
Catatan Pinggir Membuatku Tidak Khawatir

Anak bungsu saya, seorang laki-laki, duduk di kelas XII sebuah SMA di Kecamatan Tugumulyo yang gemar membaca. Saya kurang tahu persis kapan ia mulai gemar membaca. akan tetapi, buku cerita dan komik yang saya bawa sebagai oleh-oleh lebih ia sukai ketimbang makanan layaknya oleh-oleh yang dibawa orang tua dari bepergian.
Buku Harry Potter yang tebal, ia lahap bergantian dengan kakak-kakak perempuannya. Ketika duduk di bangku SMA, ia mulai meminta dibelikan buku-buku yang lumayan berat. Berat timbangannya karena lumayan tebal, pun dari isinya yang saya sendiri kadang malas membacanya. Di sekolah, Wali Kelasnya juga menyadari sesuatu yang ‘ganjil’ pada diri si Bungsu. Pendapat dan usulan yang ia sampaikan kadang tidak seperti pemikiran teman-temannya. Mungkin karena pengaruh bacaan yang ia serap.
Beruntung, ketiga kakaknya semua gemar membaca, terutama kakak sulungnya. Buku-buku bacaan kakaknya sering ia minta, bahkan ia meminta kakaknya membelikan buku yang ia cari dari internet. Salah satunya, buku Filsafat untuk Pemalas.
Menurut pengakuannya, ia telah menembus dua per tiga buku karya Ach Dhofir Zuhry itu. Sebagai orang tua, tentu ada kebanggaan tersendiri melihatnya tekun menyelami dunia yang kadang dianggap berat oleh banyak orang, terutama filsafat. Namun, yang lebih menarik perhatian saya bukanlah sekadar kegemarannya membaca, melainkan apa yang tertinggal di setiap lembar buku tersebut: catatan pinggir.
Dengan pena atau pensil, anak saya menulis hal-hal yang, jika dibaca sekilas, terasa seperti nasihat untuk dirinya sendiri. Beberapa kalimat ia garis bawahi, sementara bagian kosong di halaman ia isi dengan pendapat atau rangkuman pikirannya. Membaca catatan itu, saya justru merasa tenang. Dalam keseharian, menasihati anak sering kali seperti berbicara kepada tembok. Respon khas anak muda yang sering kali melawan lebih dulu dan menerima kemudian adalah sesuatu yang lumrah. Namun melalui buku ini, seolah ia tengah berdialog dengan dirinya sendiri, merenung, dan mengambil hikmah dari apa yang ia baca.
Awalnya, saya sebagai ‘pemalas’ tertarik dengan judul pada sampul buku berwarna dominan putih itu. Sekilas, bahasanya agak sulit dipahami, khas buku filsafat, tetapi apa yang dituturkan oleh Ach Dhofir adalah fenomena sehari-hari. Menautkan filsafat dengan keseharian khas anak-anak muda: jomblo, zerogami, cinta, dan sebagainya. Lihat saja, kata pengantarnya pun diberi judul: Filsuf Pesanan, Siapa Tahu Mirip kata Pengantar.
Filsafat, meskipun sering dianggap berat, dapat menjadi cermin yang membantu seseorang memahami dirinya. Buku ini, diawali dengan bab tentang “Tidak Ada Persoalan dalam Filsafat”. Setiap bab ditutup dengan ‘Philo-easy’.
Misalnya bab pertama, “Tidak Ada Perrsoalan dalam Filsafat”, diakhiri dengan philo-easy sebagai rangkuman. Seperti ini:
- Filsafat adalah keseharian kita, cara kita mengada.
- Filsafat adalah upaya mencari, menemukan, dan terus bersetia menjalani makna hidup.
- Setiap orang adalah filsuf terhebat untuk diri dan hidupnya sendiri.
- Berusaha menjalani hidup orang lain bukanlah tandingan bagi hidup Anda. Tak ada hidup yang lebih wow untuk ditempuh selain hidup Anda sendiri.
- Bukan tugas orang lain untuk mencintai Anda, tetapi tugas Anda sendiri.
- Pembeda manusia dan binatang adalah manusia punya rasa malu dan rasa heran.
- Dulu sihir, sekarang sains, dua-duanya sama-sama mitos.
- Biarkan filsafat yang sibukmempelajari kita, menteori-teorikan hidup kita, kita tak perlu repot-repot melakukannya.
Halaman 7 itu menjadi rangkuman atas uraian pada halaman 1 hingga halaman 6.
Nah, buku yang saya pinjam dan baru 32 halaman yang saya baca ketika tulisan ini saya terbitkan, gaya bahasanya ringan. Bahasa yang ringan ini, ternyata mampu, menjadi jembatan bagi si Bungsu untuk merenungi hidup tanpa merasa digurui. Hal ini mengajarkan saya bahwa terkadang cara terbaik untuk membimbing anak bukan dengan menasihati secara langsung, melainkan memberikan ruang baginya untuk menemukan jawabannya sendiri. Buku itu, dengan segala goresan kecil di pinggir halamannya, menjadi semacam guru yang tidak memaksa.
Setelah saya membuka halaman delapan, bab kedua yang bertajuk “Yang Membosankan dari Filsafat” saya menemukan beberapa goresan pena hitam milik si Bungsu. Berikut saya cuplikkan beberapa catatan yang ia buat pada bagian tepi kiri maupun kanan halaman.
- Berfilsafat adalah untuk mencari dan mengenal diri dari berbagai alternatif and perspektif.
- Ketika melakukan sesuatu ambillah jarak. Dan berpikir sebentar mengenai perihal yang kau beri jarak. Berusahalah untuk l;ebih mengenal diri sendiri.
- Yang membuat hati tidak enak adalah bukan tindakan orang lain tapi kita yang kesal dengan diri kita.
- Important! Apa yang dirasakan datang dari dalam sedih, senang, bosan, marah, bukan berasal dari luar, melainkan dari diri yang merasa demikian. Kontrol dirimu.

Itulah beberapa catatan yang Bungsu tuliskan pada bagian kosong halaman yang ia baca. Hmm … sebagai orang tua saya berkesimpulan bahwa si Bungsu mulai memiliki pendirian dan nasihat pada diri sendiri.
Buku Filsafat untuk Pemalas ini rasanya cukup efektif memberikan dia pemahaman pada hidup ketimbang mulut saya harus berbuih-buih memberikan nasihat. Melihatnya mencatat dan menulis bahan renungan mebuat saya tidak lagi terlalu khawatir bagaimana ia akan menjalani hidup dan mengambil keputusan. Ya, setengah tahun lagi ia akan melanjutkan pendidikan dan meninggalkan kami, orang tuanya.
Meskipun ia anak bungsu, ada proses yang berjalan dalam dirinya. Biarlah lembaran-lembaran buku yang terus ia baca, menjadi catatan hikmah dalam caranya sendiri. Saya percaya, catatan kecil di pinggir halaman itu akan membentuk pemikiran dan karakter yang baik pada saatnya.
Musi Rawas, 18 Desember 2024
PakDSus
Subhanallah! Isi buku luar biasa! Catatan anak hebat! Yang membuat tulisan ini juga keren! Memberi ruang pada anak untuk berpikir dan membuat jawaban sendiri. Poko e Mantap Pak De Sus!