Ramadhan dan Ramadan, Transkripsi atau Transliterasi

Pak D, gimana dong nulis kata “ramadhan” yang benar, pakai dh tidak? Pertanyaan ini kayak ibu-ibu nanya, nulis bhinneka pakai BH apa nggak? Waduh, memang saya si Kakek Segala Tahu, tempat bertanya dan curhat Wiro Sableng di cersil 212?
Apakah saya harus menjawab, dua-duanya nggak salah, yang salah yang nggak nulis? Ha ha … itu sih kaya jawaban guru ngaji waktu ditanya salat Subuh pake qunut apa nggak. Atau saya jawab saja, punya HP diisi paket, jadi bisa buka KBBI daring! Ups, malah bikin sakit hati, ya! Makanya, yuk kita tahu jawaban yang benar.

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 158 Th.1987 dan Nomor 0543b/U/1987 huruf konsonan
nama dalam bahasa Arab Dad (dengan titik di bawah huruf /D/) dilambangkan /d/ (dengan titik di bawah) dan nama dalam bahasa Indonesia “de” (dengan titik di bawah).
![]()
Ramadhan atau Ramadan
Huruf cetak /d/ dengan tanda titik di bawahnya sebagai transliterasi dari
sulit ditulis menggunakan tombol mesin tik manual maupun elektronik seperti pada laptop atau PC. Barangkali karena alasan ini penulisan Ramadan yang mestinya ada tanda titik di bawahnya ditulis Ramadan. Oleh karena itu, jika kita membuka KBBI akan terlihat di sana penjelasan: Ramadan/Ra·ma·dan/ n bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.
Dalam masyarakat, terutama untuk membantu awam yang belum bisa membaca kitab Alquran (bentuk baku dari Al Qur’an) dalam tulisan Arab, sering digunakan metode transkripsi. Transkripsi yaitu pengalihan tuturan (yang berujud bunyi) ke dalam bentuk tulisan atau penulisan kata, kalimat, atau teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi.
dibaca /dhod/ dan jika diberi harakat fathah dibaca /dho/.
Meskipun tidak ditulis “ro” masyarakat muslim Indonesia akan membunyikan Ra dengan /Ro/ sehingga tidak heran jika sering kita dapati tulisan
ditranskripsikan menjadi Ramadhan.
Dari kenyataan di atas, terdapat dua versi penulisan (lihat gambar ilustrasi di atas). Yang satu menulis Ramadhan /Ra-ma-dhan/ dan satunya lagi Ramadan /ra-ma-dan/.
Kembali ke pertanyaan di WA tentang cara menuliskan kata “ramadhan” yang benar, pakai dh atau tidak. Saya tegas menjawab. Dalam situasi resmi penggunaan kata baku yang baik dan benar sesuai dengan kaidah ejaan Bahasa Indonesia mutlak dipatuhi. Maka dalam teks-teks resmi atau yang dikeluarkam oleh lembaga resmi pemerintah harus ditulis Ramadan.
Meskipun demikian, Anda pun tidak keliru jika menulis Ramadhan bukan untuk teks resmi dan dengan alasan untuk membedakan transkripsi dengan huruf berikut.

Wallahualam.

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com
Selalu mencerahkan. Makasih Pak D
Saya menjadi tahu kalau menurut KBI harus ditulis Ramadan, Terima kasih pak D…
Informasi sekali, Pak D. Terima kasih telah berbagi.
Terima kasih koreksinya dan infonya. Mencoba beralih ke bulan Ramadan.
Keren… Master Susanto, trimks share tata bahasa yg apik. Betul sekali emak kadang2 suka salah menulis kata yg sesuai KBBI
Kan bukan situasi resmi, nggak papa.
Wah ternyata saya termasuk yg salah menulis kata Ramadan pak De