Adab Kreator Konten

Technology vector created by freepik – www.freepik.com
Tidak dipungkiri semenjak media sosial marak, unggahan berupa tulisan, gambar, bahkan gambar bergerak alias video makin dinamis. Setiap pembuat konten bebas menerbitkan karyanya di media sosialnya. Tidak ada penyelia atau tim redaksi yang menyeleksi. Pembuat konten adalah redaktur bagi konten yang dibuatnya.
Seakan tidak ada filter, unggahan “demi konten” kadang tidak memerhatikan adab dan etika terhadap hal yang berkaitan dengan privasi dan perasaan seseorang. Salah satu contohnya adalah peristiwa “kematian”. Melihat kondisi kediaman almarhum, memfoto, menanyakan kepada pihak keluarga apakah ada firasat sebelumnya, lalu dengan dalih memohon doa membagikannya di media sosial adalah perbuatan yang dianggap tidak beradab.
Mari kita bandingkan dengan peristiwa kolapsnya Christian Eriksen yang diduga akibat cardiac arrest ketika memperkuat tim Denmark dalam laga melawan Finlandia. Kita belajar adab dan etika dari peristiwa mengharukan yang menimpa gelandang Denmark itu. Eriksen tiba-tiba terjatuh saat melawan Finlandia dalam laga Grup B Euro 2020 di Parken Stadium, Copenhagen, Sabtu (12/6/2021) malam WIB. Ia ambruk di menit-menit akhir pertandingan.

Mengamati foto yang diunggah sport.detik.com terlihat para pemain, rekan-rekan Eriksen menutup TKP sambil berdoa. Para pemain lawan menjauh. Dari cuitan para netizen, diperoleh informasi bahwa kamera tidak menyorot dengan tampilan zoom, tetapi mengambil gambar penonton dan tidak memutar ulang kejadian itu terus-menerus. Para penonton memberikan dukungan, dan banyak akun media sosial sepakbola juga memberikan dukungan.
“Ini sangat menyedihkan untuk disaksikan. Juga tolong berhenti membagi video-video Christian atau kekasihnya dan matikan kameranya.”
Demikian detik.com mengutip cuitan pemain Atalanta, Marten de Roon.
Yang dilakukan para pemain, kamerawan, dan cuitan Marten de Roon adalah adab terhadap orang yang diduga meninggal dunia. Betapa sedih sang istri atau sanak saudara jika kesedihan yang dirasakan masih ditambah dengan shot kamera apalagi di-zoom dan ditayangkan berulang-ulang.
Jadi, ayo kita berhenti mengunggah bahkan melaporkan kronologi meninggalnya saudara atau orang tua kita. Jika berdalih agar orang lain tahu dan mendoakan, haruskah kita zoom wajahnya?
Salam kreator konten, Salam blogger sehat,
Tujuan untuk mengekspose apa? Terima kasih kunjungannya, Bu Srihar.
Saya hargai pendapat Ibu Ditta.
Saya setuju pak D, kalau pun mengekspose harus ijin keluarga almarhum/ah terlebih dahulu dan tidak perlu men zoom kondisi detail korban jikapun utuk meminta mendoakan akmarhum/ah
Menarik. Tapi beberapa tulisan kronologi terkait meninggalnya seseorang bisa jadi bahan renungan dan motivasi untuk membekali diri lebih baik loh Pak D.
Saya pernah baca postingan teman yang baru kehilangan suaminya. Dari tulisan tersebut, saya mengetahui bahwa suaminya meninggal ketika shalat.
“… Aku beriman atas qodho dan qodar-Mu ya Allah. Selamat sayang, Allah memanggilmu di saat kau solat, suci ….”
Pernah juga melihat tayangan dari rekaman cctv saat ada jemaah yang meninggal ketika sujud. Benar-benar membuat iri dan berharap semoga kelak Allah memanggil dalam keadaan suci.
Meski demikian, saya sepakat untuk tidak menayangkan/memfoto korban-korban yang meninggal misal akibat kecelakaan, sakit parah (ketika banyak selang dan peralatan medis tertancap di tubuh pasien), pembunuhan, dan semacamnya.
Bravo Pak D
Setuju Om Jay kitabunggah konten yg positip dan bermanfaat
Mengabarkan dan memintakan doa bagi rekan yang meninggal jika tidak mengekspose sehingga hal yang bersifat pribadi terungkap, saya kira sih gak apa-apa.
Ya Allah saya baru saja kehilangan teman dan sahabat dan saya tuliskan di blog. Mudah-mudahan tidak termasuk katagori ini.
Maaf Pak D. Christian Eriksen tidak meninggal. Dia berhasil selamat.
Memang orang-orang di sana bagus banget. Memberi tindakan cepat dan tidak mengekspose gambar kondisi korban
Ya, Omjay!!
Ayo kita banjiri internet dgn konten konten yang positif