artikel

Reading Aloud, Guru atau Siswa?

Pada waktu kecil, saya senang menonton siaran warta berita, terutama Dunia dalam Berita. Stasiun televisi apa itu? Tentu saja TVRI, Televisi Republik Indonesia. Menontonnya di rumah tetangga. Maklum, keluarga kami belum memiliki media audio visual itu. Ya, kala itu masih sangat sedikit orang yang memiliki pesawat televisi.

Yasir Denhas, Tuti Aditama, Anita Rachman, dan Yan Partawijaya adalah nama-nama pembaca berita yang saya hapal dan kenali suaranya. Kadang terobsesi ingin seperti mereka. Catatan pelajaran dari guru pun saya baca dengan keras dengan meniru intonasi mereka membacakan berita. Anehnya, saya mudah mengingat apa yang saya pelajari. Pada saat itu belajar dengan membaca keras sangat lazim. Di kelas pun, saya sering diminta guru untuk membacakan beberapa paragraf, sebelum guru menjelaskan. Membaca dengan suara keras atau membaca nyaring (reading aloud) pada saat itu sangat menyenangkan dan saya nikmati.

Membaca Nyaring di Kelas

youtube.com

Menurut pegiat membaca nyaring, Roosie Setiawan, kebiasaan membacakan nyaring baik dimulai sejak masa kanak-kanak. Jadi, orang tua yang membacakan nyaring untuk anak-anaknya. Menurutnya, metode membaca nyaring merupakan metode pengenalan membaca yang paling efektif. Semua unsur yang dibutuhkan untuk membaca ada di dalamnya: artikulasi, pengenalan huruf, bunyi, intonasi, dan maksud sebuah kata.

Menurutnya pula, membaca nyaring itu menambah pengetahuan anak, mempererat hubungan orang tua dengan anak, dan menambah diksi baru bagi anak. Bukankah diksi atau kosakata merupakan modal dalam berbahasa dan berkomunikasi?

Di sekolah dasar, pengganti orang tua adalah guru. Guru yang membacakan nyaring siswa-siswinya. Oleh karena itu, guru kelas satu dan seterusnya membiasakan dirinya membacakan nyaring para siswanya. Membaca nyaring dalam konteks materi pembelajaran, maupun dalam rangka merangsang anak agar suka membaca.

Dalam membacakan nyaring, para guru memperhatikan beberapa hal berikut ini.

  1. Membaca nyaring dan jeda untuk bertanya,
  2. Membaca nyaring pada setiap subjek atau muatan pembelajaran,
  3. Mengembangkan komunitas membaca yang sportif

Membaca nyaring dan jeda untuk bertanya, dilakukan guru ketika ia membacakan nyaring menemukan istilah yang membuat bingung siswa. Dapat juga dilakukan ketika seorang tokoh melakukan sesuatu. Jeda atau berhenti sejenak dilakukan untuk mengajukan pertanyaan kepada siswa. Siswa diajak mendiskusikan alur cerita, tema, atau menyebutkan karakter tokoh. Setelah itu, membaca nyaring dilanjutkan.

Membaca nyaring pada setiap subjek atau muatan pembelajaran. Maksudnya, membacakan nyaring tidak terbatas pada pembelajaran bahasa. Namun, membaca nyaring dilakukan pada seluruh muatan pembelajaran yang dikemas dalam tema-tema. Melalui membaca nyaring, siswa menemukan istilah atau konsep yang sudah diketahui sebelumnya. Selain itu, siswa akan menemukan istilah atau konsep yang baru.

Mengembangkan komunitas membaca yang sportif, maksudnya guru memberi kesempatan kepada siswa memilih sebuah buku lalu guru membacakannya. Pada kesempatan lain, siswa yang lainnya lagi memilih buku yang disukainya.

Reading Aloud (Membaca Nyaring), Guru atau Siswa?

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa, guru adalah pengganti orang tua. Di rumah, orang tua yang berperan sebagai pembaca nyaring bagi putera-puterinya. Di sekolah peran tersebut diambil alih oleh guru.

Pada kelas-kelas rendah, guru menjadi contoh dan menjadi pembaca nyaring yang baik bagi siswanya. Sedangkan pada kelas-kelas tinggi, perwakilan siswa dapat diminta untuk membacakan nyaring sebuah teks untuk teman-temannya.

