
Kenanganku Bersama Sang Bintang
#Ceritaku #Kenanganku
Hari Minggu petang bus sampai di terminal Kebumen. Segera kuambil tas dan kardus berisi bahan makanan dari Mamak (panggilan ibuku). Bekal satu kardus mi instan itu untuk hidup di kos selama tiga hari ke depan.
Dari terminal aku menyusuri jalan menuju ke rumah kos. Jarak lima ratus meter tidak terasa jauh. Apalagi melewati bioskop Star 1, Star 2, dan kompleks pertokoan, jalan yang kulalui bukan jalanan sepi.
Tidak terasa langkah kakiku tinggal beberapa meter lagi menuju rumah kos.
“Assalamualaikum, sugeng sonten, Mbah,” sapaku kepada ibu kos. Aku dan teman-teman memanggilnya Simbah. Cucunya sudah SMA dan suami simbah kos sudah belasan tahun pensiun sebagai anggota polisi.
“Wa’aalaikum salaam, baru nyampai, Nak!” jawabnya ramah.
Sambil mengangguk dan menjawab iya, aku pun segera menuju kamar dan segera merebahkan diri.
***
Kehidupan anak kos dengan jarak rumah tidak lebih dari 30 kilometer sesungguhnya baru dimulai hari Senin. Aku dan beberapa teman lebih suka memasak sendiri. Maka, Mamak memberi bekal bahan mentah untuk dimasak sekitar tiga hari ke depan. Telur ayam, tempe, tahu, tauge, ikan asin, dan kecap.
Hari Rabu siang bahan makanan mentah sudah habis. Oleh karena itu, aku mulai berjajan membeli sayur matang atau membeli nasi rames. Dua jenis masakan itu banyak dijual di sekitar kos.
“Sayur masak, Mas?” tanya Mbak Tatik, penjual sayur masak dan nasi rames.
“Iya, Mbak,” jawabku singkat
***
Kamis sore, uangku menipis. Tersisa ongkos untuk naik bus ke kampung, masih tersisa beberapa ratus rupiah. Bekal uang habis dipakai untuk nonton film di bioskop Star 1 dan di Star 2.
Film di Star 1 berkelas. Harga tiketnya pun mahal, apalagi kelas balkon. Film The Ghost dengan ilustrasi lagu Unchained Melody sedang hits dan diputar di bisokop Star 1. Film bergenre romantis itu bahkan aku tonton dua kali.
Sisanya, aku menonton film yang diputar di bioskop Star 2. Film India dan drama kolosal Indonesia kerap diputar di sana. Dua hari berturut turut aku menonton film di Star 2. Film India, tiketnya murah durasinya panjang.
Tidak terasa, uang saku dalam kantong habis terkuras tanpa aku sadari. Aku sempat berpikiran buruk. Tapi, mana mungkin ada tuyul yang mau mencuri uang recehan. Huh, ternyata tuyulnya adalah kegiatan menonton film tanpa perhitungan.

Hidup di kos masih dua hari menjelang Sabtu petang. Sabtu petang adalah saat aku harus pulang ke kampung, mengambil bekal untuk hidup di kos pada minggu berikutnya. Selebihnya digunakan untuk bermain dan bercengkerama bersama keluarga.
Hari Sabtu masih dua hari lagi. Untungnya, beras dan minyak tanah di kompor masih ada. Jumat pagi hingga Sabtu siang praktis tidak ada lauk makan. Menyesal tidak ada gunanya. Uang saku yang habis berhamburan tidak akan kembali pulang. Sementara, aku tidak bisa makan hanya dengan garam. Meskipun keluargaku tergolong keluarga yang pas-pasan, tetapi Mamak belum pernah mengajari kami makan hanya berlauk garam saja.
Meminjam uang adalah keberanian yang tidak pernah aku miliki, apalagi mencuri. Oleh karena itu aku terpaksa harus makan dengan lauk seadanya. Tetapi, lauk garam bukan pilihan.
Tiba tiba ada lampu menyala terang dalam pikiran. Cling! Aku teringat sebotol kecil kecap bekal dari Mamak yang belum aku buka. Kecap “Tjap Kentjana”. Kecap lokal yang tidak masuk TV dalam bentuk iklan sangat disukai masyarakat. Hampir setiap warung makan menyediakan, apalagi warung soto, bakso, atau mi ayam. Mamak pun memberiku sebotol plastik kecil, kemasan botol terkecil yang dijual perusahaan. Cara menggunakannya, cukup membuka fliptop tutup botolnya dan cur … kecap dalam botol mengucur keluar sesuai selera.
Setelah botol kecap bekal dari Mamak kutemukan. Dengan sedikit pijitan, kecap itu mengucur dan kutuang di atas nasi hangat yang baru diangkat dari kukusan. Setelah itu nasi itu kukipas-kipas ringan. Nasi suam kuku itu pun segera kusantap.
“Nyam, … nikmat. Jika ditambah kerupuk, sepertinya lebih nikmat.” Aku membatin dan segera mengambil uang receh lima ratusan dan pergi ke warung membeli kerupuk sebungkus kecil.
Kecap manis Tjap Kentjana dengan sensasi rasa asin ditambah kerupuk, membuat makan petang saat itu terasa sangat nikmat. Hingga Sabtu siang, aku makan hanya lauk capuk, kecap dan kerupuk. Minggu depan aku harus lebih berhati-hati membelanjakan uang saku yang besarnya hanya cukup untuk kebutuhan primer satu minggu. Tidak ada jatah untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier.
Musi Rawas, 4 Februari 2024
PakDSus