Keinginan Adira

Setelah ulangan akhir semester genap, anak-anak tidak belajar lagi di kelas. Mereka secara bergiliran diberi kesempatan oleh guru untuk berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang disukai.
Bagi sebagian siswa ke perpustakaan dan membaca buku bukan hal yang mereka sukai. Namun tidak untuk Adira. Gadis kecil dengan tinggi badan 130 sentimeter itu sangat gemar membaca. Jika orang tuanya ke luar kota, ia selalu diberi oleh-oleh berupa buku bacaan. Buku cerita seri KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) dan novel Harry Potter adalah oleh-oleh yang selalu ia nantikan.
Kali ini ia mengambil buku nonfiksi tentang keindahan pulau Bali dengan berbagai destinasi wisatanya. Sebagian daerah tujuan wisata di Bali sudah ia ketahui dari internet. Ayahnya membantu mencarikan ketika Adira bertanya tentang daerah tujuan wisata di Bali. Oleh karena itu, jika ia ditanya tentang daerah di Indonesia yang ingin dikunjungi, Adira pasti akan menjawab, Bali!
“Baca buku apa, Dira?” tanya Lala sambil mencolek bahu Adira.
“Eh, Lala. Kaget aku,” kata Dira.
“Aku baca buku tentang daerah wisata di Bali. Bagus-bagus. Nih, lihat,” ajak Dira kepada sahabatnya.
“Iya, ya. Bagus. Sayang, aku masih kecil,” tukas Lala.
“Memang kenapa?” tanya Adira.
“Kalau aku sudah besar, aku mau touring ke sana,” jawab Lala.
Kedua anak itu pun tertawa bersama.
“Sebenarnya, ayahku berjanji akan mengajakku ke sana. Tapi, …,” Adira tidak melanjutkan perkataannya.
“Tapi, kenapa, Ra?” tanya Lala penasaran.
“Ayahku di-PHK. Kata ibuku, karena perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar, ayahku ikut diberhentikan. Banyak kok, bukan hanya ayahku saja. Lalu, uang tabungan beliau dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Adira.
“Sabar, Ra. Jika kita berdoa, mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan. Atau, nunggu kita besar dan bekerja, nanti kita ke sana sendirian, ha ha ha …,” jawab Lala.
Suara tawa mereka terdengar cukup keras. Hal itu membuat petugas Perpustakaan menegur mereka agar di ruangan itu mereka tenang.
***
Adira anak yang rajin. Daya ingatnya pun cukup kuat. Tugas menghapal surah An Naba’ dari Bu Atik dapat diselesaikan dengan baik. Hal itu membuat ibu guru agama itu menjadi senang. Ia pun memberi latihan dan tugas untuk menghapal surat-surat lainnya hingga akhir semester genap ini seluruh surat pada Alquran juz 30 sudah dihapalnya.
Pada hari Sabtu lalu, Bu Atik masuk ke kelas lima.
“Anak-anak, setelah Bapak dan Ibu Guru mengolah nilai, nanti anak-anak akan menerima buku rapor. Setelahnya kalian akan libur akhir tahun pelajaran. Adakah yang sudah mempersiapkan diri akan pergi melancong untuk mengisi kegiatan liburan?” tanya Bu Atik.
Seorang anak laki-laki pun mengacungkan tangan.
“Ya, Andika, silakan,” kata Bu Atik mempersilakan Andika berkata.
“Bu, saya tidak ke mana-mana karena kakak akan menikah,” jawab Andika.
Pada saat Andi menjawab, ada sebuah mobil melaju dengan kencang dan menimbulkan suara keras. Kata “kakak” tidak jelas terdengar oleh Bu Atik. Hal itu membuat Bu Atik kaget.
“Masa kamu menikah?” Pertanyaan Bu Atik diikuti gelak tawa riuh teman-teman Andika.
“Kakaknya, Buuuu …!” teman-teman Andika seperti dikomando menyebut orang yang akan menikah.
“O, maaf. Ibu tidak mendengar. Mungkin suara mobil tadi menghalangi pendengaran Ibu. Atau, mungkin karena ada faktor. Faktor apa, Anak-anak?” komentar Bu Atik sambil bertanya.
Anak-anak terdiam. Hanya Ananta yang berani menyeletuk, “Faktor U, Bu!”
Ibu Guru yang ramah itu pun hanya tersenyum dan mengiyakan.
