Berkasku Hilang!
Lelaki berumur 53 tahun itu seorang guru yang telaten dan berdedikasi. Di sela kesibukannya, ia sering menulis, mengumpulkan berkas foto dokumentasi berbagai kegiatan. Berkas-berkas penting ia simpan rapi di komputer dan beberapa di cloud. Namun, belakangan ini, kapasitas penyimpanan komputernya mulai penuh, jatah penyimpanan di cloud yang ia miliki makin menipis. Hal itu membuatnya ingin memiliki media penyimpanan tambahan.
Suatu malam, sambil bersantai di rumah, ia buka aplikasi media sosial berbagi video, TikTok. Di sana, ia melihat sebuah iklan menarik: flashdisk dengan kapasitas fantastis hingga 2 terabyte. Harganya? Tidak lebih dari seratus ribu rupiah. Lelak paruh baya itu terpukau, lupa bahwa beberapa tahun lalu pernah belanja barang serupa.
“Wah, ini dia yang aku butuhkan! Kapasitas besar,” gumamnya.
Namun, ia ragu. Otaknya yang belum pikun mengembara ke masa lalu.
“Tapi, jangan-jangan seperti dulu,” gumamnya lagi.
“Kita lihat apakah kapasitasnya 2 terra betul? Nah, lihat terbaca bukan, dua terra!” sang pelapak memperlihatkan video.
“Rasanya ini lain. Aku harus segera beli!”
Lelaki prauh baya itu pun beranjak dari pembaringan, lalu mengetuk dan memesan. Kemudian, ia memindahkan uangnya sesuai dengan mode pembayaran yang diminta.
Tidak sampai satu minggu, flashdisk pesanannya tiba. Kotaknya terlihat sederhana, bentuknya pun cantik seperti dalam iklan dan sesuai pesanan.
Ia segera mencolokkan penyimpan data portabel itu ke komputer. Aha, di layar tampak kapasitas penyimpanan sebesar 2 terabyte, persis seperti yang dijanjikan di iklan. “Luar biasa! Ini akan menyelesaikan semua masalah penyimpananku,” pikirnya.
Lelaki itu segera memindahkan beberapa berkas untuk uji coba.
“Yes! Aman,” teriaknya, “Kalau begini, aku bisa mengosongkan ruang di komputerku.”
Laki-laki bernama Eko itu pun memutuskan untuk memindahkan folder yang lebih besar.
“Nanti dulu, aku harus bersabar. Setelah maghrib nanti, akan aku lanjutkan.”
Setelah memeriksa berkas atau fail yang tersalin, guru paruh baya itu makin yakin. Kali ini ia memilih opsi cut and paste untuk memindahkan fail, agar lebih cepat dan beban penyimpan dalam laptopnya berkurang. Folder-folder berisi fail multimedia besar, dokumen kerja, dan arsip lainnya mulai berpindah. Namun, beberapa saat kemudian, proses komputer tiba-tiba membeku. Pak Eko mengernyitkan dahi.
“Aneh,” gumamnya. “Komputerku biasanya lancar.”
Ia menunggu beberapa menit hingga akhirnya proses selesai. Folder yang telah dipindahkan ke flashdisk ia buka untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Namun, alih-alih menemukan fail-fail tersebut, lelaki yang dipanggil dengan sapaan Pak Eko justru melihat folder kosong. Tidak ada satu pun file yang tersimpan di flashdisk itu.
Hatinya mulai cemas. Jantungnya berdegup, lalu ia mencoba membuka kembali flashdisk tersebut di komputer lain, berharap itu hanya masalah sistem. Tapi hasilnya tetap sama: folder kosong.
Pak Eko memeriksa fail sebelumnya yang sudah berhasil ia pindahkan. Kali ini, file tersebut pun tidak dapat dibuka. Semua tampak rusak.
“Tidak mungkin…” bisiknya, dengan keringat dingin mulai bercucuran.
Ia kembali mencolokkan flashdisk ke komputer dan mencoba menghapus semua file untuk memulai dari awal. Tapi kecepatan flashdisk itu melambat drastis, seperti menolak untuk digunakan lagi.
Pak Eko pun sadar, ia telah tertipu. Flashdisk murah itu hanyalah alat penyimpanan beberapa puluh giga, bukan penyimpanberkas berkapasitas dua tera.
Pak Eko terdiam di kursinya, ia menghela napas panjang. Pandangan kosongnya menatap benda cantik mungil yang telah menghilangkan berkas-berkasnya.
“Kejadian ini jadi pelajaran besar untukku,” gumamnya. “Tidak semua yang murah itu baik.”
Keesokan harinya, di ruang guru, Pak Eko membagikan pengalamannya kepada rekan-rekan kerjanya.
“Bapak dan Ibu, berhati-hatilah kalau ingin membeli perangkat teknologi, apalagi yang terlalu murah. Jangan sampai tergiur iklan-iklan menarik di media sosial seperti saya. Pastikan untuk selalu membeli dari penjual terpercaya,” katanya.
Rekan-rekannya mendengarkan dengan seksama, sebagian bahkan tertawa kecil mendengar cerita Pak Eko. “Pak Eko ini ceroboh juga, ya,” canda salah satu guru.
Pak Eko ikut tertawa, tapi dalam hati ia bertekad untuk lebih hati-hati di masa depan. Ia pun memutuskan untuk mengumpulkan uang untuk membeli hard disk eksternal dari toko resmi.
Bagi Pak Eko, mungkin saja ada yang memang bisamenyimpan data hingga 2 TB, namun benda mungil itu menjadi pengingat bahwa tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas. Beruntung, berkas yang hilang bukan berkas yang tergolong penting.
Dan flashdisk 2 terabyte yang dijanjikan itu? Pak Eko menyimpannya di laci sebagai peringatan, agar ia tidak mudah tergoda oleh janji kosong lagi.
Musi Rawas, 19 Desember 2024
PakDSus
