bahasa

Berbagi Sedikit di Kelas Menulis Bersama PGRI dan Omjay Gelombang 18

Menjadi peserta pelatihan menulis melalui WA di Kelas Menulis PGRI Bareng Omjay Gelombang 15 membuat saya memberanikan diri diikutkan berkecimpung di dalamnya. Menjadi relawan “membagikan” materi narasumber Gelombang 18 kepada lima grup lainnya adalah awal mula bergabung dengan Tim Solid Omjay.

Pada suatu saat ada narasumber yng berhalangan. Saya ditelepon oleh Omjay diminta untuk menggantikan. Secara mental saya belum siap, untungnya beliau dengan bijaksana bisa memaklumi. Namun, suatu saat harus ikut membagikan sesuatu alias menjadi narasumber.

Saya pun kaget karena saya tidak memiliki sesuatu yang layak dibagikan kepada teman-teman. Buku solo baru satu, buku yang lain masih dalam proses pengerjaan. Namun, mata jeli dan telinga tajam Omjay menangkap bahwa ada beberapa penulis yang nota bene adalah peserta pelatihan menulis melalui WA bersama PGRI dan Omjay meminta saya menjadi editor atau sekedar menjadi proofreader buku karya mereka.

“Materi apa yang harus saya sampaikan, Omjay?” tanya saya.

“Ya itu, yang berkaitan dengan editing,” jawab Omjay.

Berbagi Sedikit di Kelas Menulis

Akhirnya, hari “H” dan jam “D” ditetapkan. Hari Jumat, tanggal 7 Mei 2021 diminta mengisi materi tersebut di kelas menulis PGRI Bareng Omjay, Gelombang 18.

Mr. Bams meminta nama lengkap dan foto untuk dibuatkan flyernya. Nah, ini dia. Saya tidak suka berfoto. Saya pun mencari foto tunggal. Hampir tidak punya. Foto selalu ramai-ramai atau minimal berdua.

Namun saya tidak kurang akal. Ketimbang repot meng-crop gambar pada power point dan me-remove background-nya dengan sedikit usaha, saya memilih memanfaatkan teknologi. Bukankah di internet ada aplikasi yang menyediakan jasa membuang gambar latar belakang atau background?

Saya pilih salah satu foto, lalu saya crop dengan aplikasi MS Paint hasilnya saya simpan. Setelah itu, saya membuka website Remove Background from Image.

 

Aplikasi Ms Paint

 

Aplikasi remove.bg

 

Setelah foto berbaju batik PGRI yang aslinya berdua, saya crop, lalu saya simpan. Kemudian, foto itu diunggah pada situs remove bg, latar belakang pun menghilang. Wah, semudah ini menghilangkan gambar latar belakang sebuah foto. Hasilnya saya unduh dan saya simpan di folder Picture.

Setelah gambar latar pada foto saya “menghilang” dan saya kirimkan, maka pembuat flyer lebih mudah memasang foto tersebut. Beliau cukup mengatur besar kecilnya, dan menyesuaikan letaknya. Anda mau coba? Silakan praktikkan. Bagi yang sudah tahu, mbok ya ajarin temannya. Jangan hanya bilang, “Itu sih saya sudah lama ngerti!”

Waktunya Tiba

Pulang dari masjid setelah ibadah Jumat, Bu Rita Wati, S.Kom. sudah menunggu. Tepat pukul 13.00 acara pun dimulai.

Sejujurnya, saya nervous alias gugup. Namun kegugupan itu pun segera saya tepis. Bukankah naskah buku antologi 26 penulis yang berasal dari kelas gelombang 18 saya yang mengeditnya? Dengan berpikir seperti itu, sedikit demi sedikit, rasa percaya diri pun tumbuh.

Seharusnya dua hari sebelumnya saya bisa menyiapkan materi, namun kesibukan kegiatan sekolah, juga kegiatan keluarga, challenge menulis di dua grup, dan … proses editing naskah mereka, membuat saya tidak sempat lagi membuat resume materi. Namun, bahan-bahannya sudah saya kumpulkan termasuk mengunduh materi dari website yang saya baca.

Saya teringat pesan Prof. Eko, “Jika anda bermaksud mengajar dengan blended learning dan menghubungkan sumber materinya dengan internet, pastikan Anda sudah mengunduhnya terlebih dahulu. Ingat, infrastruktur internet kita belum bagus sepanjang waktu. Siapa tahu, pas sedang mengajar, jaringan data kita terganggu sehingga tidak bisa terhubung dengan baik.”

