Peran Strategis PGRI Kecamatan Tugumulyo Tingkatkan Profesionalisme dan Kesejahteraan

Perkumpulan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Kabupaten Musi Rawas menghadapi tantangan sekaligus peluang besar untuk mentransformasi mutu pendidikan dan kesejahteraan guru di daerah. Berlandaskan pada prinsip organisasi yang melayani (pelayan), PGRI Musi Rawas memegang peran krusial sebagai mitra pemerintah, benteng perlindungan, dan lokomotif peningkatan profesionalisme guru.
Keseriusan PGRI Musi Rawas dalam menjalankan fungsinya, sebagaimana tercermin dalam orientasi pengurus kabupaten, akan sangat menentukan martabat guru di mata masyarakat dan pemerintah, yang mana hal ini sangat bergantung pada bagaimana pengurus kecamatan menginisiasi kegiatan demi kepentingan guru.
Selesai penyampaian materi orientasi dari Pengurus Kabupaten Musi Rawas, Ibu EcHa Sriyanti, PC PGRI Kecamatan Tugumulyo melakukan ramah tamah dan mendiskusikan 3 hal, sebelum menyusun program kerja organisasi lima tahun ke depan. Ketiga hal tersebut adalah: 1) Peningkatan profesionalisme dan kepemimpinan guru melalui kemitraan akademik, 2) menyuarakan kesejahteraan dan melawan stigma negatif, dan 3) optimalisasi perlindungan hukum dan transparansi organisasi.
Peningkatan Profesionalisme dan Kepemimpinan Guru Melalui Kemitraan Akademik
Tujuan utama PGRI, yaitu meningkatkan profesionalisme dan perlindungan guru, memerlukan pendekatan yang sistematis dan berbasis data (empiris). Dalam konteks Musi Rawas, pengurus menyadari adanya ketidakmerataan kompetensi, terutama di kalangan guru senior yang belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi. Mereka memerlukan dukungan dan perhatian khusus agar guru muda merangkul rekan seniornya untuk mencapai kapabilitas yang setara.
Untuk mengatasi kesenjangan kompetensi dan menjawab tantangan profesionalisme, PGRI Cabang Tugumulyo mengusulkan kepada PGRI Kabupaten Musi Rawasmengambil langkah strategis dengan menggandeng lembaga akademik. Kerja sama dengan UNPARI (Perguruan Tinggi PGRI setempat) dicanangkan sebagai poros penguatan. UNPARI tidak hanya diharapkan menjadi narasumber yang meningkatkan wawasan, tetapi juga menjadi pendamping independen dalam melakukan survey dan pemetaan kondisi guru terkait kesejahteraan, kompetensi, dan kondisi murid. Survey ini bertujuan untuk menghasilkan data otentik dan ilmiah guna menetapkan standar dan ukuran yang jelas mengenai kondisi guru. Dari data ini dapat diidentifikasi secara tepat, misalnya kasus anak kelas 5 atau 6 yang belum bisa membaca, usulan solusi serta rekomendasi yang tepat dapat dirumuskan secara logis. Pendekatan ini merupakan esensi dari pengembangan kaderisasi dan kepemimpinan yang berintegritas.
Menyuarakan Kesejahteraan dan Melawan Stigma Negatif
Isu kesejahteraan seringkali menjadi objek protes guru, menciptakan stigma kurang positif terhadap PGRI yang dianggap jarang mendiskusikan masalah ini. PGRI Kecamatan Tugumulyo memandang bahwa yang wajib menyuarakan kesejahteraan bukanlah guru itu sendiri, melainkan pengurus harian yang memang bertugas melayani anggota. Kesejahteraan yang dipersoalkan seringkali berpusat pada waktu kerja, gaji, dan tunjangan guru ASN.
Tentang program kerja, PC PGRI Kecamatan Tugumulyo masih menunggu Konferensi Kerja PGRI Kabupaten agar program yang disusun sejalan dengan PGRI tingkat di atasnya.***
Musi Rawas, 14 Desember 2025