artikel

Pentigraf Karya Anggota Grup WA Rumah Virus Literasi

Dokumen Susanto (Dibuat dengan Canva for Edu)

Banyak hal menarik dalam perbincangan dan arus listerasi grup WA para penulis, RVL (Rumah Virus Literasi).

Banyak disajikan pentigraf, cerpen tiga paragraf. Sebagian sudah dipublikasikan oleh sang penulis di blognya, sebagian ada dalam bukunya dan barangkali juga berupa tulisan segar yang dibagikan pada kolom chat grup.

Sajian di sini hanya sekadar membagikan ulang agar saya sebagai salah satu anggota grup memiliki catatan yang sewaktu-waktu bisa membuka dan menikmati.

Syukur, para sobat blogsusanto berkenan menikmati. Isi laman ini akan terus diperbarui.

Salah Ucap
#pentigraf

Betapa bahagianya Pak Karjo sebagi TU pada sekolah SMP Negeri yang sudah ASN 15 tahun. Istrinya juga seorang guru SD yang ASN. Pak Karjo dikaruniai seorang anak perempuan semata wayang yang sudah lulus perawat bernama Sinta. Pada kuliah semester akhir temannya Sinta yang bernama Raka menyampaikan uneg-unegnya bahwa ia jatuh cinta pada Sinta. Karena sudah tahu watak dan watuknya Sinta menerima dengan sepenuh hati. Pada waktu wisuda Raka menyampaikan pesan kepada Sinta, bahwa usai wisuda 1 Minggu orang tuanya akan melamar kepada orang tua Sinta. Sinta menyetujuinya.

Tepat hari yang dijanjikan satu minggu setelah wisuda kekuarga Raka dari Kalimantan berlima datang ke rumah Sinta untuk melamar. Keluarga Sinta pun sudah siap dengan ewoh dan sugoh untuk menyambut tamunya. Ruang sudah dihias berbagai kue-kue sudah siap, buah serta makan siangnya. Makan yang disiapkan sate kambing, sate ayam, dan asem-asem balungan, serta minuman es kopyor. Setelah tamu datang disambut kekuarga besar Sinta masuk ruang tamu yang cukup luas 5 x 5 m2. Para tamu dipersilahkan makan dulu oleh Pak Karjo. “Silakan bapak ibu untuk makan siang seadanya, ini ada sate ayam, sate kambing, dan jangan asem” sambil menunjuk barangnya. Maka semua tamu makan bersama keluarga Sinta dengan lahap karena perjalanan jauh.

Betapa terkejutnya Pak Karjo, sate ayam dan sate kambing saja yang ludes di makan tamunya, sedangkan jagan asem-asem balungan utuh. Pak karjo menanyakan mengapa tamunya tidak ada satupun yang mengambil asem-asem balungan. Ternyata salah jawaban dari tamunya menyeletuk, “Sebelum makan Bapak melarang, ini jangan asem, jadi kami tidak berani ambil.” Pak Karjo kaget dan tersenyum serta minta maaf karena lupa tamunya bukan orang Jawa.

Lamongan, 22092923
Cak Inin Mukminin
https://cakinin.blogspot.com/2023/09/salah-ucap.html

KLAKSON KAPAL
Oleh Telly D

Pucuk dicinta ulam tiba, setelah bekerja 5 tahun akhirnya Pak Kasman mendapat cuti besar. Yang dulu hanya angan-angan, kini dapat terwujud. Hasrat untuk menjelajah di ibukota negara sudah tak tertahankan. Belum punya pengalaman bepergian tidak mematikan gairah, kapal laut pilihan transportasinya. Semua berjalan lancar. Jadwal dan tiket sudah di tangan, bahkan sudah lengkap. Dokumen, packing barang, dan bagasi, obat-obatan mengatasi mabuk laut, telah disiapkan juga. Pak Kasman pun juga telah mencermati aturan kapal, aktivitas di kapal, cuaca laut, sampai ke etika di atas kapal dipahami dengan teliti.

Tibalah waktu hari keberangkatan. Pak Kasman memantaskan pakaian, bersepatu, berkacamata hitam. Memanggul ransel di punggung bak tekad pendaki gunung yang paham dengan liku terjal setiap langkah yang mesti ditapakinya. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan, di atas becak terdengar klakson kapal yang melengking panjang. Bak petir di siang bolong, itu tanda kapal meminta jalan untuk bergerak, kapal sudah akan berangkat. Dengan panik Pak Kasman tergesa-gesa melompat dan berlari kencang ke tepi dermaga. Saking terburu-burunya tukang becak dibayar dengan uang besar dan tidak menunggu pengembaliannya. Kapal sudah 3 meter dari dermaga. Dilemparkannya tas ke kapal dan diraihnya tali yang menggantung serta dengan susah payah dia memanjat naik ke atas kapal. Orang di kapal berkerumun menolongnya.

Napasnya masih sesak ketika kapten kapal menanyakan tujuan mau kemana. Ternyata kapal ini baru masuk pelabuhan. Pak Kasman salah naik kapal dan salah mengartikan bunyi klakson kapal. Dia tidak tahu membedakan klakson datang dan klakson berangkat.

Makassar, 20 September 2023
Editor: Chamim Rosyidi

Sengatan Listrik

Oleh Telly D.

Lengkap sudah atribut kemapanan Bang Jury sebagai preman slebor. Berbadan gempal, hitam legam, berdaki tebal, dan berbau sangit matahari karena tak suka mandi. Belum lagi perilaku kasar dan tak punya rasa belas kasih. Badannya habis disakiti dengan dirajah berbagai lukisan tato wanita telanjang. Bermulut kotor bak comberan dan aksinya menuai kutukan dan sumpah serapah awam yang berpapasan. Rasanya tak ada kebaikan yang mau melekat sejengkal pun pada tubuh kotornya.

Setiap hari bertambah-tambah kinerja keburukannya. Dari mencuri sepeda anak tetangga, tabung gas dapur umum, sampai mencuri ban mobil yang diparkir di halaman rumah pemiliknya. Sore ini Bang Jury dikejar massa karena ketahuan mengintip wanita yang sedang mandi.

Berjuang agar nyawanya selamat dari amukan massa, dia masuk berlindung di masjid yang sedang ada kegiatan perbaikan jaringan listrik yang korsleting. Menyamarkan kehadirannya berlagak membetulkan listrik yang padam. Bang Jury terpental kena sengatan kabel telanjang. Nyaris terjadi kecelakaan jiwa. Beruntung Pak Ustaz diberi ketenangan menyelamatkannya tanpa terkena sengatan listrik. Bang Jury takjub. ”Tidak kena sengatan kabel telanjang karena menjaga diri tidak tersengat cewek telanjang,” tutur Pak Ustaz lembut sembari tersenyum penuh kedamaian dan mengaurakan keamanan. Pak Ustaz pun menyembunyikan rahasia. Sesungguhnya Pak Ustaz hanya karena sesegeranya menarik kabel positifnya saja. Yang membuka benteng pertahanan Bang Jury adalah kalimat Pak Ustaz bertenaga menampar dan membuka samaran Bang Jury.

Makassar, September 2023
Editor:Chamim Rosyidi

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.