Tapi Aku Tidak Ninju, Pak!

Bel masuk sekolah belum berbunyi. Beberapa anak perempuan kelas dua tergopoh-gopoh melapor bahwa temannya, Fajar dan Sopyan, berkelahi.
“Pak Guru, Fajar karo Sopyan, gelut!” lapor mereka setengah berteriak. Khas anak-anak.
Mereka melapor menggunakan bahasa ibu mereka, bahasa Jawa. Ya, wilayah sekolah kami berada di daerah dengan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Meskipun kami berada di kabupaten Musi Rawas, satu di antara tujuh belas kabupaten/kota di provinsi Sumatera Selatan.
Aduan anak-anak perempuan kelas dua, tidak saya hiraukan. Biasanya hanya bertengkar biasa. Namun, tidak lama kemudian datang lagi anak lainnya dan mengadukan hal yang sama. Segera saya panggil keduanya untuk datang ke kantor. Setelah mereka berada di ruang guru, anak-anak yang lain saya minta untuk menjauh dari ruang guru. Jika tidak, puluhan anak akan berkerumun di depan pintu dan jendela seperti sedang menonton sebuah pertunjukan. Setelah kondusif, saya pun mengajukan pertanyaan kepada keduanya. Agar komunikatif, saya menggunakan kata dan logat bahasa percakapan mereka sehari-hari.
“Fajar sama Sopyan tadi gelut, ya? Saya tanya dulu sama Sopyan, betul?”
Anak bernama Sopyan pun mengiyakan. Fajar yang masih terisak-isak pun membenarkan.
Karena laporan yang saya terima adalah perkelahian, asumsi saya berkelahi adalah baku pukul di antara mereka. Maka, saya pun menanyakan siapa yang memukul terlebih dahulu. Keduanya menjawab, tidak tahu. Saya pun tersenyum. Ketika ditanya tentang bagaimana mereka berkelahi, Fajar sambil terisak-isak berkata.
“Tapi aku tidak ninju, Pak!”
Giliran Sopyan ditanya, ia menjawab,” Aku gelute ngomong-ngomong.”
Di dalam hati saya tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan mereka. Ternyata, mereka tidak berkelahi seperti yang saya bayangkan.
Pertengkaran keduanya dipicu oleh perbuatan Fajar yang menjewer telinga Sopyan. Mungkin niatnya bergurau, namun ditanggapi serius sehingga Sopyan membalasnya dengan kata-kata yang yang membangkitkan amarah Fajar.
“Nggawe aku ngamuk,” terang Fajar.
Sopyan yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan, yakni dijewer telinganya, melontarkan kata-kata yang memanaskan hati Fajar. Awalnya, Fajar tidak ingin berkelahi. Akan tetapi balasan Sopyan dengan gerakan mencekik leher, membuat Fajar naik pitam. Mereka pun berkelahi. Namun, mereka tidak saling memukul.
Sekolah adalah Tempat Menanamkan Budi Pekerti yang Baik
Pernah sekali waktu, ketika mereka kelas satu, saya masuk menggantikan guru kelas yang berhalangan hadir karena sesuatu hal. Ketika kelas satu, Fajar adalah ketua kelas. Ia bertugas menyiapkan teman-temannya berdoa dan memberi salam kepada guru sebelum pelajaran dimulai. Fajar bukan tipe anak penakut. Ia anak pemberani. Ketika ditanya, dia pun mengacungkan tangan terlebih dahulu, meskipun jawaban yang diberikan tidak selalu betul. Ia pun tergolong anak yang tidak suka diam. Ada saja yang dilakukannya. Tidak jarang ia menjahili temannya. Barangkali karena kelebihan energi. Ketika saya mengajak kelas satu bermain di lapangan, beberapa kali saya menegurnya.
Sopyan pun bukan tergolong anak yang pendiam. Jika Fajar atraktif dengan gerakan fisiknya, Sopyan lebih banyak bicara. Banyak mulut, mungkin istilah ini tepat untuknya. Ketemu saya pun ia sering menegur.
“Pak Santo,” katanya.
“Ya,” jawab saya.
“Tasnya kok besar, isinya apa sih?” tanyanya.
Demikian pula ketika melihat kaca mata saya yang berantai.
“Kok kacamatanya diberi tali, Pak?”
Itulah Sopyan, anak yang terlibat pertengkaran dengan Fajar, teman satu kelasnya.
Sekolah, sebagai tempat pendidikan kedua setelah keluarga, berisi ratusan anak yang terbagi dalam beberapa kelas. Setiap kelas berkisar dua puluh hingga tiga puluh orang. Bahkan, ada sekolah yang satu kelas mencapai empat puluhan anak. Mereka berasal dari beragam latar belakang. Aneka pola penddidikan dan pengasuhan dalam keluarga membentuk watak dan kepribadian yang khas pada setiap anak.
Watak atau budi pekerti, menurut Ki Hajar Dewantara terdiri dari dua bagian, biologis dan intelektual. Bagian biologis seperti rasa takut, malu, kecewa, iri, egoisme, berani, dan segala hal yang berkaitan dengan perasaan dan jiwa manusia. Bagian ini bersifat menetap pada diri manusia. Sementara, bagian intelektual mencakup pengetahuan, keterampilan, yang diperoleh dari pendidikan, terutama di sekolah.
Seorang anak yang pemalu dan takut mengemukakan pendapat, dibantu dan dilatih oleh guru agar tumbuh keberaniannya. Demikian pula sifat-sifat lainnya seperti iri dan egoisme. Pendidikan yang diberikan guru dengan berbagai strategi, memunculkan kesadaran bahwa sifat iri hati itu tidak baik. Sifat mau menang sendiri itu tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu, jika terdengar kabar terjadi perkelahian atau pertengkaran, sudah sepatutnya guru segera melerai dan menghentikannya.
Salah satu ciri profil Pelajar Pancasila adalah bergotong royong. Bergotong royong artinya bekerja bersama-sama, melibatkan individu lain. Bagaimana bisa bergotong royong jika tidak terjalin kerukunan di antara mereka. Oleh karena itu, permusuhan, perselihan, pertengkaran di antara murid harus segera diselesaikan. Apalagi perkelahian, meskipun salah satu mengatakan, “Tapi aku tidak ninju, Pak!”
Musi Rawas, 7 Agustus 2022
Salam blogger sehat,
PakDSus

Daftar Kata (terjemahan bebas)
karo = dan
sama = dengan
gelut = berkelahi
nggawe = menyebabkan
ngamuk = marah
Aku gelute omong-omong kok.
Wkwk
Masya Allah…. kelihatan sederhana tapi itu luar biasa.
Pendidikan karakter yang kelak akan mereka kenang sepanjang perjalanan hidupnya.
Adegan asli. Hebat Pak D, mengabadikan dan menuliskan.
Oya, di tempat saya, malah sdh jarang anak ngomong pakai bhs Jawa. Prihatin…..
Nggawe aku ngamuk..wwkwkw..khas anak2 ya Pak D. Awalnya becanda. Jadi beneran. Eh orang dewasa gitu juga kali ya