artikel

Berkat Pemilik Xentuner Aku Masih di Jalan yang Bener, Sekarang Berganti Innophard Semoga Aku Tetap Semangat

Akhir tahun 2021, jika tidak keliru, aku menemukan grup keren bernama Rumah Virus Literasi. Pemimpinnya “Pak Blantik”, badannya lumayan tambun dan sering bertopi. Pada saat itu, aku anggota pasif. Perasaanku, menulis pada saat itu masih sebatas himbauan, sehingga tulisan di kolom chat yang silih berganti menjadi menu bacaan tanpa ikutan menulis atau menyetorkan link tulisan di blog. Yang menarik, anggota grup yang menulis didata dan dilaporkan di kolom percakapan WA.

Aku masih malu-malu lagipula masih baperan. Rasanya, percakapan di grup bukan untukku. Percakapan yang ada hanya berlaku untuk yang sudah akrab saja. Pun di dalam grup yang aku kenal baru tiga orang: Omjay, Bu Kanjeng, dan Cak Inin. Satu orang di antaranya, ketika tulisan ini dipublikasikan sudah tidak ada lagi di grup.

Makanya, hampir saja tidak betah karena merasa diri belum diterima. Mau menyapa, aku takut dan malu-malu. Mau ikut menulis, aku merasa minder karena tulisan para suhu yang silih berganti sudah bagus-bagus.

Ada niat keluar dari grup akan tetapi tidak jadi dilakukan.

“Sayang, tulisan yang ‘dipamerkan’ bagus-bagus,” gumamku pada diri sendiri.

Ya, tulisan di blog para ‘petinggi’ saat itu membuatku mengurungkan niat. Deretan pengalaman perjalanan Bu Telly D, tulisan Bu Kanjeng yang ‘tidak ada matinya’, dan tulisan seputar menulis dari “Pak Blantik” benar-benar mengurungkan niat meninggalkan grup. Eman-eman, Le! Eman-eman. Tenan!

Ilmu menulis dan contoh tulisan yang baik menjadi rujukan tanpa harus belajar teori kebahasan. Ketika gelisah memikirkan ide, ada tulisan yang mengarah ke sana. Ketika bingung menuliskan istilah, tulisan para suhu sarat dengan aturan kebahasaan yang tersirat.

Setahun berikutnya, ada acara kopdar, kopi darat. Pertemuan anggota grup secara luring untuk pertama kali di suatu tempat. Gedung P4TK Matematika menjadi tempat tujuan pertemuan anggota RVL secara luring. Dalam hati pun sebenarnya kepengin ikut. Mengapa?

Pak Yulianto, Ketua Penanggung Jawab PGP (Program Guru Penggerak) Angkatan 5 Musi Rawas berasal dari sana. Bahkan beliau memberikan gambaran bahwa suatu hari nanti bakal ada pertemuan PP (pengajar Praktik) secara luring di P4TK Matematika Yogyakarta. Huh, pengin banget, dong!

Apa lacur, negeri ini melakukan transformasi lembaga yang mengurusi pendidik dan tenaga kependidikan. P4TK dan LPMP menjadi Balai Besar Guru Penggerak dan Balai Guru Penggerak. Perubahan nomenklatur ini membuat berubahnya satuan kerja pelaksana Pendidikan Guru Penggerak. Impian ke P4TK secara percuma tidak terwujud.

Beruntung, RVL berencana menggelar kopdar pertama di gedung P4TK. Saat itu aku tidak tahu bahwa Telly D yang sering menulis perjalanan melancongnya adalah mantan Kepala P4TK Yogyakarta.

Jika aku ikut kopdar perdana, aku membayangkan bakal bisa menginjakkan kaki di lembaga yang menjadi impian ketika dijanjikan Pak Yudi pada saat menjadi Pengajar Praktik PGP Angkatan 5 Musi Rawas. Sampai di sana lalu bergambar di depan papan nama dan memamerkannya kepada teman-teman.

“Oi, Pakde la sampai ke P4TK!” Komentar yang bakal aku terima di grup WA para PP PGP A5 Musi Rawas.

Salah pasang niat atau niatnya belum kuat, angan itu akhirnya sebatas angan. Karena sesuatu hal, aku pun hanya menyimak hiruk pikuk kopdar melalui grup WA. Di kolom chat berseliweran logo, twibon, video, dan foto-foto kegiatan para penulis ngetop ini.

