artikel

Cara Mudah Membuat Program Kokurikuler Sesuai Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (Bag. 1 Memahami Pedoman Kokurikuler)

Dok. Susanto (canva.com)

Halo, Sahabat Pembelajar!

Menyusul terbitnya Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menerbitkan Panduan Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Panduan ini selaras dengan perubahan terhadap pembelajaran kokurikuler yang sebelumnya dikenal sebagai Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mengandung enam dimensi lulusan.

Panduan Kokurikuler dimaksudkan untuk memberikan inspirasi dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan kokurikuler pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan kokurikuler dapat disesuaikan secara fleksibel, baik dalam hal isi, bentuk aktivitas, maupun waktu pelaksanaannya.

Satuan pendidikan diberi keleluasaan untuk bekerja sama dengan orang tua, masyarakat, dan/atau dunia kerja dalam merancang serta menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Diharapkan, penerapan kokurikuler oleh satuan pendidikan menjadi lebih efisien, mudah dilaksanakan, dan sesuai dengan kebutuhan.

Apabila dicermati, Panduan Kokurikuler mengandung empat hal penting yakni: 1) makna dan pentingnya kokurikuler, 2) kerangka pembelajaran kokurikuler, 3) perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen kokurikuler, dan 4) evaluasi dan tindak lanjut Kokurikuler.

Makna dan Pentingnya Kokurikuler

  1. Pengertian Kokurikuler
    Kegiatan kokurikuler adalah aktivitas pembelajaran di luar kurikulum formal (intrakurikuler) yang dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar, mengembangkan kompetensi, keterampilan, dan karakter murid secara holistik. Kegiatan ini bertujuan membentuk delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi, untuk menghasilkan lulusan yang berintegritas, profesional, dan transformatif.
  2. Pentingnya Kokurikuler
    Kokurikuler penting karena memberikan pengalaman belajar yang bermakna, melibatkan murid secara emosional, sosial, dan fisik melalui pendekatan holistik (olah pikir, hati, rasa, dan raga). Kegiatan ini mendukung pembentukan karakter, keterampilan lintas disiplin, dan kepemimpinan efektif, serta mendorong murid untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata, seperti proyek tematik atau kegiatan sosial.
  3. Tujuan Kokurikuler
    Tujuan kokurikuler adalah memperkuat, mendalami, dan/atau memperkaya pembelajaran intrakurikuler untuk mencapai delapan dimensi profil lulusan. Kegiatan ini dirancang agar murid dapat mengembangkan kompetensi, keterampilan, dan karakter melalui aktivitas eksploratif, kolaboratif, dan berbasis konteks nyata, sehingga membentuk individu yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
  4. Karakteristik Kokurikuler
    Kegiatan kokurikuler bersifat fleksibel, kontekstual, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik satuan pendidikan. Kegiatan ini:
  • Berorientasi pada pengembangan delapan dimensi profil lulusan.
  • Melibatkan pembelajaran aktif, eksploratif, dan menyenangkan.
  • Mengelola waktu secara fleksibel sesuai struktur kurikulum.
  • Dirancang secara terencana dengan tujuan, langkah pelaksanaan, dan asesmen yang jelas, serta relevan dengan konteks sosial-budaya dan kebutuhan murid.
Makna dan Pentingnya Kokurikuler (Dok. Susanto)

Kerangka Pembelajaran Kokurikuler

  1. Praktik Pedagogis
    Praktik pedagogis dalam kokurikuler mengutamakan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu melalui pendekatan aktif seperti pembelajaran berbasis penyelidikan (inquiry), berbasis proyek (project-based learning), dan berbasis masalah. Pendekatan ini memungkinkan murid mengonstruksi pengetahuan secara mandiri atau kolaboratif, dengan fokus pada proses berpikir, merasakan, dan bertindak secara reflektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna.
  2. Lingkungan Pembelajaran
    Lingkungan pembelajaran kokurikuler dirancang untuk mendukung eksplorasi dan kenyamanan murid. Ini mencakup ruang fisik (seperti lingkungan sekolah atau fasilitas umum), sosial (interaksi dengan pendidik, teman, dan masyarakat), psikologis (suasana yang menyenangkan dan aman), serta akademik (dukungan narasumber atau ahli). Lingkungan ini mendorong pembelajaran yang relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari murid.
  3. Kemitraan Pembelajaran
    Kemitraan pembelajaran melibatkan Catur Pusat Pendidikan (satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media).
    • Kepala Satuan Pendidikan: Memimpin perencanaan, menciptakan ekosistem kondusif, dan menyiapkan SDM.
    • Keluarga: Memberikan teladan, mendukung pembiasaan nilai, dan menciptakan lingkungan pendukung di rumah.
    • Masyarakat: Menyediakan kearifan lokal, keterampilan hidup, dan nilai moral (misalnya, gotong royong, toleransi) melalui peran tokoh masyarakat atau agama.
    • Media: Berperan sebagai alat komunikasi, sosialisasi, dan refleksi, memberikan akses informasi serta inspirasi untuk penguatan kompetensi dan karakter.
  4. Pemanfaatan Teknologi Digital
    Teknologi digital digunakan untuk memperluas akses belajar, mendokumentasikan proses, memvisualisasikan ide kreatif, berkolaborasi jarak jauh, dan mempublikasikan hasil pembelajaran. Contohnya, penggunaan laptop, infocus, video, atau presentasi untuk mendukung kegiatan kokurikuler. Teknologi ini memastikan pembelajaran selaras dengan semangat pembelajaran mendalam, tidak hanya mengajarkan apa yang dipelajari, tetapi juga mengapa dan bagaimana pembelajaran membentuk kehidupan murid.
Kerangka Pembelajaran Kokurikuler (Dok. Susanto)

