Tradisi Rewang Jangan Sampai Hilang

Rahmat-Nita pasangan suami istri, warga desa D. Tegalrejo Tugumulyo Musi Rawas, mendapat karunia berupa seorang anak perempuan. Mereka menggelar hajatan, mengakikahkan anak mereka pada hari Minggu (05/02/2024). Acara direncanakan pada pagi hingga malam hari.
Dua hari sebelumnya, berdatangan sanak saudara dan handai tolan. Mereka membantu tuan rumah dan keluarganya melancarkan hajatan. Istilah yang umum dipakai di daerah Tugumulyo, Musi Rawas adalah rewang.
Rewang itu membantu tenaga maupun materi dalam rangka meringankan beban tuan hajat. Para lelaki membantu mengantarkan makanan berupa nasi beserta lauk, yakni daging ayam goreng (biasanya paha atau dada ukuran sedang), sayur masak, dan kerupuk. Saat ini, sayur masak diganti dengan dua atau tiga bungkus mi instan. Hantaran itu dinamakan punjungan.
Punjungan berfungsi sebagai surat undangan bagi handai tolan atau keluarga yang jauh. Punjungan pun berfungsi sebagai pengganti makanan bagi para perewang yang diasumsikan tidak memasak makanan di rumah, sehingga anggota keluarga yang ditinggalkan tetap bisa menikmati makan siang.
Rewang Mengeratkan Silaturahmi
Tetangga dan keluarga yang diundang khusus, biasanya rewang dua atau tiga hari menjelang dan pada hari H pelaksanaan hajatan. Dengan adanya tradisi rewang, silaturahmi antartetangga terasa semakin erat. Apalagi jika daftar penerima punjungan berkisar 600 hingga 1.000 orang, dua hari sebelum hari H dipastikan ramai dengan hiruk pikuk para pemuda dan para bapak yang sibuk mengantarkan nasi punjungan.
Mereka mengendarai kendaraan bermotor roda dua silih berganti mengantarkan ke daerah tujuan. Pak Kadus atau orang yang ditunjuk biasanya memimpin proses pengantaran nasi punjungan. Tidak setiap orang terampil mengatur lalu lintas punjungan. Oleh karena itu, jika bukan Kepala Dusun (Kadus) maka orang yang biasa menangani punjungan yang diminta untuk memimpin.
Bagaimana dengan ibu-ibu? Ibu-ibu tidak kalah sibuk. Bahkan para ibulah yang menyediakan dan mengatur nasi punjungan. Jika para bapak hanya mengantarkan punjungan, rombongan ibu-ibu yang memasak dan mengatur menu yang akan diantarkan. Nasi punjungan itu biasanya dimasukkan ke dalam bakul plastik beralas kertas bungkus makanan dan dimasukkan wadah kantong plastik transparan.
Ibu-ibu yang lain membantu membuat makanan: lemper, makanan kering, kue bolu, dan sebagainya. Para ibu juga menyiapkan hidangan makan siang bagi para Bapak pengantar punjungan dan semua perewang. Juga mengatur makanan bagi para tamu yang datang sebelum hari H hajatan.
Para ibu dan Bapak, bahu membahu menempatkan diri sesuai dengan pos pekerjaan yang diatur dalam susunan panitia atau posisi yang biasa dilakukan.
Semua bergembira. Gelak tawa dan senda gurau mewarnai kegiatan rewang pada acara hajatan. Tuan rumah senang, para tetangga yang rewang pun turut bahagia karena dapat meringankan beban saudaranya. Sebab, pada suatu saat, mereka akan bergantian membantu hajatan dan menempati posisi masing-masing tanpa beban dan rasa sungkan.
#GPLM #FebruariGambarBicara
Musi Rawas, 2 Februari 2024
PakDSus