Demikianlah, akhirnya saya pun “meramu” materi sedemikian rupa agar materi berupa citra tulisan tidak disalin tempel dan dilekatkan dengan kata penghubung oleh peserta. Ha ha … kok tahu? Lho, sebelum tua kan muda dahulu? Sebelum ada gelombang 18, ada gelombang 15 dahulu? Itu grup menulis yang saya ikuti pada bulan Agustus 2020 tahun lalu. Jadi, teknik begituan sudah pernah dialami dan pernah dilakukan. Sampai di sini saya senyum-senyum sendiri.

Proofreading, editing, teknik dan trik proofreading, serta pilihan kalimat saya sampaikan nyaris tanpa hambatan. Pas pukul 14.00 penyampaian materi saya sudahi.

Membuat dan Menjawab Pertanyaan

Sampai di sini, sudah tenangkah? O, tentu saja belum! Saya masih deg … degan. Jangan-jangan pertanyaannya mudah. Maksudnya, mudah saja mereka bertanya, giliran saya kesulitan mencari jawabannya. Namun, lagi-lagi saya belajar dari pengalaman. Tuh, pengalaman lagi, ketahuan ya kalau sudah tua. Iya, lah. Makin tua kan makin pengalaman. Maka jangan heran, banyak anak-anak muda suka dengan orang yang sudah tua arena pengalaman. Eits, … ini ngomongin apa, yah?

Syahdan, dahulu ketika saya mau ujian skripsi, saya membuat puluhan pertanyaan dari naskah yang saya tulis. Pertanyaan ingatan dengan kata tanya apa, siapa, di mana, dan kapan, saya buat. Lalu, saya buat juga pertanyaan pemahaman dengan kata tanya mengapa dan bagaimana. Tidak lupa, saya membuat pertanyaan yang “aneh-aneh” seperti pertanyaan tentang pengandaian yang berhubungan dengan materi pada naskah saya. Tidak lupa saya sertakan kuncinya. Nanya sendiri, cari jawabannya pun sendiri. Hasilnya, sebagian prediksi pertanyaan benar-benar dilontarkan oleh dosen penguji. Hanya sedikit pertanyaan yang tidak saya tulis dan itu di luar prediksi saya. Tentu saja sulit dan lumayan berat menjawabnya. He he he ….

Kali ini, ketika menjadi narasumber di hadapan banyak guru bergelar Magister atau S2, saya pun melakukan hal demikian. Prediksi pertanyaan yang bakal dilontarkan oleh penyimak kotak dialog Whatsapp, saya buat. Sama seperti ujian skripsi saya, ternyata ada pertanyaan di luar perkiraan. Jumlahnya, ternyata cukup banyak.

Pertanyaan dari Peserta/Penyimak

Berikut beberapa pertanyaan yang disampaikan para peserta. Tidak banyak. Ada dua kemungkinan, materinya sudah dipahami atau bingung mau nanya apa. Itu sih saya, bercanda ya! O, ya. abaikan teknis penulisannya karena itu menyalin langsung dari tulisan pada kotak percakapan di WA. Maksudnya sih biar terkesan apa adanya.

P1

Yth. Pak Susanto,S.Pd. pertanyaan saya, 1. apakah perbedaan proofreading masa dulu dan sekarang pak. 2.Apakah syarat proofreading tiap penerbit berbeda Pak. 3.Apakah boleh menjadi editor buku sendiri pak. Terima kasih.

P2

Assalamualaikum Bu Rita dan Pak D. Izinkan saya bertanya tentang proofreading. Apakah proofreading itu boleh dilakukan oleh orang lain? Karena sepengetahuan saya, proofreading biasanya dilakukan oleh penulis sendiri. Jika memang ada proofreader (orang lain), apakah itu berbayar atau sama tugasnya dengan editor?

P3

Assalamualaikum Bu Rita Assalamualaikum Pak De Saya Syafrina  dari Padang.  Biasanya kita menulis dalam kalimat ditargetkan misalnya 1000 kata. jadi karena kehilangan ide, agar menulisnya tetap 1000 kata tapi di kelok-kelok kan kalimatnya. Bagaimana cara jika tulisan kurang dari target bisa si proofeading sesuai ketentuan?

P4

Assalamualaikum.
Salam kenal pak D. Saya ibu Soleh Setiyowati dari Wangon, Banyumas. Ijin bertanya. Dalam 1 paragraf berapa sebaiknya kalimat majemuk yg mestinya muncul? Berapa jumlah maksimal kata ganti dalam 1 paragraf? Tks.

