artikel

Cerpen: Tulisan yang Hilang

https://www.pexels.com/photo/success-text-21696/

Cerpen (cerita pendek) ini sudah tayang di melintas.id dengan penulis yang sama (Susanto-PakDSus). Saya simpan di sini sebagai arsip dan mudah jika ingin mencari dan membukanya kembali.

Mading biasanya ditempelkan di tempat-tempat umum, biasanya sekolah. Dapat juga dipasang di perkantoran, pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat lain yang sering dikunjungi oleh orang banyak. Isi mading bervariasi. isi mading dalam cerpen berikut ini adalah cerita humor, puisi, pantun, dan cerpen.

Cerita ini bertutur tentang kegiatan anak-anak remaja pengurus majalah dinding SMP yang mulai mengenal cinta dan rasa suka kepada lawan jenis. Bagaimana kisahnya? Simak cerita berikut ini.

Cerpen: Tulisan yang Hilang

Pagi ini, kolom chat WA Yanti, guru penanggung jawab GLS SMP 6 berisi pesan dari Tresia. Tresia selalu menulis dengan rapi di kolom chat media sosial hijau itu.

Bu, tulisanku hilang. Tulisanku ada tapi pengarangnya diganti Nanda. Aku tidak tahu Nanda itu siapa. Setahuku di sekolah kita hanya ada Nanda, anak kelas VIII.A. Dia anak PMR, belum pernah menulis di Malintas.

Pada kolom berikutnya dihiasi emoji menangis lima buah.

“Neh, gawat juga, nih. Pakai emoji nangis sampai lima. Hmm … baiklah, nanti aku urus,” gumam Yanti.

Yanti adalah guru pembimbing gerakan literasi sekolah. Gerakan Literasi Sekolah disingkat GLS. Para pembimbing GLS memiliki pin GLS yang harus dipakai di dada baju sebelah kanan. Para pembimbing itu memakainya setiap hari.

SMP 6 sangat antusias melaksanakan program GLS. Tidak heran, sekolah tersebut selalu menjuarai lomba-lomba literasi, baik literasi membaca menulis maupun literasi digital. Jika tidak menjadi juara pertama, kursi runner up kerap mereka duduki.

Literasi di SMP tempat Yanti mengajar sangat diperhatikan dan didukung penuh oleh kepala sekolah maupun orang tua murid.

Gerakan literasi di sekolah Yanti ada beberapa kelompok atau komunitas.

“Ada storytelling bahasa Inggris, bahasa Indonesia, maupun bahasa Jawa. Masing-masing dimbimbing oleh bu Maesaroh, bu Lely, dan pak Agus. Menulis indah termasuk kaligrafi dibimbing oleh pak Ahmad. Komunitas kreator konten video pendek dibimbing oleh pak Mufid, sedangkan bu Yanti membimbing program literasi unggulan kami yakni Majalah Dinding Literasi Pecinta Sastra atau Malintas,” jelas kepala sekolah ketika mendapat kunjungan pejabat Dinas Pendidikan.

“Namanya keren, Pak!” komentar ibu dari kantor Dinas Pendidikan.

“Bu Yanti ini hebat. Beliau guru IPA tetapi kecintaan dan kompetensinya di bidang tulis-menulis sangat luar biasa. Beliau sudah menulis beberapa buku solo dan puluhan buku antologi. Bahkan kemarin meluncurkan buku antologi bersama siswa,” imbuh kepala sekolah.

Muka Yanti merah jambu menahan malu dipamerkan oleh atasannya kepada pejabat dinas yang berkunjung ke sekolahnya pada saat itu.

“Bukan saya aja, Pak. Ada juga pak Eko dan pak Wanto yang sangat teliti membaca tulisan anak. Jadi, kami tidak perlu menyewa editor dari luar jika membuat proyek buku antologi, Pak,” jelas Yanti.

Malintas atau Majalah Dinding Literasi Pecinta Sastra berupa berupa papan triplek berlapis kain planel dan dipasang di kiri dan kanan jalan masuk di gedung utama SMP 6.

Gedung utama dengan pintu masuk di tengah tersebut sangat strategis dipasang majalah dinding. Dari pintu masuk, ruangan sebelah kiri adalah ruang Tata Usaha. Di sana ada kepala TU dan stafnya. Sedangkan di sisi kanan adalah Ruang kepala sekolah dan di sebelahnya lagi adalah ruang atau kantor guru.

Majalah dinding sekolah Tresia terbit setiap 5 hari sekali. Tresia adalah anak yang rajin mengirimkan tulisan ke majalah dinding sekolah.

Meskipun tulisan tangan, tulisannya rapi dan mudah dibaca. Hampir setiap kali terbit, Tresia membuat tulisan berupa cerpen. Kadang hanya satu lembar kertas folio, kadang cerpennya dua hingga dua atau lebih kertas folio.