Jika siswa yang membacakan nyaring, guru tetap memerhatikan artikulasi dan intonasi yang jelas. Dengan demikian, teman-temannya dapat dengan tepat memahami arti kata-kata yang dibacanya.

Jika guru yang membacakan cerita, ia melafalkan kata dan bunyi dengan jelas. Guru mengekspresikan intonasi sedih, senang, kecewa, dan marah dengan tepat. Jika itu dilakukan, diharapkan anak bertambah kosa katanya dan mampu mengekspresikan perasaannya. Wallahu a’lam.

Bahan bacaan:

Sumber 1

Sumber 2

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

35 thoughts on “Reading Aloud, Guru atau Siswa?

  • Iya, ya. Apalagi pembelajaran bahasa asing.

  • Wah ini juga masih belum bagus, kok.

  • Terima kasih kunjungan dan komentarnya, Pak.

  • Wow, hebat sekali. Terima kasih sudah berbagi, Bu.

  • Betul sekali, membaca dengan membaca nyaring hasilnya akan sangat berbeda. Pembiasaan yang saya lakukan kepada siswa dan guru adalah setiap hari pada Minggu 2 siswa harus membaca 15 menit dengan nyaring.sebelum belajar Dan pada Minggu ke 3 guru bercerita kepada siswa dengan menggunakan intonasi dan mimik yg baik dan benar

  • Terima kasih ilmu nya pak Guruku.sangatbbermanfaat bagi saya sebagai guru bahasa asing.

  • Ditta Widya Utami

    Wah jadi semangat lagi membaca nyaring bareng Fatih (anak saya).

  • Setuju pak…
    Dengan membaca nyaring, terutama anak-anak kelas rendah seperti kelas 1 misalnya. Banyak kosa kata yang belum mereka pahami. Jadi, dengan guru membaca nyaring. Menambah pemahaman anak-anak tentang kosa kata.
    Terima kasih pak D mantap..

  • Mantap Pak D. Saya sangat terbantu dengan artikel ini karena saya guru bahasa. Tidak beda jauh, walaupun saya mengajar di level SMP dan SMA, tetap saja siswa membutuhkan untuk dibacakan nyaring oleh guru, untuk memastikan pelafalan/pronunciation yang tepat. Ada juga siswa yang style belajarnya dengan audiolingual. Jadi membaca nyaring di level atas pun kadang masih dibutuhkan. Setuju banget dengan artikel Pak D Sus.

  • Enak banget bacanya, kata2nya runut saya jadi malu lihat hasil tulisan sendiri.

  • Jangan sampai lupa. Guru juga harus literasi. Jangan siswa aja. Begitu juga read aloud. Guru juga membaca nyaring. Jangan siswa aja. Hehe

  • Terima kasih sudah berbagi ilmunya Pak D

  • Terima kasih Pak D, jd tmbh ilmu. Sy terpikat dg uraian kalimatnya. Mantap…Sy blm bs menulis sprti ini

  • Kalau di bahasa Inggris saya wajib membaca nyaring karena beda tulisan beda bacanya. Kalau di rumah wajib baca cerita jelang tidur anak. Setuju, tidak hanya merekatkan hubungan antara orang tua dan anak juga memunculkan sifat kritis anak.

  • Saya selalu meminta anak untuk membaca nyaring saat mengaji. Namun keras tidaknya suara anak trgantung dari rasa percaya dirinya. Kalau PDnya besaranak cenderung membaca denga keras. Sebaliknya jika anak memiliki PD nya lemah maka akan cenderung membaca dengan lirih

  • Sangat setuju…..karena kalau tidak.dibiasakan membaca nyaring…..pasti ada siswa yang lolos di kelas tinggi dengan membaca gagap…..
    Bagus uraiannya menambah wawasan

  • Begitulah, maka membaca nyarong masih sangat rekevan.

  • Saya sering menggunakan metode ini Pak D.
    Membaca nyaring dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa. Apalagi sekarang zaman gawai, kebanyakan siswa menjadi malu saat membaca dengan mengeluarkan suara yang agak besar.

  • Siap membaca nyaring untuk anak-anak. Terimakasih Pak D .semangat untuk BW di Senin BW lagerunal. Jozz Pak D yng pertama posting .

  • Mantap Pak D. Jadi nambah ilmu tentang membaca nyaring nih

Comments are closed.