
Sahabat, Keponakan, dan Teman Blogger
Cuaca di atas langit Kota Banjarnegara pada hari Rabu, 29 Juni 2022 sangat cerah. Saya bersama istri baru saja kembali dari rumah Bu De. Bu De, kakak tertua ibu saya, tinggal di Pungkuran, Gayam sebelah utara alun-alun Kuta Banjar, Banjarnegara.
Setelah mengambil gambar di dekat patung keranjang Dawet Ayu, dua gelas es dawet asli Banjarnegara menjadi pengobat rasa dahaga akibat berpanas ria di tepi selatan alun-alun kota dengan slogan Gilar-Gilar itu.

Kami tidak berduaan saja. Ada satu orang sahabat dari Kabupaten Musi Rawas, anggota Paguyuban Republik Ngapak, yang juga pulang ke desa kelahirannya. Makanya, kami janjian untuk bertemu di alun-alun kota dan diajaknya berkunjung ke rumah orang tuanya di daerah Sigaluh, tepatnya di Singamerta.
“Mobil sampeyan ditinggal di bawah saja. Karena jalan menuju ke rumah sangat ekstrem,” kata Mas Amin.
Si Hitam pun parkir di dekat depot air minum. Tentu saja, sahabat saya sudah menitipkan kepada teman atau saudaranya bahwa ada mobil saya di sana. Selanjutnya, kami menumpang mobilnya yang juga berwarna hitam, Toyota Inova.

Sekitar sepuluh meter, kami pun berbelok menuju jalan kecil yang menanjak. Wow! Mas Amin memakai gigi satu agar mobilnya merangkak naik. Sungguh mengerikan. Betapa tidak? Tidak lebih dari satu jengkal di sebelah kiri jalan adalah jurang. Bagaimana jika tergelincir?

Sampai di Rumah Kang Amin
Lega sekali setelah sampai di rumah Mas Amin.
“Di rumah ini, aku dilahirkan, Kang,” kata Mas Amin.
Kami berdua hanya mengangguk-angguk. Takjub dan membayangkan keadaan 40 atau 50 tahun lalu.
Tuan rumah menyuguh kami dengan kudapan khas: arem-arem dan tahu pong, pastel basah, kopi hitam, dan … durian. Saya tidak suka makan durian, tetapi bolehlah ambil satu biji dan kucemplungkan ke dalam air kopi.
Sambil mengobrol, saya melihat pemandangan di luar rumah. Jalan menurun curam ke kiri dan jalan menanjak ekstrem ke arah kanan. Pohon durian dan pohon-pohon besar lainnya memadati tanah di sekeliling desa.

Menuju ke Madukara
Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke tempat keponakan. Ada anak kakak ipar yang berumah tangga dengan pemuda dari Madukara. Ah, Madukara kan tempatnya tokoh pewayangan “Panengah Pandawa”, Raden Harjuna atau Raden Janaka yang konon terkenal sangat tampan? Ya, namanya sama atau dibuat sama dengan itu. Apakah karena para pemuda di sana tampan-tampan? Entahlah, yang jelas suami Wiwi, keponakan saya, memang tampan. Beda tipis dengan saya, tetapi sana lebih tebal, ha ha ha …. Setidaknya itu menurutku, konon lagi menurut keponakanku yang berparas cantik.
Tidak lebih dari seperempat jam, kami sampai ke kampung Pekauman, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Mas Amin dan istrinya mengantarkan kami. Keponakan pun menyambut di depan masjid, di samping jalan masuk ke rumahnya. Sampai di rumah, Haji Ahmad menyambut kami dengan ramah. Tidak lama kemudian, Bu Hajah pulang dari masjid dan beramah-tamah.

Haji Ahmad, orang tua mantu keponakan sudah cukup uzur. Namun, pada usia 79 tahun beliau masih memiliki ingatan dan daya pikir yang sangat baik. Kekakuan pertemuan terkesan formal pada awal pertemuan, lama-kelamaan mencair penuh keakraban. Usia beliau jauh di atas usia almarhum orang tua saya. Meskipun sebagai besan, namun saya lebih menyukai dianggap layaknya anak.
“Silaturahmi itu, akan membuat kita sehat, panjang umur, murah rezeki, dan diampuni sebagian dosa kita oleh Allah SWT,” begitu kata beliau.
Perjalanan Mendebarkan
Hari merangkak senja. Sebelum benar-benar memasuki waktu maghrib, kami memohon diri. Berpamitan dengan keponakan dan cucu. Juga memohon diri untuk pulang kepada Haji Ahmad dan istri beliau.
Pun dengan Mas Amin, kami berpisah. Mereka kembali ke Singamerta, kami menuju Blambangan, Kecamatan Bawang. Ada saudara sepupu di sana, Mbak Ari. Mbak Ari adalah puteri Bude sulung dari pihak ibu yang sebelumnya kami kunjungi. Anggota Persit ini membuka usaha warung makan di depan SPBU Blambangan Bawang. Masakannya enak, pas di lidah orang kebanyakan.

