bahasa

Nyala Terang Api Unggun Persami

Perkemahan pramuka penggalang.
Persiapan Perkemahan (Dok. Susanto)

Anita tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya ketika Pak Eko menyampaikan pengumuman melalui pengeras suara. Dua minggu menjelang sumatif akhir semester akan diadakan Persami, perkemahan Sabtu malam Minggu.

Semua anak kelas empat, lima, dan enam bersorak gembira. Sudah lama mereka menantikan acara itu. Begitu juga Anita. Anak multitalenta itu sudah bersiap-siap semenjak ia bersama teman-teman puterinya dengan manja bertanya kepada guru kelasnya.

“Pak, sudah lama, lo, sekolah kita tidak berkemah. Kapan nih, Pak, sekolah kita berkemah?”

“Kalian berani dan siap? Jika siap nanti saya musyawarahkan dengan teman-teman pembina di sekolah kita,” jawab Pak Eko.

“Janji, ya, Pak. Aku sudah menghapalkan lagu Hymne Pramuka diiringi musik di Youtube,” pinta Anita, diiyakan teman-temannya.

Pak Guru paruh baya itu hanya mengangguk-angguk. Aspirasi para muridnya sejalan dengan program pembinan kepramukaan di Gudepnya. Tanpa diminta pun, pada hari Sabtu dan Minggu, sebelum masa sumatif tiba, para pembina bersiap melaksanakan perkemahan.

Persiapan pun dilakukan. Anak-anak belajar mendirikan tenda, tali-temali dan juga menyiapkan acara untuk pembukaan dan api unggun. Demikian pula Anita.

Setiap sore, Anita melatih suaranya di rumah. Ia bahkan sudah meminta ibunya menyiapkan seragam pramuka terbaiknya. Anita pun mengajak teman-teman satu regunya berlatih menyiapkan atraksi untuk ditampilkan pada aacara api unggun.

Rabu sore, Anita mengambil sepeda dan bersiap pergi ke rumah Kinan.

“Bu, Anita pergi dulu, ya. Anita mau ke rumah Kinan,” pamit Anita kepada sang bunda.

Pulang dari rumah Kinan, Anita tidak melihat ada batu sebesar dua kepal tangannya. Roda sepedanya tergelincir, ia tidak bisa mengendalikan laju sepeda. Anita pun terjatuh. Beruntung tidak ada kendaraan bermotor di belakangnya.

Kaki Anita terkilir parah, membuatnya sulit berjalan. Dibantu tetangganya, ia diantar pulang.

Selama beberapa hari, Anita tidak bisa berjalan. Kakinya bengkak, dokter menyarankan agar ia beristirahat di rumah selama seminggu. Anita menangis di kamar.

“Kenapa harus sekarang? Aku ingin sekali ikut perkemahan,” keluhnya pada ibunya. Tidak hanya kecewa karena tidak bisa hadir, ia juga sedih karena tidak dapat menyanyikan lagu yang sudah ia persiapkan dengan penuh semangat. Sang bunda hanya bisa membujuknya agar bersabar.

Hari-hari berlalu. Anak-anak kelas empat, lima , dan enam mempersiapkan perkemahan. Dibimbing Pak Adi dan Pak Ibnu, mereka membagi tugas mempersiapkan berbagai peralatan, termasuk peralatan memasak.

Sementara itu, Anita hanya bisa duduk diam di rumah. Ia membayangkan keseruan yang akan dirasakan teman-temannya. Sedang termenung, ia mendengar suara salam. Pak Eko datang menjenguknya.

“Anita, bagaimana kabarmu?” tanya Pak Eko dengan senyum ramah.

Anita menghela napas. “Sudah lebih baik, Pak, tapi tetap saja aku tidak bisa ikut perkemahan. Aku sedih karena laguku tidak bisa aku nyanyikan.”

Pak Eko terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Anita, bagaimana kalau kita coba cara lain? Kamu tetap bisa menyanyikan lagumu, meskipun secara fisik tidak hadir langsung di perkemahan.”

Anita mengerutkan kening. “Maksud Bapak?”

“Begini,” Pak Eko mulai menjelaskan. “Kamu rekam videomu di rumah. Nyanyikan lagumu dengan baik, jangan lupa pakai pakaian seragam pramukamu. Nanti videonya akan Bapak tampilkan di layar saat acara api unggun. Bagaimana?”