P5

Assalamuakaikum Pak D, senang sekali bertemu virtual dengan pak D. Setelah mendengarkan paparan pak D, saya jadi tau bahwa ada aturan maksimal dalam menulis sebuah kalimat. Yaitu menurut YAOS SEO maksimal harus terildiri 20 kata. Saya terbiasa menulis kalimat terlalu panjang, kira2 adakah tehnik husus dalam memoles kalimat panjang menjadi namun tetap memiliki makna yang jelas?

Untunglah tidak terlalu banyak. Semua pertanyaan bisa saya berikan jawabannya. Ada beberapa pertanyaan yang seharusnya bukan saya yang menjawab. Saya pun katakan begitu. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan memberikan link website termasuk link blog saya tentang “Kalimatmu Kepanjangan”.

Kalimatmu Kepanjangan!

Membaca dan Memberi Komentar pada Resume Peserta

Nah, ini nih yang menarik. Materi saya kemas dengan pesan suara pada bagian pengantar. Saya juga mengetik tulisan pada kolom percakapan pada aplikasi Whatsapp, selanjutnya dirangkum dan diungkap kembali oleh para peserta di blog kesayangan masing-masing.

Sinyalemen saya berikan sebagai materi. Berikut kutipannya.

Para guru blogger yang tergabung di komunitas menulis (termasuk kita di kelas menulis Omjay) biasanya “berlomba-lomba” untuk segera menerbitkan tulisan. Apalagi jika ada challenge seperti yang dimiliki oleh beberapa komunitas menulis. Maklum, sih. Jam “D” jatuh tempo penyetoran naskah kadang menjadi pertimbangan agar naskah segera dipublikasikan di blog kesayangan.

Alih-alih melakukan proofreading pada resume yang mereka buat, akhirnya pun “adu cepat” mengirimkan resume. Alhasil, esensi materi proofreading pun belum sepenuhnya tersentuh. Mengapa? Karena masih ada typo, penggunaan kata di yang belum tepat, serta hal-hal teknis lainnya yang saya temui pada tulisan di blog teman-teman. Maaf ya, teman-teman ini sekedar pendapat saya saja.

Satu lagi, karena keterbatasan sumber daya, saya tidak bisa memberikan kuis. Misalnya menyajikan tulisan tertentu yang perlu diedit atau menilai resume dengan kriteria tertentu seperti: mengandung 1-3 kesalahan, 4-6 kesalahan, dan lebih dari 6 kesalahan. Mohon maaf.

Penutup

Sebagai penutup tulisan, saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan guru hebat yang berkenan mengikuti pemaparan saya dan menuliskan resume dengan baik. Anda semua hebat.

 

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

17 thoughts on “Berbagi Sedikit di Kelas Menulis Bersama PGRI dan Omjay Gelombang 18

  • Mantap, Pak D. Jangan pernah lelah berbagi.

  • Mantulll Pak D

  • Terima kasih sudah berbagi ilmunya Pak D
    Selalu ada saja yang kena…wkwkwk

  • Wah, ternyata narasumber bisa degdegan juga
    Pak D pernah mampir di blog saya yg wordpress ya, ternyata.
    Sesuatu yang jadi penyemangat.
    Mampir pula ya, di blog spot saya.
    Oleh-olehnya saya pakai ya, pak
    Terima kasih

  • endartiningtyas sulistiyo

    Mantap, kawan. Selangkah di depan. Semoga kian berkibar dan tak lelah menebar kebaikan.

  • bagi pemula seperti saya materi ini sangat bermanfaat…

  • Tetanggaku yang selalu menginpirasi teman sejawat, trimakasi Pad D Susanto yang sudah rela berbagi ilmu, Semoga Pak D selalu dalam keadaan sehat.

  • Real story banget. Menarik sekali.
    Saya merasakan keberadaan saya Di Dalam cerita.
    Senang bacanya.
    Naskah antologi bersama bunda Kanjeng sudah dipoles oleh Pak D.
    Terima kasih ilmunya, Pak D

  • Soleh Setiyowati

    Pak D, terimakasih atas ilmu dan kebaikannya dlm mengajar di gel. 18. Teriring doa semoga pak D makin sukses dan mau berbagi ilmu lagi. Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan pahala yg berlimpah. Aamiin YRA…

  • Terimakasih ilmunya Pak D, ngena banget karena saya kalau nulis sering kehilangan salah satu huruf

  • Selalu enak baca tulisan pakde sus. Guru yang suka keliling disingkat guling.

  • Tulisan yang rileks dan bagus. Saya senyum2 sendiri baca tulisan pak D. Terimakasih atas ulasan jalannya materi kemaren.

  • Krewen pak sukses terus dan menginspirasi para penulis…

Comments are closed.