
Sehari Di Rumah Pusaka
Di kamar ini, aku dilahirkan. Di balai bambu, buah tangan bapakku. Di rumah ini aku dibesarkan. Dibelai mesra lentik jari ibu. … (Iwan Fals)
Lantunan lagu Ujung Aspal Pondok Gede dari Iwan Fals masih mengalun dari telepon pintarku. Sesekali, mulutku ikut bersenandung. Bahkan, kata-kata pada bagian tertentu aku nyanyikan dengan lantang. Hari ini aku teringat masa kecil dahulu. Syair lagu Iwan Fals seolah menjadi mesin waktu yang mengajak berkelana ke masa kecil.
Kedua tangan menjadi ganjal kepala, meskipun aku sudah berbantal. Pandangan mataku tertuju ke langit-langit kamar. Juga dinding yang sekarang berlapis semen. Kata mamak, panggilan kepada ibuku, di kamar inilah aku dilahirkan. Meskipun bukan buah karya bapakku, dipan tempat aku dilahirkan adalah dipan yang terbuat dari bambu.
Dipan bambu sederhana. Tanpa desain artistik layaknya dipan bambu di villa-villa mewah di Bali. Dipan itu hanya terbuat dari bambu tua, tanpa dipanggang agar muncul warna coklat kehitaman. Tidak ada kasur dan kain sprei. Alas tidur kami hanyalah tikar anyam pandan di atas matras yang kami sebut “pelupuh”.
Pelupuh dibuat dari bambu gelondong yang dibelah tidak beraturan pada seluruh bagian. Lalu, bambu pun dibelah sehingga terbentuk seperti lembaran papan. Pada posisi terbalik, bagian dalam bambu berada di atas, bambu dicah-cacah agar bagian yang cekung melengkung menjadi rata. Ruas-ruas bambu yang mencuat diratakan dan dibeset agar kulit arinya terkelupas. Lembaran bambu berbentuk seperti papan itulah yang dijadikan alas tidur pada dipan bambu kami.
Mbah Dukun Merawat Adik Bayiku
Aku tidak tahu bagaimana aku dirawat ketika bayi. Namun, adikku nomor empat atau anak mamak yang kelima, aku tahu bagaimana ia dirawat dan ditimang jemari lentik ibuku.
Ketika adikku kecil, ia dirawat oleh seorang dukun bayi. Setelah mbah dukun memijit dan mengurut ibuku, giliran adikku dipijit dan diurutnya. Setelah selesai dan adik dipasang gurita, mbah dukun membedong. Kain selebar taplak meja membungkus adik bayiku seperti lontong.
Aku mengintip di balik pintu kamar. Mbah dukun mengambil batu hitam. Batu kali sebesar genganggaman tangan orang dewasa, tiba-tiba dipukulkan pada pelupuh dipan beralas anyaman pandan.
“Dak … dak … dak …!” bunyi batu hitam beradu dengan pelupuh.
Mbah dukun melakukannya pada dipan di bagian atas kepala adik. Juga di samping kiri dan kanan badannya.
Tentu saja bunyi batu yang beradu dengan pelupuh dipan mengagetkan adik ketika dipukulkan di bagian atas kepala. Namun, adik terlihat tenang ketika batu hitam itu dipukulkan keras sebanyak tiga kali pada sisi kanan dan kiri badannya. Mungkin sudah tidak kaget lagi.
Ketika mbah dukun pulang, aku memberanikan diri bertanya kepada ibuku.
“Mak, untuk apa mbah dukun memukul dipan?”
Ibuku menjawab bahwa bunyi pukulan itu agar adik kelak tidak menjadi anak yang mudah kaget. Dalam bahasa Jawa, “kagetan”. Aku pun hanya menjawab, “O ….”
Lantai Tanah dan Penerangan Rumah
Kamar ini dahulu tidak beralas keramik. Adik bungsu yang membangun dan memasang keramik pada lantai kamar. Ketika aku kecil, lantai kamar ini beralas tanah. Meskipun tanah, lantai ini tidak pernah berdebu. Ibuku sangat rajin menyapu.
Dinding kamar pun bukan semen. Dinding kamar terbuat dari bambu. Anyaman bambu yang ayah beli dari pasar menjadi penyekat kamar dan pembatas dengan bagian luar rumah. Pada pagi hingga siang hari, udara terasa sejuk. Sinar matahari menerebos melalui celah dan lubang pada anyaman bambu membentuk garis-garis lurus cahaya, menambah terang kamar.
