendukung. Sebagian lagi membiarkan karena tidak ingin berpolemik. Ah, biarkan saja. Tugas saya sebagai penulis, berkontribusi saja berupa tulisan. Terbit atau tidak adalah hak tim redaksi.
Menulis di media massa online dengan menulis di media pribadi memang tidak sama. Ada aturan yang harus dipatuhi karena media profesional bergantung pada pelanggan dan … iklan. Pelanggan datang, duduk dengan betah membaca, atau datang dan membuka sekilas lalu pergi, adalah haknya.
Tugas pengelola adalah membuat pelanggan setia. Memenuhi apa yang pelanggan butuhkan, menyajikan sajian dengan tampilan yang menyenangkan.
Untuk memenuhi itu semua, diperlukan usaha. Media online adalah ibarat pedagang kelontong yang dagangannya harus mudah dilirik dan ditemukan oleh pelanggan dengan bantuan mesin pencari.
Barang yang bagus dan dicari pembeli bisa tidak laku hanya karena pembungkusnya tidak dikenali. Sebaliknya, barang yang rendah kualitasnya tetapi dikemas dengan kemasan yang bagus akan laku keras.
Yang sempurna adalah barang yang bagus dikemas dengan baik dan dipajang di tempat yang tepat. Pembeli akan penasaran dan datang menghampiri. Ketika ia puas, ia akan kembali lagi. Jadilah ia pelanggan setia.
Upaya yang dilakukan oleh pengelola media adalah menyediakan sumber daya manusia yang mau bekerja keras. Agar mampu mengemas tulisan sendiri maupun dari kontributor yang biasa disebut sebagai kreator konten agar: mudah ditemukan, mudah dibaca, dan membuat subscriber, tetap setia.
Selain berkontribusi mengirimkan tulisan sebagai kreator konten, sesekali saya berkontribusi dalam obrolan WA tentang berbagai hal berkaitan dengan tulisan yang disajikan. Sesekali bertelepon dengan teman-teman penulis dan pengelola.
Beberapa sajian pun diperbaiki, disesuaikan dengan mata elang teman-teman penulis yang juga sekaligus pembaca setia tulisan sahabat lainnya. Bergurau dan berseloroh dengan santun. Menjuluki teman yang teliti dalam ejaan atau kalimat dengan polisi bahasa bahkan ada teman berseloroh menjuluki intel, intel tulisan.
Hari Sabtu, tanggal 20 Mei saya diminta mengikuti pelatihan CMS dari Pemimpin Redaksi melintas.id. Duh, senang sekali. Karena saya pengguna WordPress, penggunaan CMS tidak terlalu kesulitan.
Saya ikuti hingga usai. Akan tetapi saya belum memiliki akses. Hingga seminggu kemudian saya dikirimi Formulir Curriculum Vitae yang harus diisi. Hari berikutnya, ada kiriman akun untuk mengakses CMS dari Pemimpin Redaksi.
Tara …! Saya pun seperti masuk di rumah baru. Meskipun familier dengan CMS, namun satu demi satu saya amati dan tanyakan kepada Pimred. Hingga, satu kiriman tulisan saya coba eksekusi.
Ufhhh … ternyata tidak mudah. Setelah membaca naskah, saya perhatikan judul. Judul saya sesuaikan dengan ilmu yang diberikan pada waktu pelatihan. Alamak …, butuh waktu beberapa menit hanya agar judul sesuai ketentuan. Di antaranya mengandung kata kunci. Kata kunci pun harus trending di Google, minimal lima puluhlah, jika tidak bisa lebih.
Sesudah mengeksekusi judul, giliran menuliskan tiga paragraf pertama. Apakah dalam setiap paragraf dari tiga paragraf pertama itu mengandung kata kunci yang tercantum pada judul. Mikir lagi! Bisa rontok nih rambut.
Setelah lolos tiga paragraf, selanjutnya memeriksa tulisan pada tubuh artikel selanjutnya. Lalu, menerapkan hal-hal teknis lainnya, sebelum dipublikasikan. Berhasil! Ada rasa lega di dada.
Terakhir, saya ingin bercerita tentang keuntungan menjadi editor.
Apa keuntungan menjadi editor? Duit? Nanti dulu! Jangan mikir duit. Terima saja, kalau ada. Tapi jangan dipikir. Duit kok dipikir. Duit itu diterima dan dibelanjakan, ha ha ha ….
Keuntungan menjadi editor, tepatnya memiliki akses CMS. Satu di antaranya, tulisan sendiri langsung bisa ditulis dan diposting. Kita penulisnya dan kita sendiri editornya. Keren ….
Meskipun mempublikasikan tulisan sendiri, aturannya sama ketat dengan mengedit tulisan orang yang ingin diterbitkan. Jika tidak bagaimana?
Jika tidak, ‘kan kita diawasi pimpinan. Pasti kinerja akan dinilai. Sebab, tidak ada pekerjaan yang tidak diapresiasi. Hasilnya, bisa baik bisa juga buruk.
Jadi, jangan berpikir bahwa enak, ya, punya akses CMS! Oh, tidak! Jika melanggar aturan demi aturan dan melebihi batas toleransi, akses kita bisa dicabut. Ingat, ya! Dicabut!
CMS ibarat rumah kos. Kita anya menguasai kunci pintu. Jika melangar aturan Ibu Kos, kunci diambil, ngak bisa masuk rumah, dong. Kecuali diberi kunci duplikat rumah ibu kos? Ha ha ha …. Ya, nggak mungkinlah! Ngawur, bae!
Keuntungan berikutnya adalah editor membaca lebih dulu tulisan kawan. Banyak hal bisa dipetik. Pertama gaya selingkung penulis. Selingkung, ya, bukan selingkuh. Lalu, alur berpikir, kosa kata, plot cerita, dan twist yang kadang mengejutkan.
Ini persis seperti pengalaman ketika kecil, kelas lima hingga kelas enam SD. Guru memberikan buku, menyuruh mencatat di papan tulis, teman-teman menyalin tulisan. Lalu guru meminjami untuk disalin kembali karena ‘kan belum mencatat di buku catatan.
Kata guru, saya punya banyak keuntungan. Pertama, membaca buku guru. Kedua, membaca tulisan di papan tulisa, ketiga membaca kembali buku guru untuk disalin di buku. Lalu membaca tulisan sendiri di buku.
Ini guru yang ‘ngeles’ karena sebenarnya malas menulis di papan tulis atau memang sedang memberi keuntungan’ kepada saya. Akan tetapi, saya suka dan menikmatinya.
Itulah sekelumit gambaran pengalaman saya menjadi editor. Editor media baru namun berpotensi menjadi media yang berkembang baik.
Dukungan penulis, editor yang jeli, dan pimpinan yang bijaksana , membuka peluang media ini menjadi besar. Siapa tahu setelah pensiun nanti menjadi editor penuh waktu dari pagi hingga malam hari. Terbayang, ‘kan, berapa yang saya terima? Pasti banyak sekali … tulisan yang yang saya terima.
Harus diedit. Namanya juga editor! Kalau tidak itu, terus, apa?***
Musi Rawas, 29 Mei 2023
Salam Blogger Sehat,
PakDSus

Betul…betul…betul
Hak konsumen untuk membaca dan begitu saja meninggalkannya.
Semangat pakde, karya penjenengan pancen ok.
Sangat luar biasa untuk saya belajar dan belajar terima kasih Pa Sus berbagi ilmunya sangat m bermanfaat…salam sehat sll.
Mantull Pak De. Top markotop. Editor kereen