Photo by Heiner: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-woman-leaning-on-metal-railings-with-background-of-body-of-water-by-the-shoreline-205000/

Selain cerita, majalah dinding sekolahnya juga menampung tulisan humor, puisi, pantun, maupun tips-tips bermanfaat. Anak-anak boleh membuat tulisan menyadur dari internet tetapi harus mencantumkan sumbernya. Mereka dididik untuk tidak melakukan plagiat dan mengakui tulisan orang menjadi tulisan sendiri.

Para pengurus mading adalah anak-anak yang dipilih oleh guru dan memiliki minat mengurus majalah dinding. Jika peminatnya melebihi tenaga yang dibutuhkan, tidak segan guru menyeleksi.

Para pengurus yang terpilih untuk semester ganjil ini adalah Wawan, Diah, Barnabas, Wahidin, Tresia, dan Rahma. Enam orang itu bertugas mengumpulkan dan menyeleksi naskah di bawah bimbingan guru pembimbing.

Selain petugas, mereka juga pengisi majalah dinding. Yang hobi menggambar membuat ilustrasi. Tresia yang gemar membuat cerita sering mengirim cerpen.

WA Tresia kembali dibuka Yanti. Lalu ia mencermati dan membacanya kembali.

Bu, tulisanku hilang. Tulisanku ada tapi pengarangnya diganti Nanda. Aku tidak tahu Nanda itu siapa. Setahuku di sekolah kita hanya ada Nanda, anak kelas VIII.A. Dia anak PMR, belum pernah menulis di Malintas.

“Kenapa bisa begini, ya?” gumam Yanti.

Eko yang duduk di sebelahnya terusik dan mencoba bertanya.

“Ada apa, Bu Yanti? Ada masalah, Bu?” tanya Eko.

“Ini , saya dapat WA dari Tresia. Katanya, tulisannya hilang.”

“Hilang bagaimana, Bu?” tanya Eko lagi.

“Tulisannya ada, tetapi nama pengarangnya diganti dengan nama Nanda, katanya,” jelas Yanti.

Kebetulan kedua guru itu sedang ada jam kosong, kemudian mereka menuju ke tempat majalah dinding.

Mereka melihat ada cerpen yang diberi label nama “Nanda” sedangkan tulisan di bawahnya mereka hapal bahwa itu tulisan tangan Tresia.

“Hmm … ini pasti ada sesuatu, Bu,” kata Eko kepada rekannya.

Kedua guru pembimbing mading pun kembali.

Keesokan hari mereka akan menyelesaikan permasalahan itu.

Pada hari yang ditentukan, kedua guru memanggil para pengurus mading, terutama Wawan dan Barnabas karena Wahidin biasanya hanya bertugas membuat ilustrasi dan hiasan agar madingnya menarik bersama Diah dan Rahma. Sementara, yang bertugas menempelkan hasil karya pada setiap penerbitan berbeda-beda sesuai daftar piket.

“Wawan, yang bertugas menggunting dan menempelkan cerpen pada penerbitan tanggal 31 Mei, siapa?” tanya Yanti.

“Barnabas, Bu,” kilah Wawan.

“Aku Cuma mengumpulkan, Bu. Wawan yang menggunting, Bu.

“Benar, Wan?” selidik Yanti kepada Wawan.

Wawan mengangguk. Ia menunduk sambil memainkan kedua jemari tangannya.

Yanti melihat Wawan mulai timbul rasa takut. Mungkin ia takut karena melakukan kesalahan.

“Ya, sudah. Barnabas, boleh kembali ke kelas. Ibu masih ada perlu dengan Wawan.”

Mendengar gurunya berkata seperti itu, Wawan mulai keluar keringat dingin.

“Tapi, Bu …, aku ….”

Wawan tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Wawan tidak perlu takut. Ibu tidak apa-apa, kok. Ibu hanya mau memastikan saja. Jika pun iya, nggak apa-apa, kok. Wajar, ‘kan manusia itu tempatnya khilaf dan salah,” kata Yanti.

Kalimat lembut yang keluar dari gurunya membuat Wawan merasa lega.

“Iya, Bu,” jawab Wawan.

“Setelah mengganti nama penulis cerita Wawan merasa lega?” kata Yanti.

“Siapa, Bu? Aku tidak menganti nama penulis cerita,” jawab Wawan membela diri.

“O, maaf, Ibu tidak menuduh Wawan, seandainya saja.” Yanti berkata sambil tersenyum.

“Ada berapa orang yang menulis cerita hari itu?” tanya Yanti.

“Ada dua. Nanda dan Rahma,” jawab Wawan.

“Siapa, Nanda?” tanya Yanti. Wawan pun menyahut.

“Anak kelas VIII.A, Bu.”