Sambil melepas kangen, saya membuka WA dari teman blogger, Ibu Lely. Kami “saling kenal” belum lama. Namun, karena beliau cukup aktif, kami pun sering berkomunikasi di grup. Kami sama-sama tergabung di grup WA Lagerunal.
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Jadi Tindak Banjar PDhe?
Tindak adalah bahasa Jawa halus untuk kata pergi. Biasanya dipakai untuk orang yang dihormati atau yang belum begitu akrab.
Saya juga mau OTW Punggelan.. Kemarin dikabari cucu lagi lari2 ..kesandung tempat sampah.. jatuh kerungkep menimpa motor parkir.. Gitu aja merengek minta ditengok oleh ninine. Hehee.. Nanti saya serlok .
Kata kerungkep dipakai bu Lely untuk menggantikan kata terjerembab. Ya, kami kan memiliki logat bahasa Jawa yang sama. Jadi, kata-kata yang dipakai sering bercampur dengan istilah bahasa ibu yang sudah kami pahami.
Tidak berapa lama, ia pun membagikan lokasi. Saya membalas. Saya meminta diberi patokan tujuan. Beliau menuliskan sebuah tempat, Balai Desa Petuguran.
Masjid di sebelah warung makan Mbak Ari mengumandangkan azan Maghrib. Kami pun menuju ke masjid untuk beribadah berjamaah. Setelah selesai, kami kembali ke warung, lalu membuka kembali obrolan Whatsapp dengan bu Lely.
Saya tunggu, Pak Dhe. Pulang ke pwt nya lewat jalur wanadadi saja. Ditunggu sangat.
Saya masih ragu karena hari semakin gelap. Saya yakin sampai ke lokasi pasti sudah malam.
“Sudah lewat Maghrib apa nggak papa?” tulis saya di kolom chat.
“Nggak papa,” jawab Bu Lely.
Saya pun berpamitan dengan Mbak Ari dan segera berangkat. Tidak lupa, saya pasang Balai Desa Petuguran sebagai tujuan di Map Google.
Terdengar suara Wanita Pemandu dari aplikasi canggih yang selalu saya pakai jika tempat yang kami tuju belum kami kenal atau hapal.
Mobil melaju perlahan. Sampai di simpang tiga menuju Bendungan Mrica, kami belok ke kanan. Jalan aspal sedikit bergelombang. Setelah melewati pintu masuk menuju waduk, jalan mulai menanjak. Terus saja kami berjalan hingga Wanita Pemandu di Google Map menyuruh kami belok ke kanan.
Terus melaju sejauh lima kilometer.
Dari lampu utama mobil terlihat jalan menanjak. Tanjakan ini, ternyata terus berlanjut.
“Ayah, kesasar tidak kita? Kok nanjak terus?” kata istri sambil memegang paha saya sebelah kiri. Ada getar panik pada ujung jemarinya.
“Yakin saja,” jawab saya menenangkan diri juga dirinya.
Jalan itu bukan hanya menanjak, melainkan juga berkelok-kelok. Sebentar menurun, kemudian menanjak lagi seakan tidak berujung.
Dalam dua ratus meter, tujuan Anda berada di sebelah kiri.
Wanita Pemandu Map kembali memberitahukan bahwa tujuan saya sudah sampai.
Bertemu Teman Blogger
Saya pun memakirkan mobil di halaman masjid. Muadzin baru saja mengumandangkan iqamat. Kami segera menuju ke tempat wudu dan ikut salat berjamaah salat Isya.
Keluar salat berjamaah, saya berkenalan dengan Pak Pur. Istrinya pemilik warung kelontong dekat masjid. Karena sinyal di pegunungan ini susah, Pak Pur menyarankan membeli voucher WiFi di Warung Yudi. Warung Yudi ternyata warung miliknya. Hanya dengan uang 2.000 rupiah saya mendapat nama pengguna dan kata sandi WiFi yang berlaku selama dua jam. Saya pun bisa menghubungi bu Lely dengan mudah.
Ketika kami bertelepon, kulihat seorang ibu berkerudung dengan gamis berwarna pink melambai. Pasti itu bu Lely. Ada kesamaan gerak dengan nada dalam telepon. Saya pun berjalan dengan penuh percaya diri ke arah wanita itu.
“Selamat datang, Pak De, Ibu. Mari, silakan masuk,” sambut Bu Lely ramah. Kami dibawa masuk ke dalam rumah dinas Bidan Desa. Mbak Rina, puteri sulung bu Lely, adalah bidan desa Petuguran sejak tahun 2013.
Saya hampir tidak percaya bahwa saya akhirnya sampai dan bertemu dengan teman yang selama ini hanya saya kenal melalui tulisan dan percakapan di grup WA.
Saya pun dikenalkan dengan suami bu Lely, Pak Trisno, yang masih dalam tahap pemulihan akibat sakit.
Kami berbincang dengan akrab. Jauh dari kesan formal. Bahkan, kami berbincang layaknya teman lama yang baru bersua. Andai saya memiliki persiapan, ingin rasanya menginap. Lalu, keesokan harinya menikmati hawa pegunungan nan segar. Pemandangan hijau di lembah yang memanjakan mata. Serta, jalan berliku sepanjang lima kilometer. Pasti sangat indah sekali.
Di ruang tamu, kami lesehan pada hamparan tikar. Ditemani teh manis hangat dan kudapan khas “mendoan” kami berbicara seputar anak, pengalaman, dan hal-hal ringan lainnya. Dari obtolan itu pula, saya mengetahui bahwa anak bu Lely yang biasa dipanggil Billa, adalah seorang hafidzoh 30 juz. Masya Allah! Ia belum bisa kuliah karena harus menjalani pengabdian selama satu tahun.
Di tengah-tengah obrolan, tidak lupa kami mengambil gambar.

