USDEK, Dialog dengan Kata Hati: Pentingnya Tanda Kurung
Sejatinya, saya agak bingung dengan kata USDEK. Meskipun dalam artikel ada kata Usdek dan dicetak tebal serta di sebelah kanan ada kata-kata lanjutan unjuk’an, snack, daharan, es, kondur.
“Dasar otak udang, masa nggak tahu Usdek itu apa?” tanya Hati Kecilku.
“Emang gak tahu!” jawabku pula.
“Itu, di sebelah kanannya kan ada kepanjangannya, unjuk’an, snack, daharan, es, kondur, Bos” kata Hati Kecil dengan nada mencibir.
Aku pun membuka kembali naskah tempat aku menemukan istilah usdek itu. Setelah kueja, ternyata cocok. Akronim mengambil huruf awal dari kata-kata unjuk’an, snack, daharan, es, kondur. Lebih kurang artinya: hidangan, minuman, cemilan, makan, es, dan pulang.

Setelahnya, aku menggaruk-garuk kepalaku yang memang terasa gatal.
“Kenapa kamu tidak bisa berpikir out of the box, sih? Meskipun tidak diberi tanda kurung ‘kan jelas kata-kata selanjutnya bisa diterka kepanjangan dari USDEK wahai pemilik badan!” Hati Kecilku kembali mencibir.
Aku hanya bisa menghela napas. Ini penulisnya yang egois atau menganggap semua pembaca sepandai diri sang penulis.
“Berbeda dengan bahasa lisan, bahasa tulis sangat bergantung dengan pungtuasi, ‘kan? Pembaca akan membaca dengan intonasi yang tepat sehingga dia memaknai kalimat sesuai dengan intonasi yang dilagukannya. Aku suka makan jambu monyet. Itu contohnya. Silakan kamu baca sesuai lagu kalimat yang kamu suka. Lalu, rasakan. Yang suka makan jambu monyet itu si Aku atau si Aku mengatakan kepada monyet bahwa dirinya suka makan jambu.” Giliranku berbicara sendiri.
Kenapa si penulis tidak memberi tanda kurung sesudah kata Usdek? Bukankah Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan tambahan, seperti singkatan atau padanan kata asing?
Bagiku, Usdek itu asing. Selama ini Usdek aku pahami sebagai ajaran Sukarno yang mengiringi pidato politiknya yang disingkat Nasakom. USDEK sendiri akronim dari Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, dan Ekonomi Terpimpin.
“Kalau begitu wajar jika si kamu lambat memahami pengertian Usdek. Si penulis tidak memberi tanda kurung. Sementara jika tidak diberi keterangan dalam tanda kurung karena dianggap asing kamu cukup lama memahami. Oke, kalau demikian, jangan menyalahkan si penulis. Kamu saja nanti jika menulis yang mengandung unsur asing maka berilah tanda kurung sesuai kaidah EYD V (Ejaan Yang Disempurnakan Edisi Kelima) agar pembaca tulisanmu tidak bingung. Jangan kira pembaca memiliki tingkat pemahaman sepertimu atau para pembaca adalah orang-orang yang cerdas semua.” Kata Hatiku kembali menguraikan.
“Huah …!” Aku mengantuk. Besok harus melakukan perjalanan ke Serang lanjut ke Bandung dan Sukabumi. Syukur-syukur bisa sampai ke Jawa Tengah.
Musi Rawas, 22 Juni 2024
PakDSus