Silaturahmi Tanpa Batas, Reuni Ke-2 Alumni D2 PGSD FKIP UNS UPP Kebumen 1992

Program D2 PGSD sudah lama dihapus. Pun FKIP UNS sudah lama menutup program diploma pencetak pendidik atau guru kelas sekolah dasar itu. Namun, para alumnus terutama angkatan pertama yang belajar di Unit Pelaksana Program (UPP) Kebumen tidak pernah bubar atau membubarkan diri.
Mereka, para alumnus D2 PGSD UNS UPP Kebumen 1992 membentuk komunitas dalam sebuah grup WA: PGSD Kebumen. Saling tegur sapa, berkirim kabar, berbagi informasi, saling membantu dan meringankan beban satu sama lain.
Pada tanggal 23 sampai dengan 24 Desember 2023, untuk melepas rindu mereka bertemu dan bersilaturahmi di sebuah taman wisata terkenal di kaki Gunung Slamet, Lokawisata Baturraden.
Villa Edelweiss Utama dan Villa Edelweiss Cottage menjadi pilihan alumni D2 PGSD UNS UPP Kebumen 1992 sebagai tempat untuk bercengkerama dan mengenang masa-masa kuliah dahulu.
Berada di bukit sebelah timur Lokawisata Baturaden, Villa Edelweiss menyajikan pemandangan hijau yang menyejukkan dan menyehatkan mata.
Para peserta reuni, sekitar 50 orang, datang berangsur-angsur. Saya beserta istri memarkirkan kendaraan di halaman utama dan bertemu dengan sahabat lama, Bung Teguh beserta istri tercinta yang terlebih dahulu datang dan memarkirkan kendaraannya di halaman Villa Edelweiss Cottage di bagian bawah.
Setelah itu datang Bung Kusman, Bung Kamto dan Bung Wal Wal beserta istri dan angota keluarga, disusul Bung Wahyudi beserta istri dan anaknya yang ganteng. Akhirnya, ‘tamu jauh’ dari Provinsi Bangka Belitung, Bung Yahya beserta istri turut bergabung.

Kami pun duduk-duduk di gazebo sambil menyeruput kopi hitam dan teh celup yang disediakan oleh pengurus villa. Sebagian lagi menikmati hangatnya susu murni campur ekstrak jahe yang dijajakan oleh penjual seharga sepuluh ribu rupiah per gelas.
Bercengkerama pada Malam Ramah Tamah

Selesai makan malam dengan menu: sop daging sapi, sate ayam dan kambing, tahu dan tempe, teman-teman bercengkerama dan menggelar doa bersama.
Saya memandu acara yang berlangsung setidaknya dua jam itu. Sebenarnya tidak ingin menggelar acara yang bersifat formal. Akan tetapi, para alumnus yang terbiasa bekerja dengan akuntabillitas yang tinggi, mau tidak mau bau-bau acara resmi tetap ada. Dimulai dengan laporan ketua paguyuban Alumni PGSD Kebumen, Bung Untik (Untung Sutikno), dilanjutkan laporan pelaksanaan oleh panitia yang diwakili oleh Mbakyu TWW (Tri Wahyu Wijayanti).
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan berdoa bersama. Berdoa untuk teman-teman alumni yang telah menghadap Sang Pencipta.
Peserta reuni, dipimpin Bung Wahyudi memanjatkan doa, semoga rekan-rekan yang telah mendahului kami mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Jasa dan pengabdiannya di dunia pendidikan yang telah diberikan semoga menjadi penambah berat timbangan amal mereka di akhirat kelak.
Selanjutnya, acara diisi dengan ungkapan pengalaman dan kesan para peserta reuni. Perwakilan Musi Rawas, Bangka Belitung, Tegal, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, dan Magelang silih berganti menyampaikan kesan dan pengalaman. Alih-alih bercerita ringan nan lucu, sebagian besar mengisinya dengan curhat, ha … ha … curcol tentang kondisi ketidakharmonisan pendidik dengan pemerintah daerah serta ungkapan kekecewaan tentang kondisi ideal yang harusnya diterima berdasarkan visi perubahan sang Menteri Pendidikan.
Kami semua mendengarkan dengan saksama. Apa yang diungkapkan menjadi pengalaman batin masing-masing. Semoga ‘masalah’ yang dialami teman-teman segera teratasi dan ada keberanian untuk mengubah hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya.
“Butuh perjuangan, Kawan-kawanku.”
Saya, mewakili alumni yang bertugas di Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan, mengajak untuk menulis. Yang bertugas sebagai Kepala Sekolah dan Pengawas atau Korwil mau dan mampu mengajak para pendidik binaannya untuk mau menulis.
Dengan menulis, permasalahan yang dihadapi yang tidak dapat diungkap dalam bentuk aksi lapangan dapat diungkapkan dalam bentuk tulisan: puisi atau cerita.
Berwisata ke Lokawisata Baturraden

