artikel

Pentigraf dan Pagi yang Tak Biasa

Sumber: mobile.warbis.id

Andai pagi ini tidak gerimis, aku sudah mengayuh sepeda gunung keliling kampung. Sepeda yang dulunya milik anakku ketika masih duduk di bangku SMP, kini menjadi teman setia mengantar badan ke masjid belakang rumah. Melemaskan otot dan menemani menghirup udara segar selepas subuh.

Masjid hanya tiga rumah dari rumahku, tapi kadang aku baru kembali mendekati pukul enam pagi. Bukan karena berlama-lama di masjid karena adanya kajian Subuh, melainkan karena mengowes mengukur jalan kampung sambil menikmati sunyi yang belum banyak diganggu deru motor dan hiruk pikuk kehidupan.

Begitu pintu rumah kuketuk dan dibukakan ibu negara, aku langsung menuju ruang penuh cerita, nasihat, kabar berita, ulasan, opini ringan, atau sekadar curahtan, Rumah Virus Literasi. Di dalamnyaaku temukan dua pentigraf yang mencengangkan. Bukan sekadar rangkaian kata biasa, tapi sindiran halus yang dalam, ditulis oleh Telly Daswatia—sang penulis yang piawai menyusun tiga paragraf menjadi peluru tanpa bunyi yang sarat makna. Pesan-pesan tersiratnya menohok peristiwa negeri ini, lebih tajam dari esai yang berpanjang kata.

Pentigraf itu ibarat sarapan pagi yang tidak hanya menyegarkan dan mengenyangkan, tapi juga bergizi untuk jiwa dan pikiran. Sungguh, aku merasa seperti baru saja menyeruput kopi panas yang menyadarkan, ditemani camilan dengan rasa yang tidak terduga. Hari ini, aku memulai pagi tidak dengan kayuhan sepeda, tetapi suguhan literasi di rumah para bijak bestari..

Cuplikan pentigraf ini ada di Grup WhatsApp RVL (Rumah Virus Literasi). Pentigraf ini ditulis oleh Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd. Pegiat literasi, Penasihat RVL, Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Pelukis Pan penulis dengan 50 judul buku lebih.

SIDANG PARA SANDAL
Telly D

Di suatu malam ganjil bulan Suro, sandal-sandal bekas di laci kantor polisi mengadakan sidang darurat dalam keheningan. Sandal jepit putus sebelah kanan menjadi pemimpin, sementara sepatu pantopel kulit palsu yang pernah dipakai koruptor tampak duduk dengan tenang sebagai saksi. Mereka memikirkan nasib rekan mereka, sandal hotel yang membuat Toni, remaja pencari sisa, dijatuhi hukuman. Sementara itu tensi suasana semakin tinggi ketika seorang pejabat besar yang mengimpor kebijakan manis dalam jumlah masif, justru melenggang bebas karena selembar surat berstempel negara.

Sandal gunung dengan logo palsu memberontak dalam diam, ingin menegaskan bahwa mereka selalu dipijak setiap hari tanpa pernah diajak bicara. Sepatu pantopel kulit palsu menenangkan dengan bahasa tubuh yang sabar, mengisyaratkan bahwa meski mereka tak pernah disemir, mereka masih bisa menjaga pijakan keadilan. Dari sudut rak, sandal bayi warna merah yang tinggal sebelah menatap mereka semua, ingin berkata bahwa tubuh kecilnya tak mampu menahan beban sistem yang tak berpihak pada yang kecil.

Malam itu, di ruang pengap dan bau karbol, laci sandal seperti bergetar perlahan oleh perasaan tak diundang. Dan sandal jepit paling tua akhirnya bergumam, “Kalau kalian semua diam, yang diinjak akan tetap selalu tak dianggap.”

Makassar, Agustus 2025

Itulah satu di antara dua pentigraf yang kucuplik sebagai sarapan pagi di ruang belajar para penggiat literasi di rumah yang kata sang Komandan berprinsip: Kita menulis tentang, dengan cara, dan untuk kebaikan. Begitu tulis Dr. Much. Khoiri, suhu kami.

Musi Rawas, 2 Agustus 2025
Penikmat kopi yang mulai mengurangi gula di dalamnya.
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.