Pengalaman Melakukan Multitasking

People vector created by stories – www.freepik.com
“Maaaaas …!” teriak istri saya ketika ia masuk dapur.
Mendengar teriakan istri, saya pun bergegas beranjak dari kursi menuju ke dapur. Terlihat asap putih mengepul dan wajan penggorengan hangus menghitam. Sambil nyengir, saya melihat wajah kecut istri yang baru saja mematikan kompor gas.
Pelan-pelan, asap pun menghilang melalui celah-celah lubang angin dapur. Setelah asap mereda, wajan alumunium berisi sisa gulai daging ayam yang hitam gosong saya letakkan di tempat cucian.
“Kalau masak mbok ya jangan disambi buka laptop!” kata istri menasihati.
Kejadian itu bukan kali pertama. Beberapa tahun lalu, ketika anak dan istri pulang ke pulau Jawa menengok orang tuanya, saya tinggal di rumah berdua dengan anak nomor tiga, perempuan. Saya pergi ke pasar membeli ayam potong utuh satu ekor. Daging itu saya masak dengan bumbu gulai instan yang saya beli dari pasar swalayan. Air santan saya buat sendiri dengan bantuan anak gadis usia SMP. Setelah bumbu dan ayam sudah siap, saya masukkan ke dalam panci presto lalu meletakkannya di atas nyala api kompor gas.
Anak saya sibuk dengan pekerjaannya. Saya, sambil menunggu panci presto yang mulai mendesis, masuk ke kamar membuka laptop. Membaca pesan-pesan di WhatAppWeb, menonton video youtube, membaca cuitan-cuitan di twitter. Saat itu saya belum aktif menulis di blog. Kami berdua pun tenggelam dengan kegiatan masing-masing. Saya lupa bahwa saya sedang memasak gulai ayam.
Saya kembali teringat dengan gulai tadi setelah anak perempuan yang sekarang sudah kuliah semester dua berteriak.
“Ayah, hangus!”
Saya bergegas ke dapur. Benar saja, asap yang keluar dari luang kecil panci presto itu tercium bau daging terpanggang. Segera kompor saya matikan, panci saya biarkan hingga bunyi desisnya menghilang. Setelah mendingin, tutup panci saya buka. Kering. Daging paha ayam pun terlihat sudah terlepas dari tulangnya. Meskipun belum sampai gosong, gulai ayam tak berkuah itu berwarna kecoklatan dengan daging yang loyak.
Multitasking
Itulah pengalaman saya melakukan multitasking. Menghangatkan gulai sambil membuka laptop, memasak sambil membuka laptop. Bukan membuka saja, ya. Ada aktivitas membaca dan mengetik di sana.
Dalam bahasa Indonesia, multi termasuk pronomina. Multi adalah bentuk terikat berupa awalan yang berarti banyak. Sedangkan tasking berasal dari kata task (bahasa Inggris) yang berati tugas. Task is a piece of work to be done or undertaken. Jadi, multitasking disebut juga sebagai tugas ganda. Jika dalam konteks kisah nyata yang saya ceritakan di atas, multitasking itu pekerjaan yang “nyambi-nyambi”. Sebagian besar orang, pernah melakukan multitasking seperti itu.
Guru blogger saya, Bapak Wijaya Kusumah atau Omjay, sering “memamerkan” (saya tulis di antara tanda petik) kegiatan multitasking, baik di blog maupun di grup-grup penulis yang saya ikuti. Seperti yang ia ceritakan pada tulisan berjudul Film India. Juga sekali waktu, Omjay pun menceritakan kegiatannya membuka acara pelatihan menulis di grup belajar menulis, mengikuti webinar, dan sekaligus membuka pertemuan Zoom dengan koleganya.
Multitasking juga sering dilakukan oleh istri saya, mungkin sebagian besar kaum perempuan. Pada waktu pagi, ia melakukan banyak kegiatan sebelum ia berangkat bekerja menjelang pukul 06.30.
Setelah mencuci beras, lalu menangkringkan panci untuk menanak nasi. Api kompor sebelah dinyalakan untuk merebus air. Sambil menunggu air mendidih, ia pun berjongkok membersihkan perabot dapur yang kotor. Kemudian mengiris dan menyiapkan bumbu untuk membuat sayur serta sambal. Kadang mengiris tempe atau tahu, menyiangi ikan, atau memotong dan membersihkan daging ayam. Ketika beras yang direbus telah melunak, ia pun menyiapkan kukusan. Lalu, air keran pun dibuka. Ia mengisi mesin cuci dan mulai mencuci.
