artikel

Terpaksa Bikin Jus dan Bubur Duren

Anda suka duren atau durian? Saya tidak, jika harus dimakan langsung. Oleh karena itu, ketika akan diberi oleh-oleh duren saya dengan halus menolak, tentu disertai kalimat.

“Jika dimasukkan ke kopi, dibikin jus, atau dibubur, saya baru bisa makan duren. Kalau langsung dari buahnya yang dibelah, wah, saya tidak suka, Pak.”

Teman saya terus memaksa sehingga dua buah duren ukuran sedang harus saya bawa pulang. Bisa ditebak, jika sampai di rumah akan disambut kalimat.

“Makanlah sendiri …!”

Jika kalimat itu tidak keluar dari istri, kalimat itu bakal keluar dari satu-satunya anak yang masih di rumah, si Bungsu.

Buah Duren/Durian (Dok. Susanto)

Aku dan anggota keluargaku tidak ada satu pun yang suka duren. Baik buahnya yang masak, maupun olahannya termasuk jus, bubur, apalagi untuk campuran kopi hitam. Buah berduri yang banyak disukai teman-temanku itu, tidak disukai oleh istri dan anak-anakku.

Padahal, tiga di antara anakku itu dari lahir hingga tahun 2006 tinggal di dusun pedalaman. Daerah yang pada saat itu hanya bisa dijangkau dengan kendaraan sungai: perahu ketek atau perahu cepat.

Dusun Batu Kucing, salah satu desa yang berada di tepi Sungai Rawas, Sumatera Selatan, adalah desa penghasil buah hutan bernama durian itu.

Pada bulan September hingga Desember, saatnya para keluarga bergantian menunggu durian masak jatuh. Pohon durian yang mereka tunggu itu adalah pohon yang ditanam kakek buyut mereka dan umurnya sudah puluhan tahun. Mungkin ada yang sudah ratusan tahun.

Murid-murid di kelasku pada saat itu pun tidak luput dari kegiatan rutin tahunan itu. Hingga ….

“Pak, izin, besok nak ngadang dian,” kata anak-anak. Mereka meminta izin bahwa besok ia akan menunggu pohon durian dan yang harus menemani orang tuanya memungut durian masak yang jatuh. Biasanya mereka pergi pada petang hari, menginap di kebun duren, dan pulang keesokan hari.

Jika keluarga itu mendapat rezeki sehingga pulang ke dusun membawa beberapa puluh butir duren, aku pasti mendapat hadiah, satu hingga dua butir.

Membuat Bubur

Duren pemberian orang tua murid pun aku kumpulkan. Duren itu tidak segera kumakan. Sebab, aku dan anggota keluargaku memang tidak ada yang suka durian.

Sementara, jika kuhidangkan di atas meja, tamu yang berkunjung tidak mau memakannya dengan alasan bakal ‘busuk siku’ (bali gondok, dalam bahasa Jawa daerah Gombong, Kebumen). Ya, mereka pantang memakan sesuatu yang sudah diberikan.

Satu per satu durian itu pun kubelah. Aku siapkan santan, lalu kurebus. Sebelum santan mendidih, biji duren dengan salut buahnya yang rata-rata tebal, kumasukkan ke dalam panci berisi santan. Sedikit gula dan garam kumasukkan ke dalamnya. Jika ada tepung beras ketan aku ambil beberapa sendok makan lalu kuaduk-aduk hingga matang.

Aroma khas buah berduri itu pun menguar ke seluruh ruangan. Setelah matang, bubur duren itu aku nikmati, sendiri.

Bubur Duren Buatanku (Dok. Susanto)

Sebagian buah itu aku jadikan es durian. Biji durian kupisahkan salut buahnya, lalu kumasukkan ke dalam mesin blender. Tidak lupa menambah balok-balok kecil es batu, lalu serr … blender berputar dan melumat es durian yang tidak begitu manis karena tidak kutambah gula.

Siapa yang menikmati es duren? Lagi-lagi aku sendiri.

Membuat Tempoyak

Kembali ke cerita masa lalu, bagaimana sisa buah durian yang tidak mungkin aku buat menjadi bubur. Tidak mungkin akau makan bubur durian setiap hari.

Dibantu anak-anak kelas 6, sisa durian yang ada, dibelah dan dikupas salut buahnya. Biji durian direbus dan dimakan lagi. Sementara salut buah duren dimasukkan ke dalam ‘gelok’ (sebutan untuk setoples plastik wadah permen). Kami tambahkan sedikit garam lalu ditutup rapat dan dibiarkan selama lebih kurang seminggu.

Seminggu sudah berlalu, fermentasi duren pun sudah jadi. ‘Jeruk atau jerup’ alias tempoyak sudah jadi. Tercium aroma masam dengan sedikit rasa manis.

Ayuk, jeruk kami dem jadi. Masaknyo cak mano?”

Aku bertanya kepada kakak angkat bahwa tempoyak kami sudah jadi. Lalu aku pun bertanya bagaimana cara memasaknya.

Pirik cabai, garam, dan kunyit. Tidak usah njuk bawang. Masak banyu duo gelas ke dalam kuali. Masukkan bumbu, dem tu njuk duo atau tigo sudu jeruk ke dalamnyo tunggu hingga mendidih. Njuk gulo abang atau gulo pasir secukupnyo.”

Terjemahan bebasnya, “Ulek cabai, garam, dan kunyit. Tidak usah diberi bawang. Masaklah air dua gelas ke dalam wajan. Masukkan bumbu, lalu berilah dua atau tiga sendok tempoyak ke dalamnya, tunggu hingga mendidih. Beri gula merah atau gula pasir secukupnya.”

Setelah kuah di dalam wajan mendidih, potongan ikan segar aku masukkan ke dalamnya. Tunggu hingga matang.

Setelah matang, kami pun menikmati masakan yang caranya aku dapat dari kakak angkat. Untuk pertama kali setelah enam tahun meninggalkan tanah Jawa, aku menikmati masakan yang “aneh”.

Aku lihat, istri makan dengan lahap, anak pun demikian.

“Nah, ini aneh. Buah duren masak mereka tidak doyan, fermentasi duren dengan sensasi rasa asam, mereka lahap sekali makan. Sejak itulah, kami sekeluarga menyukai tempoyak dan aneka ikan yang dimasak gulai tempoyak. Nyam!***

Musi Rawas 13 September 2023
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.