Masa kecilku jauh dari kemewahan. Hingga adikku keenam lahir, yang berarti anak mamak ketujuh, kami belum merasakan nyamannya diterangi lampu pijar atau lampu tabung. Penerangan di ruang tamu pada malam hari adalah lampu strongking. Lampu ini disebut juga lampu petromaks. Konon, petromaks adalah singkatan dari “Petroleum” dan “Max Graetz”. Lampu ini berbahan bakar minyak tanah atau petroleum yang desainnya dikembangkan oleh Max Garetz dari perusahaan Ehrich & Graetz di Berlin.

Seperti sepeda motor, petromax merupakan merek dagang dari lampu dengan desain yang diciptakan Max Garetz. Hanya karena penggunannya yang begitu banyak, maka lampu dengan desain yang sama pun disebut sebagai petromaks.
Di kamar kami menggunakan lampu teplok bersumbu tunggal. Lampu itu menerangi kamar. Meskipun cahanya remang-remang, cukup membantu melihat di malam gelap.
Untuk belajar, aku menggunakan lampu dengan sumbu lebar dan dipasang melingkar. Ketinggiannya dapat diatur sehingga cahaya yang dipancarkan pun dapat disetel. Terang, redup, atau disetel redup sekali sebagai lampu tidur.
Bermain Wayang
Aku pun tersenyum ketika teringat pada masa kecil bermain wayang pada malam hari. Aku menggunting kertas berbentuk boneka. Giman, dan Nano membuat tiang dan kain putih. Lampu teplok kami nyalakan. Boneka kertas kami letakkan di antara lampu dan layar putih. Sinar lampu teplok yang mengenai boneka kertas membentuk citra bayangan pada layar. Dialog, tertawa, dan bentakan mewarnai pertunjukan wayang kami.
“Hua ha ha ha …!” tanpa sadar aku tertawa. Suara tawaku ternyata cukup keras. Keponakanku yang sudah duduk di kelas lima tergopoh-gopoh berlari mendekat. Berdiri dipintu kamar, ia bertanya.
“Pak De kenapa tertawa sendiri?”
Lamunanku buyar. Tawaku pun terhenti.
“Eh … nggak, Mas. Pak De teringat masa kecil di rumah ini. Masa kecil ketika Mbah masih ada dan ayahmu masih kecil. Latif, mau dengar ceritanya?” tanyaku kepada anak adik bungsuku.
“Nggak, ah. Latif mau main pabji,” jawabnya enteng.
“Pabji itu apa, Mas?” tanyaku heran.
“Ish … Pak De ini. Itu lo yang tulisannya Pe U Be Ge!” jawabnya sebelum menjauh sambil menenteng hape milik ayahnya.
Musi Rawas, 9 Juni 2022
Salam Bahagia!
PakDSus
Blogger Guru Musi Rawas

Great article, just what I was looking for.
Sangat menarik ya.
Aku pingin mendengarkan Pak De Cerita wayang. Mestinya seru….
Bersyukurlah Pak D masih bisa menginjak rumah pusaka tempat lahir ďan besar. Bagaimanapun kondisinya, kehangatannya tak tergantikan.. Ambu mah sudah tak bisa menginjak lg rumah pusaka itu.. sudah tak ada..
Ceritanya asik pak D, tapi ada istilah-istilah yang tidak saya fahami dari kisah masa lalu, mungkin karna saya belum lahir hehe
Tapi btw soal nyanyi saya suka sekali menyanyi dan mendengarkan lagu lawas, pak D. Ayok pak D bernyanyi laah.
Keren…tulisannya sangat menginspirasi . Betul sekali dukun bayi suka memberikan mantra / sesuatu yg tdk lazim di jaman modern
Deakripsi Indah tentang masa kecil,. benda-benda terdekat dapat digambarkan dengan detail. Pembaca ikut berselancar bersama imajinasi penulis. Keren Pak D Susanto. Seharusnya dulu saya ambil S1 Bahasa Indonesia dan S2 Bahasa Inggris agar bisa menjadi penulis untuk kedua bahasa dengan rangkaian kata indah
Saya tidak mengalami yang Pak D alami. Namun, saya ikut merasakan kesederhanaan dari tulisan yang Pak D sajikan. Sungguh kenangan masa kecil yang tidak tergatikan. Sayangnya PABJI mengakhiri cerita yang sedang seru-serunnya.
Sehat selalu Pak D
Hampir sama.. mbah dukun memukul dengan batu.. kalo di tempatku.. memukulkan dengan sapu lidi pada tempat tidur. Dan katanya.. juga agar si bayi tidak mudah kaget. Serta supaya banyak hal-hal jelek tidak menghampiri si jabang bayi.