Beruntung, ‘Pak Blantik’ si pemilik mobil Xentuner, berbaik hati. Beliau mengikutkan kami yang tidak ikut Kopdar dengan memberi kesempatan untuk ikut mengirimkan tulisan. Jika peserta kopdar wajib menulis seputar kopdar maka kami yang tidak bisa ikut karena sesuatu hal boleh membuat tulisan tentang kopdar juga. Tentu bukan pengalaman mengikuti Kopdar, melainkan dari sudut pandang yang lain.

Ibarat baterai hape, kemurahan hati sang pemilik Xentuner itu menambah energi beberapa setrip, jika dianalogikan dengan indikator baterai hape androidku. Tambah lagi, sang pemilik Xentuner itu memberi perintah untuk membaca ulang dan memperbaiki seperlunya naskah dari teman-teman. Naskah itu bakal dibukukan menjadi buku antologi “Di Bawah RVL Aku Bernaung (Antologi Kisah Kopdar I RVL Yogyakarta)”.

Antologi RVL
Buku Antologi RVL (Dok. Susanto)

Rasa percaya diri mulai menebal dan aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk ikut ‘nimbrung’ dalam obrolan.

Keberanian dan rasa percaya diri di grup RVL membuatku jauh-jauh hari meminta izin kepada istri untuk mengikuti Kopdar kedua RVL. Keberanian dan niat kuat itu berkat Pak Blantik. Pak Blantik yang sering disapa Suhu Emcho, Master Emcho, Abah Emcho, dan lain sebagainya, menurutku sosok yang tegas namun juga memiliki rasa homor yang bagus.

Istilah Xentuner yang ia lontarkan di grup WA adalah istilah serius bernada humor. Ada kesan lucu di dalamnya. Meskipun tidak sesederhana itu. Ada cerita di balik istilah Xentuner yang beliau ciptakan.

… saya ciptakan kebahagiaan baru dalam realitas baru, yakni menganggap mobil saya sebagai mobil Mas Taufiqi. Jadilah mobil saya “Xentuner” alias Xenia rasa Fortuner. Jangan lupa kebagiaan itu soal rasa, bukan harta, bukan yang lain-lain. Dan Xentuner adalah kebahagiaan saya saat ini, kebahagiaan yang luar biasa. (https://muchkhoiri.com/2022/05/serial-xentuner-literasi-1-asal-usul-nama-mobil-xentuner/)

Berkat si Pemilik mobil Xentuner itulah aku masih bertahan di sini (grup WA RVL).

Karena mobil Toyota tuaku ada yang mau, sekarang kendaraanku berganti Xenia juga, hanya saja berwarna hitam. Mobil lama juga, sih.

“Mobilmu apo, Tok?” tanya seorang teman.

“Xentuner,” jawabku pendek.

Apo dio Xentuner?” tanyanya lagi.

“Xenia rasa fortuner,” jawabku tanpa pikir panjang meskipun tahu itu istilah sang suhu. Halah, yang punya di seberang sana juga, gak mendengar.

Dalam hati aku tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya mengekor tulisan, istilah yang cukup sakral hingga disajikan berseri dalam blog sang suhu pun aku tiru.

“Aku yakin, Xentuner yang beliau miliki tinggal kenangan. Mungkin saja masih ada tetapi kendaraan harian lainnya adalah Fortuner sebagaimana impiannya,” batinku.

Pendapat batinku belum terjawab. Belum ada pengakuan yang mengarah ke mobil impian sebagaimana diceritaka. Malah pada Kamis malam (14/12) muncul tulisan berikut.

Mobil jenis apalagi ini? Innophard rasanya tidak ada dalam ensiklopedia atau brosur mobil sebagaimana suhu Emcho menceritakan perihal Xentuner di blognya. Bahkan ketika mengetikkan kata “innophard” pada kolom pencarian Google, aku diarahkan pada kata innopharm.

Innopharm is a company engaged in the pharmaceutical sector. which is built with a brand new concept and idealism for new generation. It is group of PT. Meta Life Indonesia. (linkedin.com)

Ha ha ha, aku sih menebak ngawur saja. Jika Xenia adalah mobil Xenia rasa fortuner, tidak salah lagi jika aku menebak innophard adalah mobil Innova ras Alphard. Hmmm, ada-ada saja.

Musi Rawas, 15 Desember 2023
Salam dan bahagia,

PakDSus (Kakek seorang cucu yang masih suka mimik cucu)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Berkat Pemilik Xentuner Aku Masih di Jalan yang Bener, Sekarang Berganti Innophard Semoga Aku Tetap Semangat

  • Semoga terus konsisten pak. Semangat

  • Haha….ikut ketawa dikit …
    Mantap Pak….

  • Tulisan Pak D Sus mengingatkan kembali Dul Gemuk yamg lihai membuat istilah dan lucu.

Comments are closed.