artikel

Busuk Siku

Durian fruit photo created by mrsiraphol – www.freepik.com

Aku dan Kak Noto, tetangga sebelah, berbincang di ruang tamu kediaman kami. Untuk menemani ngobrol, istriku menghidangkan durian. Sebutir buah durian ia belah dan biji buahnya dihidangkan di piring makan. Piring makan hampir tidak muat oleh banyaknya biji durian.

“Silakan, Kak!” Aku menawari Kak Noto untuk menikmati durian yang baru saja dihidangkan istriku.

“Beli di mano? Duren siapo?” tanya Kak Noto seperti menyelidik.

“Dedi tadi ngantar ke rumah. Dua hari lalu dia minta izin tidak sekolah, katanya nunggu durian,” jawabku menjelaskan.

Dedi adalah anak Kak Noto nomor tiga. Ia duduk di kelas enam, kelasku. Pada musim buah durian, ada saja anak yang meminta izin tidak bersekolah karena diajak orang tuanya menghadang durian runtuh di ladang. Buah durian yang masak, akan jatuh ke tanah. Sebanyak buah yang jatuh itulah rezeki keluarga Kak Noto. Setelah dua hari, mereka bergantian dengan keluarga paman atau bibinya menunggui tanaman durian yang ditanam kakek buyutnya dahulu.

Busuk Siku

“O, iyo nian. Aku yang ngajak-e. Lumayanlah rezeki kami harian tu,” jelas Kak Noto. Ia pun melanjutkan dengan pertanyaan, “Jadi, dian ko dikasih Dedi?”

“Iya, Kak. Makanlah!”

“Maap, Tok. Kalu dian tu dari kami, aku dak biso milu makan. Busuk siku,” jawabnya.

“Iya, ngambil lagi dari barang yang kita kasih. Dak boleh!” jelasnya. “Makanlah oleh kau!” Kak Noto balik memerintah.

“Busuk siku?” tanyaku terheran-heran. Dalam otakku terbayang siku yang terluka dan membusuk.

Aku tertegun. Begitu hati-hatinya Kak Noto memegang pesan para tetua dahulu yang mungkin berasal dari hadis “Orang yang mengambil kembali hibahnya seperti anjing yang muntah lalu memakan kembali muntahnya.” (HR. al-Bukhari no. 2589 dan Muslim no. 1564 dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma).

Tidak sebutir pun durian pemberiannya melalui tangan Dedi, anaknya, yang Kak Noto ambil. Ia hanya menyeruput kopi yang ia tuang dari tandon cangkir besar ke dalam gelas kecil. Busuk siku, sebuah pelajaran akhlak agar tidak mengambil kembali barang yang sudah diberikan kepada orang lain.

Bandung, 23 Juni 2022

PakDSus

Sumber hadis: https://asysyariah.com/larangan-mengambil-kembali-pemberian/

Kata-kata dalam bahasa daerah (terjemahan bebas):

di mano = di mana
duren = durian
siapo = siapa
nunggu durian = menunggui batang durian untuk mengaharapkan buah durian yang sudah masak jatuh ke tanah
iyo nian = iya betul, betul sekali
ngajak-e = mengajaknya
kalu = jika, kalau
dian = durian
tu = itu
dak biso milu = tidak bisa ikut
harian tu = pada hari itu
ko = ini

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Busuk Siku

  • Orang yang kaya bahasa, biasanya sangat bijak dalam berkata. Lain halnya orang yang perbendaharaan katanya sedikit, pendek pikir dan mudah tersunging

  • Mantab. Sy juga dapat bahasa Sungai Rawas dan duriannya mau …dong!

  • Wah sebuah pesan moral, yang dikemas dengan sangat santai, ringan tapi makjkeb,
    Sederhana tapi berprinsip
    Dan atas anjuran hadist pula .
    Keren pak D setujua saya

  • Ternyata istilahnya sama dg ‘borok siku’ di daerah kami…
    Cerita yg menarik Pak D..

Comments are closed.