Sekapur Sirih, Prakata, dan Kata Pengantar

blogsusanto.com – Ketika membuka sebuah buku, kita akan menemukan sekapur sirih. Pada buku lain ditemukan Prakata dan Kata Pengantar. Jika dicermati, ternyata ketiganya ada persamaan dan perbedaanya.
Tulisan ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Sekapur Sirih dan Kata Pengantar, Bedanya Apa?”, Kreator: Susanto (author blog ini) Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/susantogombong/64f82c294addee33e4606912/sekapur-sirih-dan-kata-pengantar-bedanya-apa
Sekapur Sirih, Prakata, dan Kata Pengantar
Saya menyimpan ketiga kata tersebut karena awalnya saya pun tidak paham perbedaannya.
Seperti seorang teman di GWA RVL yang menanyakan:
Izin bertanya, saya masih agak bingung dan galau selama ini. Apakah berbeda antara sekapur sirih dan kata pengantar? Jika berbeda, bedanya di mana? #mohon.pencerahan
Tidak lama kemudian, sahabat-sahabat anggota grup memunculkan jawabannya. Misalnya:
Ini sesuai apa yg saya lokoni. Sekapur sirih dari penulis. Kata pengantar bukan dari penulis. Maaf jika tdk benar.
Mendapati ada ‘masalah’ dan permasalahan itu ia kuasai lantaran sudah terbiasa menulis buku, seorang teman lainnya berkomentar:
Misalnya, Pak Makhrus menulis artikel. Boleh memberi sekapur sirih/prakata pada karya sendiri. Sedangkan pengantar/kata pengantar ditulis oleh orang lain yang diminta oleh pak Makhrus. Pengantar ini diajukan pada ybs jika naskah sudah dalam keadaan selesai tapi belum dikirim ke penerbit. Untuk dibaca, tentunya. Dg demikian, yg membuat pengantar tahu apa yang akan diantarkan dari naskah tersebut. Dengan demikian, dari prakata dan pengantar pembaca bisa tahu secara garis besar isi dan makna buku tersebut. Tetapi baik prakata/sekapur sirih/pengantar adalah tidak wajib ada pada sebuah buku. Khusus buku antologi Kopdar 2 RVL Jogjakarta, Master sdh menyampaikan di grup sebelah bahwa beliau yang menulis pengantarnya. Semoga bisa mencerahkan. Jika ada kesalahan dan atau kekurangan, insyaAllah akan dijelaskan langsung oleh Master.
Rupanya, si penanya bernama Makhrus. Pak Makhrus ini sahabat maya yang pernah berjumpa darat di Yogyakarta ketika sama-sama mengikuti Kopdar Kedua Rumah Virus Literasi.

Nah, siapa yang dimaksud dengan Master tersebut pada komentar teman tadi?
Dalam komentar di atas sudah eksplisit disebutkan bahwa sang Master adalah pemberi kata pengantar buku antologi Kopdar 2 RVL. Beliau adalah Master Emcho, Dr. Much. Khoiri. Ketua sekaligus founder RVL (Rumah Virus Literasi).
Tidak lama kemudian, sekitar sepuluh menit, sang Master pun memberikan penjelasannya.
Sekapur sirih itu istirah [sic!] indah dari prakata (preface). Ia ditulis oleh penulis buku mandiri atau editor buku buku antologi. Untuk karya fiksi, ia tidaklah selalu penting adanya. Namun, untuk karya nonfiksi, ia wajib ada sebagai “pintu” pertama bagi isi bukunya. Sementara itu, kata pengantar (forward) ditulis oleh orang lain, bukan penulis buku, yg tujuannya utk mengantarkan penulis dan isi buku kepada pembaca. Utk buku fiksi dan nonfiksi, kata pengantar tidak wajib adanya. Dalam struktur buku, dari luar ke dalam: kover depan, sambutan (jika ada), kata pengantar (jika ada), prakata, daftar isi, isi buku, referensi, glosarium, indeks, biodata penulis. Nah, dalam kontek tulisan (buku) sekapur sirih sepadan dengan prakata. Sekapur sirih ditulis oleh penulis atau editor buku antologi, sedangkan kata pengantar ditulis oleh seseorang yang dianggap kompeten untuk mengantarkan penulis dan isi bukunya kepada para pembacanya.
Akhirnya, malu bertanya sesat menjawab. Jika tidak bertanya, kita belum tahu jawaban yang pasti. Jika ditanya dipastikan jawaban yang dikeluarkan boleh jadi salah dan menyesatkan.
Apabila berani bertanya dan mendapat jawaban yang benar maka jika ditanya tidak akan memberikan jawaban yang menyesatkan penanya. Frasa malu bertanya sesat menjawab pernah hadir pada sebuah majalah remaja tempo dulu.
Musi Rawas, 8 September 2023
PakDSus