bahasa

PTMT Gagal Maning, Son!

Gambar: AISEI

 

Pembelajaran tatap muka meskipun terbatas, pada minggu pertama tidak kami lakukan. Kami patuhi dan laksanakan anjuran pemerintah daerah untuk melaksanakan pembelajaran daring. Karena keterbatasan infrastruktur, tiga aplikasi yang saya gunakan adalah Whatsapp, blog, dan Youtube.

Risiko terbesar menggunakan Whatsapp adalah menyempitnya ruang penyimpanan internal ponsel android saya. Belum lagi banyaknya grup yang saya ikuti. Para anggotanya seolah “jor-joran” mengirim gambar untuk mempromosikan hasil karyanya, video, maupun stiker yang mereka miliki. Bagi saya hal itu bukan menjadi penghalang apalagi menjadi bahan keluhan hingga akhirnya keluar grup dengan alasan “WA tumbang”.

Secara berkala saya bersihkan gambar, video, dan chache aplikasi. Tidak jarang saya memindahkan berkas-berkas yang saya anggap penting di telepon ke dalam ruang penyimpanan laptop atau pada hardisk eksternal. Biasanya, setelah saya lakukan itu, ruang penyimpanan di telepon pun semakin lega.

Jadi, swafoto sebagai bukti sedang belajar dan presensi anak yang dikirimkan melalui Whatsapp tidak saya anggap sebagai berkas yang membebani, bahkan mengasyikkan. Toh bisa saya kelola dan pindahkan ke media penyimpanan lainnya. Itu saja sebagian kecil masih ada yang mengirimkan foto jauh di luar jam belajar pagi. Kadang sore, bahkan malam mereka baru mengirimkan bukti ia sedang belajar.

Jam Belajar dari Rumah

Berkaca dari kegiatan WFH anak saya, si Bagus, saya menerapkan jam belajar wajib. Jika si Bagus wajib bekerja di depan laptopnya 7,5 jam sehari maka anak-anak, peserta didik saya, saya wajibkan belajar daring dari jam 08.00 sampai 11.00 setiap harinya. Kecuali karena sesuatu hal mereka harus membantu orang tuanya, saya persilakan mengganti jam belajarnya pada kesempatan lain pada hari itu.

Pada waktu malam, mereka saya persilakan untuk membaca kembali atau mengerjakan tugas yang belum selesai dikerjakan. Hal ini saya lakukan bukan tanpa alasan. Pada jam-jam belajar (jika mereka tatap muka di sekolah), sebagian anak bermain, bersepeda, berjalan-jalan, seolah mereka tidak ada kewajiban belajar. Jika ditanya, dengan ringan mereka menjawab, tugas nanti saja dikerjakan sore atau malam.

Untuk memenuhi jam belajar wajib pukul 08.00 sampai dengan 11.00 siang, saya membuat materi yang lebih kurang selesai dibaca atau dikerjakan dalam rentang waktu tersebut. Waktu sesudah Dzuhur hingga menjelang Maghrib dapat mereka gunakan untuk membantu orang tua, bermain, mengaji, atau kegiatan lain yang bukan kegiatan kurikuler. Pada malam hari, meskipun tidak BdR pun memang waktu mereka untuk belajar, bukan? Mereka wajib mengulang pelajaran atau mengerjakan tugas yang belum terselesaikan. Saya berharap, pola ini tidak memberatkan mereka. Sehingga protes wali murid yang mengatakan bahwa anaknya terlalu banyak tugas, sebagaimana dialami teman saya, tidak terjadi.

Drama Daring dan PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas)

Dalam hidup, sesuatu yang terjadi kadang tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Demikian pula strategi pembelajaran pada awal tahun pelajaran ini tidak berjalan mulus seratus persen. Tidak jarang “drama” kerap dipertontonkan anak-anak kelas 6 saya yang mulai memasuki masa pubertas.

Beberapa “drama” yang terjadi, misalnya gambar swafoto yang dikirimkan ternyata bukan sedang menulis materi pelajaran. Ketika saya zoom in atau gambar saya perbesar, terlihat bahwa tulisan pada buku sama sekali bukan materi pelajaran yang saya kirimkan. Ha ha ha …, rupanya ia hanya berakting saja.

Drama lainnya misalnya, ada anak yang mengumpulkan pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan dalam waktu dua jam di waktu pagi (waktu wajib) ia kirimkan pada waktu malam, bahkan menjelang saya berangkat tidur. Disertai ucapan: “Maaf, Pak. Telat ngirim karena tadi saya juga mengerjakan pelajaran agama.” Belum lagi alasan tidak tahu pengumuman di grup, paket data habis, hape dibawa orang tua, dan beberapa alasan lain yang masuk akal dengan harapan dimaklumi.

Saya pantau kegiatan anak-anak, para peserta didik saya dengan mencatat siswa yang mengirimkan foto untuk presensi, catatan yang sudah dikerjakan, atau tugas yang sudah dikerjakan. Keterlambatan yang disertai “drama” tetap bisa saya maklumi dan tetap saya catat pada buku catatan pengumpulan tugas. Buku itu untuk membantu saya mengidentifikasi para peserta didik yang sudah atau belum menyelesaikan tanggung jawabnya. Buku catatan itu pun dapat saya gunakan sebagai alat kontrol dan sebagai dasar untuk memberikan pembinaan atau untuk melaporkannya kepada orang tua yang bersangkutan.