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler

  1. Perencanaan Kokurikuler
    Perencanaan kokurikuler bertujuan untuk penguatan, pendalaman, dan pengayaan kegiatan intrakurikuler guna mengembangkan kompetensi murid sesuai delapan dimensi profil lulusan. Tahapan perencanaan meliputi:
    • Pembentukan Tim Kerja: Dipimpin kepala satuan pendidikan, melibatkan koordinator pembelajaran berbasis proyek, guru, dan tenaga kependidikan untuk merancang kegiatan.
    • Analisis Kebutuhan: Mengidentifikasi kebutuhan murid, sumber daya, konteks sosial-budaya, dan dimensi profil lulusan yang perlu ditingkatkan melalui diskusi, observasi, dan analisis dokumen.
    • Penentuan Elemen: Menentukan dimensi profil lulusan, tema kontekstual (misalnya, “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat”), bentuk kegiatan (kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7KAIH, atau berbasis nilai lokal), tujuan pembelajaran, dan alokasi waktu (misalnya, 360 JP/tahun untuk SMP kelas VII-VIII).
    • Rancangan Aktivitas: Mengembangkan aktivitas eksploratif seperti kunjungan, proyek, atau advokasi, dengan memanfaatkan sumber daya masyarakat dan teknologi digital.
  2. Pelaksanaan dan Asesmen Kokurikuler
    • Pelaksanaan: Dilaksanakan sesuai perencanaan, dengan pendidik menyesuaikan strategi secara kontekstual, kolaboratif, dan eksploratif. Contoh kegiatan meliputi proyek lingkungan, pembiasaan Gerakan 7KAIH (seperti kebiasaan berolahraga), atau kegiatan berbasis nilai lokal. Murid terlibat aktif dalam observasi, diskusi, dan pembuatan karya.
    • Asesmen: Terdiri dari formatif (misalnya, observasi dengan catatan anekdotal) dan sumatif (penilaian kinerja seperti poster, presentasi, atau laporan). Asesmen mengacu pada delapan dimensi profil lulusan, menilai hasil karya, aksi, atau refleksi murid, serta memastikan relevansi dengan tujuan pembelajaran.
  3. Pelaporan Hasil Kokurikuler
    Hasil kokurikuler dilaporkan dalam rapor murid pada kolom khusus kokurikuler, berisi deskripsi kegiatan yang dilakukan dan pencapaian dimensi profil lulusan. Ketentuan pelaporan:
    • Menggambarkan pencapaian dimensi profil lulusan secara ringkas.
    • Menggunakan bahasa positif dan edukatif.
    • Menyebutkan dimensi yang sudah kuat dan yang masih perlu penguatan.
      Untuk PAUD, pelaporan dapat terintegrasi dengan intrakurikuler. Contohnya, laporan dapat mencakup refleksi murid terhadap proyek lingkungan atau kebiasaan positif seperti bangun pagi.
Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler

Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler

  1. Tujuan Evaluasi Kegiatan Kokurikuler
    Evaluasi kegiatan kokurikuler bertujuan untuk mengukur keberhasilan, efektivitas, dan dampak kegiatan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk delapan dimensi profil lulusan. Evaluasi tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses, untuk memastikan kegiatan memperkaya pengalaman belajar, mengasah keterampilan, dan membentuk karakter murid.
  2. Pelaksana Evaluasi Kegiatan Kokurikuler
    Evaluasi dilakukan oleh tim yang terdiri dari kepala satuan pendidikan, guru koordinator kegiatan, guru pemandu, dan tenaga kependidikan terkait. Mereka bertanggung jawab menilai sumber daya, pelaksanaan, dan hasil kegiatan, serta melibatkan masukan dari murid, keluarga, dan masyarakat untuk evaluasi yang holistik.
  3. Model Evaluasi Kegiatan
    Model evaluasi mencakup:
    • Masukan (Input): Menilai optimalisasi sumber daya dan perencanaan.
    • Proses (Process): Mengevaluasi tindakan selama pelaksanaan kegiatan.
    • Keluaran (Output): Menilai hasil langsung seperti karya atau presentasi murid.
    • Hasil (Outcome): Mengukur dampak jangka panjang terhadap kompetensi dan karakter.
      Teknik evaluasi meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen rencana kegiatan.
  4. Analisis Evaluasi Kegiatan Kokurikuler
    Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi keberhasilan, kelemahan, dan potensi perbaikan kegiatan. Fokus analisis mencakup efektivitas penggunaan sumber daya, pelaksanaan kegiatan, pencapaian tujuan, dan dampak pada dimensi profil lulusan. Hasil analisis digunakan untuk menyusun rekomendasi perbaikan.
  5. Tindak Lanjut
    Tindak lanjut bertujuan memperbaiki kelemahan dan meningkatkan efektivitas kegiatan, meliputi:
    • Perbaikan Perencanaan: Menyesuaikan tujuan, strategi, dan indikator keberhasilan berdasarkan evaluasi.
    • Penguatan Kompetensi Guru: Memberikan pelatihan atau workshop untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan.
    • Peningkatan Fasilitas: Menyediakan sarana dan prasarana penunjang.
    • Peningkatan Partisipasi Murid: Menerapkan pendekatan kreatif untuk menarik minat dan menciptakan lingkungan inklusif.
      Dimensi profil lulusan yang belum tercapai dilanjutkan pada kegiatan kokurikuler tahun berikutnya.
Proses Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler (Dok. Susanto)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.