Bergerak Membangun Kapasitas Literer

Sebagai alumnus kelas menulis KMaBA4, saya masih tergabung di grup WA KMaBA4. KMaBA adalah Kelas Menulis ala Benny Arnas. Setiap ada event kepenulisan, apalagi Bung Benny yang menjadi pembicaranya selalu diumumkan dan dibagikan di grup. Tidak terkecuali event Bincang Sastra Jawa Pos dengan narasumber Benny Arnas. Bincang Sastra Jawa Pos dengan tema “Bank Ide dan Proses Kreatif Karya sastra” melalui LIVE INSTAGRAM @JAWAPOS disiarkan pada hari Rabu, 22 Juni 2022 pukul 20.00 WIB. Menurut saya, topik ini menarik. Siapa yang tidak ingin ide menulis terus mengalir dan mengetahui lebih banyak bagaimana proses kreatif karya sastra? Apalagi … he he he … apalagi dibagikan secara free, gratis tis.

Seharusnya saya bisa mengikuti acara tersebut sejak awal. Namun, hampir seharian mendampingi Rahmasiwi yang diwisuda menjadi sarjana strata satu di UPI Bandung hari itu, cukup menguras tenaga. Lagipula, diam di Asrama Putera di dalam kompleks kampus cukup jauh mengakses warung makanan. Sebelumnya, saya sudah mencoba membeli makanan melalui aplikasi transportasi online. Namun, hari itu saya ingin membeli dan memilih secara langsung makanan yang saya inginkan. Alhasil, saya baru bisa mengakses Live IG Jawa Pos setelah acara berjalan setengah jam kemudian. Tulisan ini adalah resume dari sekitar setengah waktu yang tersisa. Lumayan, daripada tidak sama sekali.
Tiga Kapasitas Literer
Ada tiga iklim literasi yang harus terbangun untuk mendukung seseorang menjadi penulis. Tiga hal tersebut adalah membaca banyak, diskusi bernas, dan review yang berkualitas. Tiga hal ini oleh Benny Arnas diistilahkan dengan kapasitas literer.
Membaca banyak artinya, tulisan yang dibaca relatif banyak dan beragam. Hal ini akan memperkaya pengetahuan dan tentu saja memperkaya tulisan kita. Untuk melakukannya, pada saat ini relatif mudah. Kita dapat membeli buku di toko-toko buku jika memiliki dana atau meminjam buku. Selain itu, mengakses internet untuk membaca buku dan berbagai tulisan bukan hal yang sulit dilakukan.
Diskusi yang bernas, maksudnya mengikuti forum diskusi dan informasi yang berkaitan dengan proses kreatif menulis. Untuk melakukan hal ini pun, pada saat ini tidak terlalu sulit diakses. Live IG (Instagram) dan pertemuan Zoom tentang itu relatif mudah ditemukan.
Kapasitas literer yang ketiga adalah sharing dan review yang berkualitas. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok literasi dan menjadikan teman atau sahabat sebagai pembaca dan pemberi komentar tulisan. Review yang berkualitas diyakini akan meningkatkan kualitas tulisan. Mengirimkan hasil karya ke media-media mainstream atau jika merasa tulisan yang dihasilkan belum sesuai dengan selera industri, dapat diagikan di blog pribadi. Media sosial yang dimiliki pun dapat dimanfaatkan untuk membagikan tulisan.
Ketiga hal di atas sangat penting untuk mendorong alam bawah sadar untuk menulis. Kebiasaan banyak membaca dan membaca banyak akan berpengaruh terhadap kekayaan bahasa. Demikian pula diskusi yang bernas dan review yang bermutu akan menambah wawasan meningkatkan kualitas tulisan. Selain itu, mengirimkan hasil karya tulis ke media mainstream jika dimuat tentu akan memperoleh cuan.
Ketiga kapasitas literer tersebut, mampu mendorong alam bawah sadar untuk menulis. Sebab, menulis bukan suatu hal yang dilakukan serta merta atau terpaksa. Hal ini terbukti ketika diadakan pelatihan menulis. Setelah kegiatan pelatihan usai, usai sudah proses menulis yang dilakukan. Tidak dilanjutkan kembali. Apalagi kalau motivasinya sertifikat ya, Bung? He he he … ini hanya sinyalemen pribadi, lo.
Bagaimana Bergerak untuk Menulis?
Iklim literasi di daerah sangat minim. Bung Benny memberi contoh daerah asal sekaligus tempat beliau tinggal, Lubuklinggau. Pemerintah dirasa masih minim menyelenggarakan event-event literasi yang mendukung ketiga kapasitas literer di atas. Namun demikian, kita tidak boleh berdiam diri dan menyesali keadaan. Pilihan paling mungkin dilakukan adalah segera BERGERAK. Bergerak semampu Anda bergerak, kata BUng Benny. Banyak membaca: buku, artikel, esai, cerpen, dan karya sastra lainnya. Mengikuti berbagai forum dan pertemuan literasi, serta membagikan tulisan, minimal di blog pribadi atau di media sosial lainnya yang dimiliki. Jika yakin, kirimkan ke media mainstream atau platform penulisan digital lainnya.
Bung Benny yang Sarjana Pertanian telah mencontohkan. Keinginan seperti teman-teman penulisnya di Jawa dan Padang membuatnya tidak ada pilihan selain membaca dan SEGERA menulis, lalu mengajak teman-temannya sebagai apresiator tulisan.
Usahanya membuahkan hasil. Puluhan buku lintas genre: novel, puisi, cerpen, esai, catatan perjalanan, dan naskah lakon telah diterbitkan. Sederet penghargaan diterima dan melakukan lawatan ke berbagai negara dengan dukungan sponsor.

Pendidikan dan Literasi
Bung Benny pun mengajak agar mendukung merdeka belajar yang dirilis oleh Menteri Nadiem Makarim. Merdeka belajar yang digagas Mas Menteri poin dasarnya adalah meningkatkan literasi. Pemikiran yang kelihatannya baru di Indonesia itu, sesungguhnya adalah pemikiran lama Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara (KHD) memberikan keleluasaan dan kegembiraan pada anak-anak ketika belajar. Pemikiran KHD ini sudah di adopsi oleh berbagai, misalnya negeri-negara Skandinavia. Kita tahu, saat ini mereka adalah negara-negara dengan tingkat kebahagiaan hidup tertinggi.
Meskipun terlambat, upaya membenahi pendidikan melalui merdeka belajar patut diapresiasi. Oleh karena itu, tepatlah jika Bung Benny mengatakan bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan menaruh perhatian yang besar pada litearsi. Literasi yang benar tidak hanya fokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada transfer karakter.
Mari bertanya. Sudah bergerak?
Bandung, 23 Juni 2022
PakDSus
Benar, sayangnya saya baru mengenalnya setahun lalu. Ih, cetek banget litarasi saya.
Beliau orang Lubuklinggau ya. Waaah. Keren..Saya mencatat tiga hal keren itu: Skill membaca banyak, diskusi bernas, dan review yang berkualitas.
Benar, Ambu.
Baik, Bu Desi.
Ternyata 3 tipsnya sama sudah umum, ya..
Tinggal ‘bergerak’ itulah yg susah, mager…
Semangat terus Pak De, sehat dan selalu bergerak.