Kelas Ceria Pak Eko

“Huh …, matematika bikin pusing!”
Meskipun tidak terdengar keras, kalimat yang keluar dari mulut Rio, siswa kelas enam, begitu jelas terdengar di telinga Pak Eko. Guru paruh baya itu sedang menuliskan soal matemtika di papan tulis. Pak Eko tersenyum sambil terus menuliskan dua buah soal uraian berbentuk cerita di papan putih dengan spidol warna hitam yang ujung matanya sudah mulai tumpul.
Ia tak tersinggung. Sebagai guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun itu tahu betul betapa banyak siswa yang menganggap matematika sebagai momok. Namun, akhir-akhir ini, ia mulai berpikir, “mungkin bukan siswaku yang salah, tetapi caraku mengajar yang perlu berubah.”
Pada saat istirahat, lelaki tua berkaca mata itu duduk di ruang guru. Ia membuka laptop hadiah dari anak sulungnya sambil menyeruput kopi. Di sebelahnya, Bu Dian, guru kelas empat yang tidak kalah senior, namun beliau dikenal kreatif dan enerjik. Bu Dian baru saja selesai menempel grafik di papan majalah dinding. Majalah dinding di sekolahnya ada dua, satu di samping ruang guru. Satunya lagi di depan ruang perpustakaan. Hanya dua tempat itu yang terlihat strategis dan menjadi lalu lalang anak-anak.
“Apa itu, Bu Dian?” tanya Pak Eko sambil meletakkan gelas kopi pada piring kecil.
“O, ini grafik hasil survei makanan favorit anak-anak. Minggu lalu saya ajak mereka bikin kuesioner, lalu hari ini kami visualkan hasilnya. Seru loh!” jawab Bu Dian semangat.
Pak Eko menatap grafik itu lama. Pie chart warna-warni terpajang dengan jelas, menunjukkan bahwa nasi goreng dan mie ayam mendominasi pilihan. Di bawahnya, ada catatan tangan siswa menjelaskan proses perhitungan.
“Bu Dian… ini numerasi ya?” tanya Pak Eko pelan.
“Betul, Pak Eko. Bukan sekadar matematika di buku. Ini numerasi, kemampuan anak-anak menerapkan matematika dalam kehidupan nyata,” jawab Bu Dian, “Itu definisinya menurut Kementerian.”
Pak Eko mengangguk pelan. Ia teringat kerangka kompetensi numerasi untuk guru yang sempat ia unduh beberapa waktu lalu tapi belum sempat dibaca.
Di dalamnya dijelaskan bahwa numerasi tidak hanya tentang angka, tetapi juga kemampuan membaca data, menafsirkan informasi, dan membuat keputusan berdasar logika.
“Tapi, kenapa Bu Dian membuat gambar-gambar itu, ya?” batin guru yang beberapa tahun lagi pensiun sambil membetulkan letak kaca matanya.
“Pak Eko tahu nggak?” Tiba-tiba suara bu Dian membuyarkan lamunannya.
“Kemarin, anak-anak saya suruh menghitung luas lapangan sekolah pakai langkah kaki, lo. Wah, senang bukan main. Padahal kan saya tetap mengajarkan dan mereka belajar panjang dan luas,” cerita Bu Dian sambil tertawa kecil menunjukkan baris putih guru bercucu dua itu.
“O, kemarin waktu Bu Dian mengajak anak-anak ke lapangan. Saya heran, kenapa ke lapangan tidak memakai baju olah raga. Rupanya Ibu mengajak anak-anak mengukur lapangan.”
“Iya, Pak. Seperti bapak bilang bahwa Rio mengeluh matematika bikin pusing. Kuncinya cuma satu, matematika harus menyenangkan dulu, baru mereka mau,” jelas bu Dian sambil berjalan menuju kursi tempat duduknya.
“Mudah-mudahan, anak-anakku ketika sampai di kelas enam nanti tidak mengeluh seperti Rio,” kata bu Dian lagi.
Pak Eko merasa malu. Sebenarnya ia disukai anak-anak. Penjelasan yang ia berikan mudah ditangkap mereka. Buktinya kalau ulangan sebagian besar muridnya bisa menjawab. Bahkan, ketika diminta mengarang pun sebagian besar siswa mampu menulisnya dengan baik. Tapi, … matematika …. Pelajaran itu membuatnya menghela napas dalam-dalam.
Malamnya, Pak Eko tak bisa tidur. Ia membuka buku paket matematika yang menjadi sumber belajar di kelasnya. Materi yang sedang ia ajarkan adalah pecahan, desimal, dan persen. Materi itu yang kemarin dikeluhkan Rio.
Ia menyalakan lampu, membuka kembali dokumen Kerangka Kompetensi Numerasi yang sebelumnya ia unduh. Ia membacanya perlahan, membayangkan apa yang bisa ia ubah esok hari.
“Selamat pagi, anak-anak hebat! Yuk, ketua kelas menyiapkan dan berdoa bersama!” ajak Pak Eko ketika ia sampai di kelas pada jam pertama, keesokan hari. Selesai berdoa, guru kelas enam itu pun memperlihatkan lembaran-lembaran kertas berwarna.
“Anak-anak, perhatikan yang Pak Eko bawa! Hari ini kita belajar matematika dari katalog belanja. Hari ini kita akan bermain belanja. Ayo, temukan barang-barang apa saja dan catat harganya. Jangan lupa, jika ada diskon dicatat juga.”
Tiba-tiba kelas menjadi riuh. Anak-anak beranjak dari tempat duduknya. Mata mereka berbinar. Pelajaran hari ini agak berbeda dari biasanya. Setelah mendapat brosur belanja, anak-anak berkelompok, mencatat barang-barang beserta harga dan diskonnya.
Andai ada yang merekam video suasana kelasnya pada hari itu, pasti jauh berbeda dengan suasana ketika ia mengajarkan soal cerita kemarin.
Lelaki paruh baya berkaca mata itu tersenyum. Ia tidak perlu repot menuliskan banyak angka dan kata di papan tulis. Meskipun bergitu, anak-anak aktif bekerja. Ia merasa telah menemukan jalan yang baru. Bu Dian benar, numerasi itu penting, tapi harus menyenangkan.
Musi Rawas, 16 September 2025
PakDSus