Keterlambatan mengumpulkan tugas sebagai bukti penilaian sikap tanggung jawab, seperti yang saya ceritakan di atas tidak membuat emosi saya meledak. Tidak pula membuat tensi darah membubung tinggi. Namua ada satu hal yang membuat saya gusar.

PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) Gagal Maning, Son!

Tidak semua peserta didik mengirimkan tugasnya berupa foto buku yang memuat tulisannya.

Ada beberapa anak yang tidak mengirimkan. Untuk mengetahui hal itu, saya minta mereka datang ke sekolah untuk menunjukkan pekerjaannya kepada saya. Syaratnya, mereka sehat, memakai masker, dan mencuci tangan sebelum masuk kelas dan menunjukkan pekerjaannya. Namun, apa yang terjadi? Tetap saja pekerjaan yang sudah dua hari lalu belum ada bekasnya, apalagi tulisan pada hari ini.

Sebagai manusia biasa, saya pun meradang. Untunglah, saya bisa menguasai diri dan hanya bisa memberi nasihat.

“Jika kalian tidak mengerjakan, nanti pekerjaan akan menumpuk. Satu halaman kalian tinggalkan, nanti akan menjadi dua halaman yang harus kalian kerjakan keesokan harinya. Berat sekali itu.”

Hal yang “menjengkelkan” adalah mereka tidak bisa memberikan alasan tidak mengerjakan tugas. Lain halnya dengan para “pemain drama” di atas. Ada saja alasannya. Bisa jadi mereka takut ketika saya tanya langsung. Namun, pertanyaan yang sama di WA pun tidak juga ia jawab. Oh, Tuhanku.

Berdasarkan pengalaman tersebut, maka pada hari Senin saya merencanakan bertemu dengan anak-anak secara bergantian. Anak-anak dengan nomor absen 1 hingga 18 masuk pagi, sedangkan pemilik nomor absen 19 hingga 36 berangkat pukul sepuluh.

Pada hari itu, saya tidak akan melakukan pembelajaran tatap muka terbatas karena masih belum diperbolehkan. Tetapi, saya hanya ingin memberikan pengantar dan petunjuk secara langsung cara belajar daring yang selama ini kami lakukan. Itu pun tidak akan memakan waktu yang lama.

Apa lacur. Saya mendengar kabar bahwa ada warga di sekitar sekolah yang berturut-turut meninggal dan rumahnya berdekatan. Disinyalir mereka meninggal akibat terpapar “C-19”. Keinginan saya pun pupus untuk bertemu dengan anak-anak. Lebih baik mencegah dan menahan diri daripada nanti ada “apa-apa” di kemudian hari. Saya pun kembali menggunakan blog untuk mendampingi mereka belajar daring. PTMT, gagal maning, Son! 

 

#PTM, #pembelajarantatapmuka, #sukadukaPTM, #Juli2021Challenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

12 thoughts on “PTMT Gagal Maning, Son!

  • Terima kasih untuk sahabat semua yang sudah berkunjung dan berkomentar.

  • Mudah-mudahan pandemi berakhir kita bisa belajar tatap muka …. aamiin… (uda jenuh daring)

  • Semoga Pandemi cepat berakhir dan sekolah kembali normal

  • Guru yang menjadi roll model saya nih…
    Sehat selalu Pak D…

  • Keren… Master, trimks share tulisannya. Pasti semua guru kecewa PTM batal. Betul sekali …enak mengajar kelas tinggi. Bisa diajak belajar. Sedangkan emak guru kelas 1 +2 Sd susah orang tua diajak belajar ke google classroom dll. Baru pertemuan dg kepala sekolah. Waktu pembukaan MPLS hr ke 1 pakai google meet banyak keluar masuk. Puyeng…

  • Sehat selalu pakDe Santo
    dan terus berbagi
    Semoga jd sodaqoh jariyah
    Aamiin

  • Banyak hal yang manjadi alasan mereka untuk terlambat mengirim tugas Pak D.. . Itu sudah alhamdulikah ada yang sana sekali tak ada kabar tak ada pemberitauan sana sekali keberadaannya.. Akhir pihak sekolah mencari tau keadaan siswa tersebut. Dan akhirnya di ketahui. Bahwa siswa dan kelyarganya sudah tidak punya hp lagi.. Anehnya mereka tak berusaha mencari tau apa tugas yang harus di laksanakan.. Ya rabb…

  • Keterbatasan kuota & Hp siswa menjadi kendala Daring…

  • Begitulah fenomena PJJ, bnyk anak yg sudah pintar akting dalam episode drama belajar daring.

  • omjay salut dengan apa yang dilakukan pakde susanto, semoga dibaca oleh para penentu kebijakan, mohon izin saya copas kisahnya untuk buku terbaru omjay, terima kasih.

  • Terima kasih itu potet PTMT atau Daring juga terjadi dmn2. Termasih anak didik sy. Ya…sabar maneng…semoga tatap muka sgt dimula.buar tidaK melelahkan guru, orang tua dan anak didik.

Comments are closed.