Mata Anita berbinar. “Benarkah, Pak? Apa itu tidak aneh?”

“Dulu, mungkin aneh. Tapi, zaman teknologi sekarang ini, tidak sama sekali. Ingat tidak empat tahun lalu kita bersekolah jarak jauh, tidak tatap muka? Kadang kamu menonton video yang saya kirimkan ke hape ibumu. Justru ini akan jadi momen spesial. Lagumu tetap bisa dinikmati teman-teman dan masyarakat meskipun kamu tidak hadir di perkemahan karena halangan sakit kakimu itu,” kata Pak Eko meyakinkan.

Semangat Anita kembali muncul. Kedua orang tua Anita pun setuju dan mendukung anaknya. Dengan bantuan ibunya, ia merekam video ketika menyanyikan lagu Hymne Pramuka.

Satyaku kudarmakan
Darmaku kubaktikan ….

Anita mengenakan seragam pramuka lengkap dan menyanyi dengan sepenuh hati. Setelah selesai, ia mengirimkan videonya kepada Pak Eko.

Tibalah malam yang ditunggu-tunggu. Di halaman sekolah, para pramuka Penggalang itu berkumpul mengelilingi tumpukan kayu bakar yang dibuat menggunung. Para petugas bersiap, pembawa acara mempimpin upacara penyalaan api unggun.

Ketika regu penyala api menyulut kayu bakar dengan obornya, suasana penuh keceriaan. Pembina mengajak peserta melakukan tepuk pramuka.

Setelah pembina upacara memberikan sambutannya, acara dilanjutkan dengan atraksi antar-regu. Sebelum setiap regu melakukan atraksinya, Pak Eko berdiri dan memberi pengumuman.

“Adik-adik, sebelum atraksi setiap regu kita mulai, marilah kita menyanyikan lagu Hymne Pramuka. Istimewanya, yang akan memimpin lagu ini tidak bisa hadir. Ia tidak bisa hadir di sini karena mendapat musibah.”

Para penonton saling berbisik dan bertanya-tanya, siapa yang dimaksud oleh Kak Eko, pembina yang sehari-hari dipanggil sebagai Pak Eko.

“Ia adalah … Anita. Anita tetap ingin berbagi semangat pramuka dengan kita semua. Pada layar di sebelah barat, mari kita saksikan bersama videonya.”

Semua mata tertuju ke layar besar yang sudah dipasang agak jauh dari api unggun, letaknya di sebelah barat lapangan.

Kak Adi dan para pembina sibuk menyiapkan peralatan. Proyektor menyala. Layar putih terlihat terang di keremangan. Sengaja nyala api unggun yang mulai mengecil tidak disiram minyak agar video terlihat jelas.

Video Anita mulai diputar. Dengan suara yang merdu, ia menyanyikan lagu Hymne Pramuka dengan penuh penjiwaan. Teman-teman yang lain ikut menyanyikan dengan lirih dan khidmad.

Selesai menyanyi, Anita terdiam, lalu tiba-tiba ia berteriak, “Dua kali tepuk Pramuka!”

Spontan semua teman dan pengunjung yang menyaksikan bertepuk pramuka sesuai perintahnya.

“Hebat sekali!” seru salah satu temannya.

“Anita luar biasa! Meskipun tidak di sini, dia tetap ikut berpartisipasi,” tambah yang lain.

Setelah lagu selesai, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Teman satu regu Anita bahkan berteriak, “Terima kasih, Anita! Kamu hebat!”

Di rumah, Anita menonton acara itu melalui melalui siaran langsung di Facebook yang dikirim sang Bunda. Ia tak bisa menahan air matanya. Bahagia karena meskipun tidak hadir langsung, ia tetap menjadi bagian dari perkemahan.

Api unggun malam itu terasa berbeda. Semua orang, termasuk masyarakat yang hadir, merasa terinspirasi oleh semangat Anita. Mereka belajar bahwa semangat pramuka bukan hanya soal kehadiran fisik, tetapi juga tentang kemauan untuk berpartisipasi dengan bantuan teknologi.

Musi Rawas, 17 Desember 2024
Khayalan PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.