Dalam hati Yanti bergumam, “Kuat juga alibi anak ini.”

“Baik, sebelumnya Nanda pernah menulis cerita belum?” tanya Yanti.

“Belum, Bu. Kan bisa saja sekarang ia menulis,” kilah Wawan.

“Wawan, anak Ibu. Ini arsip mading kita pada penerbitan sebelumnya. Mari kita bandingkan tulisan tangan Nanda dengan tulisan yang ada di arsip ini. Kita tidak ke mading, karena Ibu punya fotonya. Mirip atau samakah tulisan di hape Ibu dengan arsip ini?” tanya Yanti sambil menunjukkan lembaran-lembaran cerita dan foto yang ia ambil bersama Eko.

Wawan terdiam. Darahnya berdesir. Ia tidak menyangka perbuatannya akan ketahuan.

“Sama, Bu. Itu tulisan Tresia,” jawab Wawan.

“Bagus. Ibu berterima kasih dengan jawaban Wawan. Artinya, apa?” tanya Yanti dengan lembut.

Wawan terdiam.

“Artinya ada yang mengganti nama Tresia pada karangan ini, ‘kan?” Kalimat Yanti diiyakan muridnya itu.

Suasana hening beberapa saat.

“Wawan sayang sama Tresia?” bisik Yanti kemudian.

Wawan terkejut. Ia tidak menyangka gurunya akan berkata seperti itu.

Kemudian Yanti dengan lembut menyentuh punggung Wawan.

“Wawan, anak Ibu. Ibu pernah disenangi kawan Ibu ketika sekolah. Namun, ibu kebetulan tidak membalas rasa cinta teman ibu itu. Bukan Ibu tidak suka, tetapi ibu tidak ingin terganggu pelajarannya. Mungkin Tresia demikian. Wawan tampan, lo,” kata Yanti mmberikan pujian.

Ada rona merah di wajah Wawan. Ia memang menyukai Tresia, tetapi Tresia tidak pernah menanggapi. Tresia tidak pernah membalas DM yang ia kirimkan. Untuk melampiaskan kejengkelannya, ia ubah nama penulis cerita dari Tresia menjadi Nanda.

“Iya, Bu. Aku minta maaf. Aku yang mengubah nama Tresia.”

“Wawan, ikhlaskan. Berteman bagi kalian akan lebih baik ketimbang dibumbui dengan rasa cinta. Cinta dan sayang akan tumbuh jika kita berbuat baik. Ibu paham. Usia kalian sudah mulai menyukai lawan jenis. Ketampanan paras muka akan dikalahkan dengan ketampanan perilaku. Tunjukkan bahwa Wawan adalah lelaki yang baik, yang bertanggung jawab. Jika saat ini, Tresia belum bisa menerimamu, mungkin nanti ketika kalian kuliah. Atau Wawan akan menemukan perempuan yang cantik luar dalam,” jelas Yanti panjang lebar.

“Aku harus bagaimana, Bu?” tanya Wawan.

“Pasang kembali cerita, cantumkan nama penulisnya, Tresia, dan tuliskan kalimat permintaan maaf. Baik kepada Nanda yang dicatut namanya, maupun Tresia sebagai pemiliknya. Jika pemain video melakukan kesalahan dengan videonya, ia meminta maaf juga dengan video. Demikian pula kita, penulis. Melakukan kesalahan tertulis, maka lakukan permintaan maaf secara tertulis dan diapajang di media yang kita kelola agar diketahui oleh orang banyak. Bagaimana, Wawan?”

“Ya, Bu. Maaf ya, Bu. Akan aku lakukan,” jawab Wawan dengan mantap. Ia ingin seperti yang dikatakan bu Yanti, lelaki yang bertanggung jawab.

“Bagus, pemuda yang bertanggung jawab. Pemuda yang berjiwa Pancasila karena menghargai karya orang lain dan berbuat adil. Silakan, Wawan boleh kembali ke kelas. Bilang dengan Bu Guru atau Pak Guru yang mengajar, baru dipanggil Bu Yanti.”

Anak muda bernama Wawan pun segera bergegas menuju kelasnya.

Yanti menatap punggung muridnya hingga ia tidak tampak lagi karena berbelok ke kanan, ke ruang kelas VIII.D***

Musi Rawas, 1 Juni 2023
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Cerpen: Tulisan yang Hilang

  • Kembali ke EYD dan lakukan analogi terhadap keterangan di sana. terima kasih sudah berkunjung.

  • sebelumnya sdah baca di melintas.id
    Kolom komentar buat nanya boleh kan ya?. Untuk penulisan lambang Romawi yang diikuti huruf memang harus diberi tanda titik kah? Contoh kelas VIII.A, atau VIII.D. Jika demikian apakah aturan penulisan sesudah tanda titik ada spasi tidak berlaku?
    Terimakasih

Comments are closed.