artikel

Tulisan Adalah Penanda Peradaban

Hape berdering. Sederet angka nomor seluler muncul. Biasanya saya biarkan hingga berhenti berdering. Setelah itu, saya akan menyalin nomor tersebut dan mencarinya di aplikasi Get Contact. Jika terindikasi penipu atau spam, pasti saya blokir. Akan tetapi, nomor yang memanggil saya memiliki DP atau gambar profil lambang JNE. PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir yang disingkat JNE dengan lambang yang khas melalui kurirnya memberitahu saya bahwa ada paket untuk saya. Saya pun menjawab, “Siap!”

“Setelah pertigaan keempat, belok kiri, lalu pas jalan setapak belok kanan.” Saya memberi petunjuk kepada sang kurir paket.

“Baik, Pak. Saya masih mengantar paket ke tempat lain, mohon menunggu,” jawab sang kurir.

Saya pun melanjutkan pekerjaan saya. Masih tersisa satu naskah antologi penulis RVL (Rumah Virus Literasi) yang belum saya uji baca.

Sedang asyik membaca dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada, bel sepeda motor berbunyi disertai teriakan, “Paket!” membuat saya berdiri dan membuka pintu.

“Bapak Susanto!” kata sang kurir.

“Betul sekali, Pak. Apakah paket buku?”

“Sepertinya iya, Pak. Mohon diterima,” jawab kurir dengan ramah.

“Tidak perlu difotokah?” tanya saya meyakinkan.

“Tidak, Pak. Permisi,” pamit si kurir.

“Terima kasih, hati-hati di jalan!”

Saya membawa masuk bungkusan berwarna putih. Ada tulisan tangan berwarna biru. Tulisannya rapi, miring ke kanan. Saya pun teringat teman, guru, dan dosen saya yang mirip dengan tulisan sang Pengirim.

Saya baca tulisan berwarna biru itu. Pengirim, Ngainun Naim, UIN SATU Tulungagung. Wow, secepat itu. Hari Kamis, 16 Maret 2023, hari istimewa dalam hidup saya dan istri, saya diminta Pak Ngainun untuk mengirimkan alamat. Alamat yang saya simpan di WA segera saya salin dan tempel kemudian saya kirimkan pada hari itu juga. Hari ini Senin, 20 Maret 2023 saya tidak menyangka buku yang saya pesan datang dan sampai di tangan.

Belum hilang rasa takjub saya, ketika bungkusan saya buka ternyata isinya ada dua. “Sikok isi duo!” Satu bungkusan berisi dua benda. Buku yang saya pesan sebagaimana “iklan” yang dibagikan di grup RVL adalah buku berjudul Jejak Intelektual Terserak. Namun, paket itu berisi dua eksemplar buku.

Tulisan adalah Penanda Peradaban

Salah satu cara menghargai sesama penulis adalah membeli karya literasinya. Setelah melihat buku karya Prof. Ngainun, saya berniat membeli. Oleh karena itu, pada kolom percakapan saya menulis bahwa saya ikut memesan.

Jika anggaran memungkinkan dan istri mengizinkan, he he …, maunya saya membeli semua buku karya para penggiat literasi, khususnya di grup RVL. Maksud hati memeluk gunung, apa daya ….

Buku dari Prof. Ngainun adalah buku hadiah. Bahasa keren di media sosial adalah GA alias giveaway. Betapa tidak, untuk kedua buku itu saya hanya mengganti ongkos kirim yang sudah lunas dibayar oleh sender kepada PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir. Sementara, kedua buku yang berharga itu betul-betul dihadiahkan kepada saya. Bahkan, pada halaman pertama tertulis:

Tulisan adalah penanda peradaban. Buat Pak Susanto.

Tulisan itu lengkap disertai tanda tangan.

Saya pun teringat dengan tulisan Suhu Emcho pada laman muchkhoiri.com. Di sana tertulis: Mengapa Anda lebih baik menyampaikan ke dalam tulisan, bukan ungkapan lisan? Sehebat apa pun Anda, ungkapan lisan akan lenyap, pikiran juga akan sirna, dan tindakan Anda akan tak berbekas. Yang abadi adalah jika Anda menulis apa yang Anda pikirkan, ucapkan, dan lakukan. 

Tulisan, jejak digital maupun jejak fisik, adalah penanda bahwa ada sesuatu yang ditinggalkan manusia pada zamannya. Ada sekelumit pengetahuan tentang kebendaan, sastra, seni, dan lainnya yang diceritakan. Oleh karena itu, benar jika Prof. Ngainun memberi kenang-kenangan berupa tulisan pada buku yang dihadiahkan kepada saya bahwa, tulisan adalah penanda peradaban.

Jika yang dipikirkan dan dilakukan hanya disampaikan secara lisan, niscaya akan lenyap. Ia akan hilang karena keterbatasan memori otak manusia untuk menyimpan apa yang ia dengar.

Terima kasih, Prof. Ngainun. Hadiah buku Anda akan saya baca dan pelajari. Buku Anda sangat berguna dalam rangka merawat semangat berliterasi dan sarana untuk belajar menulis agar tulisan pada masa mendatang lebih baik lagi.

Musi Rawas, 20 Maret 2023
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Tulisan Adalah Penanda Peradaban

  • Selamat, Pak D. Sy ikut senang..

  • Jangankan mendapatkan hadiah buku dari prof. Ngainun Naim diberikan komen di blog saja sudah suenengnya minta ampun. Selamat atas hadiahnya dan tulisan inspiratif lainnya sangat saya nantikan.

  • Theresia Martini

    Selamat, Mas dapat hadiah dari Prof. Ngainun Naim. Alamatku butuh gak ya?
    Saya pengen juga belajar menulis spt njenengan, gaya bahasa santai tapi kualitas intelektual …
    Terima kasih telah berbagi.

  • Wah..senangnya dapat hadiah buku dari Prof,Ngainun Naim
    Terima kasih juga pak telah menyampaikan secara fiksi
    Bisa belajar nih ..nulis fiksinya lancar mrngalir

Comments are closed.