artikel

Merdeka Bangsaku, Merdeka Guruku

Tulisan ini versi blog dari tulisan yang dimuat di Kompasiana oleh penulis: https://www.kompasiana.com/susantogombong/62eff049a51c6f1874532822/bangsaku-merdeka-guruku-merdeka

“Merdeka!”

Pekik merdeka membahana memenuhi udara halaman depan sekolah Aldi. Aldi dan kawan-kawan menjawab pekik merdeka yang diucapkan Pak Eko yang bertugas sebagai pembina upacara. Di halaman sekolah yang sudah dihiasi dengan pernak-pernik berwarna merah putih, murid-murid kelas satu sampai kelas enam melaksanakan upacara bendera.

“Anak-anak, hari ini kita bersyukur. Hampir dua tahun kita tidak melaksanakan upacara bendera seperti sekarang ini. Sebelumnya, kemerdekaan kita dirampas oleh virus yang menyebabkan ribuan orang, bahkan jutaan orang di dunia meninggal. Pun kita bersyukur bahwa Indonesia masih diberi kesempatan untuk memperingati hari kemerdekaannya yang ketujuh puluh tujuh.”

Suara pembina yang disambung dengan alat pengeras suara sangat jelas terdengar di halaman sekolah yang tidak lebih panjang dari tiga ruang kelas.

Anak-anak pun kelihatan bersemangat. Selain bersemangat mengikuti upacara yang sudah lama dinantikan, mereka juga menanti janji para guru. Para guru berjanji bahwa sesudah upacara akan diadakan aneka lomba dalam rangka memeriahkan dan menyambut hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Merdeka Bangsaku

Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu, bangsa ini menyatakan kemerdekaan. Sebelumnya, bangsa asing menguasai bangsa yang multi etnik ini. Belanda, Inggris, dan Jepang membelenggu kemerdekaan bangsa Indonesia untuk mengurus dirinya sendiri. Kemerdekaan yang dinanti begitu lama, diwarnai tabur bunga, diiringi tangis pilu, disiram kucuran keringat para pahlawan, akhirnya berhasil dikumandangkan.

Soekarno – Hatta, atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. Sang Merah putih yang dibuat dengan jahitan tangan ibu Fatmawati, akhirnya gagah berkibar di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakart. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman mengiringi penaikan bendera kebangsaan, Sang Merah Putih. Merah berarti berani, putih adalah lambang kesucian.

Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan dua tahun lalu, diliputi suasana berduka. Pandemi Covid-19 membatasi gerak masyarakat. PPKM menjadi pengendali aktivitas masyarakat. Maka, peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini terasa istimewa.

Jika dua tahun lalu berturut-turut peringatan HUT RI masih dalam pandemi Covid-19, tahun ini Pemerintah dengan dukungan masyarakat pun bangkit. Percepatan pemulihan kondisi di berbagai sektor dilakukan. Oleh karena itu, tepat jika tema besar peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI adalah “Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Lebih Kuat”. Tema tersebut pun terpampang pada logo yang sudah disosialisasikan kepada masyarakat melalui berbagai media daring maupun luring.

Tema besar tersebut makin menyadarkan kita untuk segera pulih dari “kelumpuhan” akibat pandemi. Dengan demikian diharapkan semakin cepat untuk bangkit dan semakin kuat serta tangguh menghadapi berbagai tantangan. Untuk itu, semangat kegotongroyongan makin diperkuat. Gotong royong, berkolaborasi, dan bersinergi tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan adalah ciri bangsa kita sejak dahulu.

Merdeka Guruku

Era pandemi adalah era disrupsi bagi dunia pendidikan. Pembelajaran konvensional klasikal yang selama ini berlangsung, berubah drastis menjadi pembelajaran jarak jauh. Dengan atau tanpa sambungan internet. Guru mengalami lompatan terbesar dalam melaksanakan strategi pembelajaran.

Perubahan tersebut tentu saja menimbulkan kegamangan. Tidak saja bagi guru yang terbilang muda, apatah lagi guru yang memasuki usia senja. Gawai dan internet, mau tidak mau dimiliki dan dikuasai, sesuai kemampuan. Para guru pun berlomba belajar melaksanakan strategi pembelajaran yang baru pertama kali dialami. Berbagai praktik baik pun tersebar di dunia maya. Webinar dan pelatihan memanfaatkan berbagai kanal yang paling mudah dikuasai. Grup WA dan Telegram mulai bermunculan. Kementerian pun tidak tinggal diam. Platform Guru Belajar dan Berbagi menjadi sarana belajar jutaan guru secara mandiri. PGRI, Institusi Swasta, Praktisi Pendidikan, tidak kalah berlomba menyelenggarakan webinar gratis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru kita.

Bersama anak murid (Dok. Pribadi)

Tahun pertama (2020-2021) PJJ berlangsung belum juga pandemi menunjukkan penurunan. Tahun kedua pandemi, tahun 2021-2022 bermunculan keluhan akan degradasi moral anak-anak akibat penggunaan gawai yang tidak bertanggung jawab. Pun learning loss menggelisahkan kita semua. Akhirnya, Kementerian merespon untuk menjawab tantangan tersebut. Berbagai regulasi dikeluarkan dan kebijakan Merdeka Belajar diluncurkan.

Kita patut bersyukur. Pada tahun pelajaran 2022/2023 pandemi cenderung berakhir. Pembelajaran tatap muka terbatas pun naik statusnya menjadi pembelajaran tatap muka penuh. Namun demikian, pembiasaan dan kebiasaan belajar melalui platform digital tidak ditinggalkan bahkan cenderung melengkapi pembelajaran. Para guru pun mulai akrab dengan pelbagai pelatihan daring. Pelatihan mandiri pun dilirik pemerintah agar guru makin cakap tanpa harus meninggalkan kelas. Platform Merdeka Mengajar disosialisasikan dan diwajibkan untuk diakses dan diinstal pada gawai masing-masing.

Para guru makin merdeka dalam menuntut ilmu dan merdeka dalam mengajar. Meskipun makna merdeka di antaranya adalah bebas, namun guru yang merdeka bermakna diberi kebebasan untuk berkreasi dalam rangka melaksanakan pembelajaran. Cara paling mudah adalah dengan mengamati, meniru, dan memodifikasi berbagai contoh yang ada. Contoh Kurikulum, perangkat ajar, praktik baik, sudah tersedia. Guru hanya berkewajiban menyesuaikan dengan kondisi lingkungan belajar masing-masing.

Bagaimana? Sudahkah Anda, para guru, merasa merdeka mengajar? Atau malahan menjadi semakin pusing? Mungkin kita harus mengubah mindset atau pola pikir yang sudah terbentuk selama ini. Dari biasa menerima menjadi berusaha mencari, dari diajari menjadi belajar mandiri, dari berdiam diri menjadi aktif bertanya. Salam dan bahagia. Merdeka!

Musi Rawas, 7 Agustus 2022

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Merdeka Bangsaku, Merdeka Guruku

  • memberikan inspirasi kepada para pembaca, enak dibaca mudah dipahami dan menjadi bacaan ringan meski kualitas berat.

Comments are closed.