bahasa

Ayo, Berliterasi

Adalah Echa Sriyanti, S.Pd.I, Kepala SMP Negeri Sukamulya, Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Musi Rawas. Kepala SMPN Sukamulya Kabupaten Musi Rawas ingin membelajarkan para guru di sekolahnya tentang Implementasi Kurikulum Merdeka. Sekolah yang ia pimpin, pada tahun pelajaran 2022/2023 menerapkan Kurikulum Merdeka pada pilihan merdeka berubah. Oleh karena itu, agar pemahaman guru di sekolahnya terhadap implementasi kurikulum merdeka semakin baik, beliau mengajak mereka untuk belajar dalam bentuk lokakarya atau workshop.

Flyer Workshop

Pemerintah tidak menyelenggarakan pelatihan secara khusus agar guru memahami Kurikulum Merdeka. Namun, pemerintah menyediakan aplikasi berbasis web dan android yakni PMM (Platform Merdeka Mengajar). Belum semua guru memahami dan memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar. Melalui PMM tersebut, guru belajar mandiri tentang Kurikulum Merdeka. Guru juga belajar mandiri tentang capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, modul ajar, maupun proyek-proyek dalam rangka mengembangkan profil pelajar Pancasila.

Inisiatif Ibu Echa mengajak gurunya belajar ternyata menarik minat rekan-rekan guru dari berbagai sekolah (SMP dan SD) di wilayah Musi Rawas untuk bersama-sama belajar.

Ada beberapa narasumber. Ibu Dr. Leni Marlina, M.Si, dosen Pasca Sarjana Pendidikan Fisika dari Universitas Sriwijaya yang juga Fasilitator PSP menyampaikan materi tentang Tips Mengajar dengan Totalitas. Ibu Sapto Kristiowati, S.Pd., Pengajar Praktik PGP Angkatan 5 menyampaikan materi tentang Pemanfaatan akun belajar.id dan PMM (Platform Merdeka Mengajar) serta Konsep Merdeka Belajar. M. Asyari Pupanosa, M.Si dan Peri Saputra, M.Pd. menyampaikan materi tentang pembuatan Modul Ajar. Saya mendapat tugas untuk menyampaikan materi tentang literasi dan Numerasi dalam Kurikulum Merdeka.

Menularkan Virus Literasi

Kegiatan literasi adalah kegiatan yang erat kaitannya dengan membaca dan menulis. Termasuk di dalamnya menyimak dan berbicara. setidaknya ada enam kemampuan literasi yang perlu dimiliki murid. Literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya.

Saya menanyakan tentang gerakan literasi sekolah yang sudah dilakukan. Rata-rata, para peserta menjawab kegiatan membaca dan menulis resensi buku yang dibaca (baca tulis), kultum (berbicara), menonton video dan membuat resume dari tayangan yang ditonton (menyimak dan menulis), menulis slogan, dan membaca bacaan 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Sementara yang ingin dilakukan adalah kegiatan literasi yang memanfaatkan teknologi, misalnya menggunakan Tik Tok, Youtube (literasi digital).

Dari sekian banyak jawaban, saya belum menemukan kegiatan atau rencana kegiatan berupa menulis dan membukukannya. Oleh karena itu, dalam kesematan yang sangat baik saya mengajak rekan-rekan guru untuk menggelorakan semangat menulis. Aplikasi blogger di Playstore dapat dimanfaatkan sebagai wadah siswa untuk berlatih menulis. demikian pula guru.

Kabar yang menggembirakan adalah sebagian peserta mengaku sudah dan sedang menulis pada komunitas-komunitas yang diikutinya. Dia antaranya ada yang sedang menggarap proyek menulis gruindam, pantun, dan puisi. Bagus sekali.

Bagaimana cara melatih murid agar mudah menulis? Ada beberapa cara, seperti: menceritakan gambar yang dipilihnya dan bercerita dalam seratus kata berdasarkan gambar tersebut. Bentuk tulisan bebas. Untuk menumbuhkan keberanian menulis, abaikan kesalahan yang terjadi. Misalnya kesalahan penulisan huruf, tanda baca, bahkan struktur kalimat.

Jika keberanian menulis sudah tumbuh, tingkatkan keterampilan dengan mulai memperhatikan struktur karangan: awal, inti, dan penutup dengan menjawab unsur 5W 1H atau “adiksimba” (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana. Dengan demikian, literasi produktif murid akan berkembang.

Menulis tidak bisa lepas dari membaca. Dengan membaca, perbendaharaan kata makin banyak. Wawasan pun semakin berkembang. Oleh karena itu, menjadi kegiatan membaca sebagai kebutuhan adalah keniscayaan. Namun, pada kenyataannya, sebagian murid menganggap bahwa membaca adalah kewajiban. Kegiatan literasi yang menyenangkan akan mendorong murid membaca dan dan membaca kan menjadi suatu kebutuhan, tidak hanya sekadar kewajiban karena harus menyelesaikan proyek tertentu dari sang guru.

Untuk memotivasi teman-teman guru agar mau menulis, pada kesempatan itu saya memberikan kenang-kenangan kepada kepala sekolah, Ibu Echa berupa buku memoar. Pijar Lentera Asa, adalah buku memoar yang berhasil saya susun atas dorongan penggiat literasi, guru dan panutan saya, Ibu Kanjeng.

Buku Pijar Lentera Asa sebagai Kenang-kenangan untuk Kepala SMPN Sukamulya

Musi Rawas, 13 Juli 2022

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.