Tidak terasa, jam di gawai sudah menunjukkan pukul 7.49 malam. Saya harus segera pamit karena perjalanan masih cukup jauh. Tadinya kami menduga akan kembali dan turun melalui sisi yang lain. Ternyata, jalan pulang adalah jalur kami datang.
Khawatir kami mengalami kesulitan, Bu Bidan Rina berboncengan dengan adiknya yang hafidzoh berkeras mengantarkan kami dengan motor matic-nya.
Kami berkendara mengikuti laju motor yang demikian lincah menyusuri jalan berliku yang menukik tajam. Sampai di simpang jalan pasar Wanadadi, kami berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih, kami meninggalkan adik beradik yang segera kembali ke rumahnya di atas sana.
Terima kasih, Bu Lely. Ketulusan Anda dan keluarga mengajak kami singgah sangat kami hargai. Terima kasih juga oleh-oleh salaknya, komoditi andalan desa Petuguran Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara.
Purwokerto, 1 Juli 2022
PakDSus
Iya, Ambu.
Aamin, Bu Lely
PdSus… jika mudik lagi.. masakannya saya tambah dengan suweg… kimpul.. dan pala pendem sebangsanya…
Mau original atau dicimplung?
Hehee..
Semoga Alloh meridoi… sekarang maaf – maafan dulu….
Pak D nulis ini dah setahun lalu? Wah, sy ketinggalan ni. Seru sekali ceritanya. Enak dibacanya..
Wiih. Ayo diulangi Pak D..hehe
PakDhe.. PakDhe..
Ceritanya bikin saya gaimana gitu…
Yang pasti terimakasih..
In Sya Alloh jika mudik lagi.. saya masak kluban sama leye.. terus jui.. pete..atau jengkol
Masya Alloh. Barakalloh semuanya..
Wah perjalanan yang mengesankan Pak D. Semoga suatu saat mampir ke Purbalingga Pak. Sehat selalu.
Senangnya baca tulisan Pa D, serasa saya ikut liburan nih.
luar biasa.
Patung nya unik. Hehe
Seru baca cerita pak D. Ovi suka jalan-jalan sendirian ke daerah yang belum pernah Ovi kenal, seru tanya kanan kiri dan sampai tiba kelokasi tujuan adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Apa lagi kalo ketemu orang yang berinteraksi dalam dunia Maya, serasa mimpi.
Hehe malah curhat