Amboi, lincah sekali. Sesekali saya membantunya atau sekedar berdiri sebentar menemani. Ketika lauk dan sayur siap, cucian pun masuk ke mesin pengering. Lantai dapur dilap, perabot dapur yang kotor pun dicuci dan kembali bersih. Ketika menjemur pakaian, keadaan dapur sudah bersih kembali seperti semula.
Mengatasi Ketidakefektifan Multitasking
Sungguh, sulit bagi saya untuk multitasking. Alih-alih menyelesaikan banyak pekerjaan, muncul pekerjaan lain seperti menggosok wajan yang gosong atau hasil pekerjaan tidak memuaskan (gulai ayam yang kekeringan). Bagaimana mengatasi ketidakefektifan multitasking?
Susan Weinschenk Ph.D, pada tulisannya berjudul The True of Multi-Tasking memberikan tips mengatasi ketidakefektifan multitasking. Beberapa di antaranya saya sebutkan di bawah ini.
#1. Lakukan 20% tugas untuk menghasilkan 80% dampak efektivitas. Kita sering membuat kesalahan dengan berpikir bahwa menjadi sibuk berarti menjadi efektif. Semakin sibuk kita, semakin banyak multitasking yang akhirnya dilakukan. Menurut penelitian, hasilnya tidak benar-benar efektif. Oleh karena itu, fokuslah untuk mengidentifikasi 20% tugas kita yang benar-benar efektif dan lakukan satu per satu.
#2. Kerjakan tugas terpenting terlebih dahulu. Pilihlah tugas yang menurut kita paling penting ketimbang melakukan multitasking.
#3. Gunakan waktu yang terkonsentrasi. Melakukan multi tasking berarti membagi waktu untuk bermacam pekerjaan. Karena, kita tidak benar-benar melakukan banyak hal dalam satu waktu. Kita melakukan pekerjaan dengan “nyambi” dengan pekerjaan lain. Ambil satu waktu, misalnya satu jam, lalu mengerjakan HANYA satu tugas. Matikan ponsel, tutup email, tutup pintu kamr atau pergi ke tempat yang orang lain tidak bisa menemui kita.
#4. Keluar dari jaringan. Berada dalam jaringan (online) mendorong melakukan banyak tugas. Bekerja (mengetik/mengedit/membuat video) lalu membuka WA Web, membuka email, membuka saluran Youtube, membaca FB, membaca Twitter, dan kembali lagi ke tugas. Apa yang terjadi? Waktu banyak terbuang dan menimbulkan kelelahan. Hasil kerja tidak maksimal, bahkan dapat terjadi kesalahan. Dengan memutus arus data dalam jaringan, kita dapat fokus mengerjakan hanya satu tugas.
Bagaimana jika dalam melaukan tugas kita membutuhkan data dan tentu saja dibutuhkan jaringan internet? Saran terbaik adalah kumpulkan bahan atau data yang diperlukan lebih dulu, lalu bekerja di luar jaringan.
Penutup
Bagi sebagian orang, melakukan multitasking dianggap sebagai kegiatan yang efektif, banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan. Bahkan ada yang bangga karena mampu melakukan banyak hal dalam waktu yang relatif bersamaan. Namun hasil penelitian psikologi tentu berlaku lebih umum. Banyak tugas yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan, terlebih bagi mereka yang tidak mudah membagi konsentrasi dapat berakibat fatal.
Setuju atau tidak, kembali kepada Anda.
Salam Literasi, Salam Blogger Sehat,
PakDSus
Terima kasih kunjungannya.
Wow Cerita yang menarik pak keren.
Mantab… termasuk saya yang seneng nyambi2… hehehe
Umumnya multitasking banyak dilakukan oleh ibu-ibu dalam menyelesaikan rumahtangganya. keren tipsnyauntuk multitasking agar tidak terjadi kegagalan.
Multitasking bisa dilakukan asal bisa membagi. Tapi tidak semua pekerjaan bisa dilalkukan dengan multitasking. Mantab terima kasih pak D
Kegiatan multytasking sangat efektif bila dilakukan bersama dengan sama sama memahami pekerjaanya. Cuma sisi kepatuhan berpengaruh. Memang jadi kayak robot. Tapi cepat kelihatan gesit….termasuk suara memerintah tinggi…..gampang dilihat di toko grosir etnis Cina di banyak tempat. Tangannya pegang kalkulator, sebelahnya lidi tanda barang masuk, langsung perintah ambil barang, telinganya ada hp bunyi…matanya cek kasbon dll oleh satu orang…..itu sehari-harinya. Tidak tahu dampak psikologisnya. Yang jelas tokonya ramai
Upadate! Terima kasih.
koreksi sedikit di aline pertama, ketika, bukan ketia, terima aksih, sangat menginspirasi kami, dna teruslah menulis.