Hari kedua reuni dibuka dengan senam pagi bersama. Mbakyu Kusti Mutfiah (https://www.youtube.com/@kustimutfiah1907) menjadi pemandu senam. Tidak ada penilain, kata Mbakyu TWW. Jadi, kami pun melakukan senam dengan segembira mungkin. Gerakan sang instruktur ditirukan, sesekali juga kami melakukan gerakan sesuka hati sesuai irama. Ha … ha ….
Selesai senam, kami sarapan pagi. Menu sarapan pagi sederhana saja yaitu nasi goreng sosis lengkap dengan irisan tomat dan ketimun atau mentimun (Cucumis sativus). Sambil menunggu antrean, saya, Bung Kusman, dan Bung Untik yang suka bernyanyi mengisinya dengan bernyanyi atau berkaraoke dengan iringan musik dari Youtube.
“Bersiap-siap, segera kita menuju Lokawisata Baturraden!”
Suara melalui pengeras suara meminta kami untuk beranjak berjalan kaki menuruni bukit dari Villa Edelweiss. Kami memasuki Lokawisata melalui pintu masuk bagian atas. Ada 37 orang yang tercatat memasuki Lokawisata melalui pintu itu. Saya, Bung Moses Edi, Mbakyu Tri Wahyu, menunggu di pintu masuk.
Setelah semua anggota memasuki Lokawisata, kami membayar tiket sebesar 25.000 rupiah. Jika hari-hari biasa, loket menjual tiket seharga 20.000 rupiah. Hmm, rupanya potongan harga paling besar 10% dari total pembayaran.
Kami membayar setelah anggota masuk ke lokasi wisata. Alhasil, kami berdua berjalan menyusuri arena wisata. Bung Edi masih sibuk memilih ikat pinggang di pasar.
Sementara, teman-teman lain sudah jauh melangkah. Mungkin sudah ke Pancuran Tiga.

Dugaan kami salah. Mereka, para pemuda dan pemudi yang saat ini sudah berusia kepala lima, tidak sanggup untuk naik hingga ke Pancuran Tiga, meskipun hanya sekitar 300 meter saja.
Usia tidak membohongi fisik. Ya, fisik para orang tua itu mulai loyo. Mereka pun memilih untuk beristirahat dan menikmatai es degan atau es dawet durian di tenda-tenda lapak pedagang.

Dua orang sales Teater Alam mendekati kami. Mereka, salah satunya bernama Rita, menawarkan untuk menonton kisah sejarah Baturraden yang diapat ditonton melalui teater alam yang berada di dalam pesawat. Pesawat jenis Fokker F-28 buatan Belanda tahun 1985 milik Garuda Indonesia itu mampu menampung penumpang 80 orang.
Posisi penumpang menghadap ke ‘ekor’ pesawat. Di atas bangku depan penonton dipasang proyektor kecil untuk memproyeksikan film yang diputar melalui layar laptop ke layar pada bagian belakang pesawat.
“Penumpang menghadap ke belakang, ha ha ha!” teriak Bung Roil.

Keluar dari dalam pesawat, kami pun berjalan pulang menuju ke villa. Kami harus segera berkemas karena pukul 12.00 WIB batas terakhir secara resmi menginap di sana.
Banyak kenangan dan kegembiraan yang sulit terungkapkan dengan kata-kata. Ada pula ‘oleh-oleh’ berupa cerita inspirasi dari teman-teman yang akan saya ceritakan pada kesempatan berikutnya.
Selamat kembali ke daerah masing-masing, Kawan! Semoga sehat selalu dan diberi umur panjang agar bisa bertemua dua tahun lagi pada acara reuni ketiga sebelum teman-teman kelahiran 68 atau 69 pensiun. Ha ha ha …!
Purwokerto, 25 Desember 2023
Salam dan bahagia,
PakDSus.
Thank you so much!
Thanks for thr great article!
Thanks for thr great article!
It is very comforting to see that others are suffering from the same problem as you, wow!
Thanks for thr great article!
Thanks for thr great article!
Thanks for thr great article!
Wuih…dibukukan jadi karya ilmiah Kang..bagus-bagus, lengkap detail dan alure pas…lanjut Bung, sukses selalu, moga “menjadi virus” yang lain…
Ada, ya? Semoga hanya perasaan saja.
Luar biasa, jagalah persahabatan dengan ketulusan, hilangkan ego dan rasa sok : sok paling hebat,sok paling sukses, sok paling pinter…jaga kebersamaan, saling bahu membahu satukan missi tuk sukses bersama..
Terbayang serunya….
Ajakin bikin buku antologi alumni, Pak….
Alhamdulilah bisa bernostalgia dengan teman-teman seperjuangan