Sebaliknya, Ananta bahkan tersipu.
“Iya, Ananta. Faktor U alias apa?”
“Umur, Bu,” jawab Catur diikuti tawa riang teman-temannya.
“Baik, Anak-anak. Untuk kali ini, Ibu tidak mengisi jam ini dengan materi pelajaran agama. Saya ingin, kalian belajar menulis. Nabi pernah bersabda “qayyidul ‘ilma bilkitabi”. Artinya, jagalah ilmu dengan menulis. Ceritakan dalam bentuk tulisan, daerah di Indonesia yang ingin dikunjungi.”
“Bu, boleh tidak aku ingin berkunjung ke kampung sebelah?” tanya Ammar.
Bu Atik hanya tersenyum, lalu balik bertanya.
“Kampung sebelahmu Indonesia atau negara lain?”
“Indonesia, Bu!” jawab Ammar sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rupanya ia malu karena lupa bahwa daerah yang ingin dikunjungi adalah wilayah Indonesia.
“Tulis di mana, Bu?” tanya Atikah.
“Ya di buku catatanmu saja. Setelah selesai, nanti dikumpulkan,” jawab Bu Atik.
Selanjutnya, tiga puluh siswa kelas lima sibuk dengan bukunya masing-masing. Setelah seperempat jam, ada siswa yag sudah menulis cukup banyak. Ada juga yang baru menulis sebaris. Bahkan, ada yang belum mengoreskan bolpoinnya pada lembaran bukunya.
Adira terlihat cukup lancar menuliskan karangannya. Adira suka membaca. Banyak paragraf yang sudah ia lumat. Dengan demikian perbendaharaan katanya lumayan banyak. Ia pun menulis sesuai dengan permintaan Bu Atik.
Aku ingin sekali pergi ke Bali. Pulau Bali sangat indah. Hal itu aku ketahui dari buku bacaan di perpustakaan. Juga di internet ketika ayahku membantu menunjukkan daerah wisata yang ada di Bali. Ayahku pun berjanji akan mengajak kami berliburan ke Pulau Dewata itu jika aku naik ke kelas enam. Namun apa daya. Ayahku kena PHK. Ayahku tidak bekerja lagi. Karena tidak bekerja, ayahku tidak mendapat uang. Kata ibuku, kami hidup dari uang tabungan.
Setelah ayah tidak kunjung dapat pekerjaan, ayah dan ibu akhirnya berjualan bubur ayam. Mereka berjualan pada pagi hari. Bubur ayam ayahku belum punya banyak pelanggan. Jadi, uang ayahku tidak cukup untuk ongkos kami berliburan ke Bali. Andai saja ada yang mengajakku berwisata ke pulau Bali, aku akan senang sekali. Aku akan mencatat perjalananku dan menulisnya menjadi cerita. Ya, Allah ya Tuhanku. Semoga Engkau mendengar keinginanku.
Tulisan Adira dibaca ibu Atik. Guru agama yang setiap hari memakai kaca mata itu tersentuh dengan keinginan dan cita-cita Adira jika ia bisa berkunjung ke pulau Bali.
“Andai saja Kelompok K3S Kapanewon Paliyan mengizinkan membawa anak, kamu akan Ibu ajak. Sayangnya tidak, Adira. Namun Ibu yakin. Doamu didengar Allah. Keinginan Ibu ke Bali sejak masih duduk di kelas sebelas baru terwujud tahun ini. Lima belas tahun kemudian. Sabar ya, Adira,” gumam Bu Atik haru. Hampir saja bulir air mata menetes. Keinginannya dahulu sama dengan keinginan Adira.
Musi Rawas, 30 Juni 2022
PakDSus

Ikut saran Mazmo (teman blogger, penulis cerita fiksi). Bikin premis lebih dahulu.
Boleh kasih resepnya bisa nulis cerita semengalir itu pak D..?
Tokoh maya saya, he he he. Selamat beristirahat, Bu Atik.
Cerpen yang menarik n membuat lelah saya hilang sepulang kerja.makasih Pak D… Saya bisa senyum-senyum ini. aamiin teriring doa untuk adira..
Justru karena saya bingung mau nulis apa. He he he …
Pak De tampil beda dalam menghadapi tantangan Kalis. Cerpen yang menarik.
Kalau saya langsung nulis saja. Hehe…