Cerita Minggu Pagi
Hari Minggu, seperti biasa aku bangun pagi. Akan tetapi, agak kesiangan menyiapkan diri untuk berolah raga jalan kaki. Setelah minum air putih hangat, aku memakai baju kaos dan bersepatu. Setelah berpamitan dengan ibunya anak-anak, aku pun berjalan menyusuri jalan kampung. Aku susuri Jalan setapak, jalan lorong, hingga akhirnya sampai di jalan poros Tugumulyo, Musi Rawas.
Waktu menunjukkan pukul 07.21 WIB. Matahari lumayan tinggi, namun niat berjalan kaki membakar lemak aku jalani. Target 8.000 langkah pun kupasang pada aplikasi di hape hadiah anak sulung. Beberapa puluh meter dari rumah, terlihat masjid jami’ yang megah.

Terlihat bagus dan seorang petugas di dalam terlihat sedang membersihkan lantai. Hal yang rutin dilakukan setiap pagi hari. Langkah kaki pun kuayunkan. Aku pun sampaidi sebelah barat masjid. Di sini berdiri Kantor Kepala Desa D. Tegalrejo. Terdengar suara musik menghentak diiringi dengan aba-aba seorang ibu. Para lansia masih melakukan senam di halaman belakang kantor. Sepuluh meter kemudian aku sampai di jalan raya. Jalan ini adalah jalan utama yang menghubungkan jalan Lintas Tengah Sumatera dengan wilayah Merasi atau Mirasi, julukan bagi wilayah kecamatan Tugumulyo. Konon, Merasi adalah sebutan untuk daerah transmigrasi. Lidah para transmigran pada saat itu, beberapa tahun sebelum kemerdekaan republik ini, lebih mudah mengucapkan kata merasi dari pada transmigrasi.
Setelah memasuki jalan raya, aku belok ke kanan, ke arah pasar. Agar aman aku berjalan di atas trotoar. Beberapa meter di depan tampak pemandangan yang tidak sedap. Tumpukan sampah menggunung. Kotak sampah yang dibangun pemerintah desa beberapa tahun lalu, sebagian sudah diratakan, tidak boleh lagi dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Hal ini menyusul bertumpuknya onggokan sampah yang berasal bukan dari warga desa. Bahkan, pernah didapati warga dari luar daerah sengaja membuang sampah. Kontan saja kotak sampah berukuran tidak lebih dari 2 x 2 meter itu penuh. Baunya memenuhi udara, sampah fisiknya tumpah ruah hingga ke bahu jalan.
Sebagai warga desa, kami merasa senang. Sampah-sampaj anorganik dapat kami buang ke bak sampah yang disediakan. Para pemulug pun memiliki lahan untuk mengais rezeki. Akan tetapi, volume sampah tidak diimbangi dengan armada angkutan yang memindahkan sampah tersebut ke pembuangan akhir. Akibatnya, sampah menumpuk. Belum lagi warga luar daerah yang sengaja membawa sampah rumah tangganya ke bak sampah yang sesunguhnya hanya diperuntukkan bagi warga desa kami.

Pemerintah desa didukung masyarakat pun memasang spanduk larangan membuang sampah di eks bak pembuangan sementara. Sisa sampah dikeringkan dan dibakar sebagai metode tercepat untuk membersihkannya. Teman yang sedang melakukan kebersihan tidak bersedia diambil gambarnya. Berikut penampakan TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang diratakan dan dinyatakan dilarang sebagai tempat pembuangan sampah.

Saluran Air Kok Jadi Bak Sampah?
Jalan pagi membakar kalori pun berlanjut. Selangkah, dua langkah, terus saja kususuri jalan melalui trotoar. Sebelah kiri trotoar adalah siring atau saluran pengairan sawah yang masih dikeringkan. Pemerintah memperbaiki dinding saluran dengan potongan-potongan beton. Hal itu dilakukan agar tebing tanah tidak mudah terkena abrasi mengingat debit air saluran air ini terbilang tinggi. Pengeringan yang dilakukan pemerintah daerah adalah pengeringan kali kedua. Awal tahun 2022 sudah dilakukan pengeringan. Bagian yang diperbaiki pada saat itu adalah bagian dasar saluran penghubung pada beberapa titik.
Hal yang memprihatinkan adalah pemandangan sepanjang jalan yang kulalui. Terlihat bungkusan sampah dalam kantung plastik yang … tega-teganya seseorang membuangnya ke saluran air. Bisa dibayangkan, bagaimana jika saluran air yang jika berisi penuh air. Lagipula laju aliran airnya sangat deras. Sudah dipastikan saluran air atau siring itu menjadi tempat sampah yang “praktis”. Seketika itu juga sampah akan hanyut dan “bersih”. Sebaliknya, pada ujung saluran atau di pintu air, sampah itu akan menumpuk dan akhirnya menyumbat saluran.

Bagaimana menghentikan kebiasaan seperti ini? Pertanyaan ini terus menggelayut. Di sekolah, guru selalu mengingatkan anak-anak. Sungai bukan tempat sampah. Namun, persoalan sampah tidak melulu tentang onggokan barang habis pakai atau sisa-sisa barang yang tidak dimanfaatkan, tetapi juga tentang karakter.
Hari makin siang, aku pun terus berjalan hingga melewati pasar. Layar hape aku periksa apakah target 8.000 langkah terlampaui? Ternyata belum. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30. Huh, siang juga. Ada notifikasi pesan. Pesan kubuka. O, diingatkan untuk segera antre pertalite. Baik, aku pun meminta bungsu untuk menjemput di sebuah titik yang kupastikan ia tahu tempatnya. Target 8.000 langkah belum tercapai. Semoga Minggu pagi berikutnya, tercapai.

Musi Rawas, 31 Desember 2022
Salam blogger sehat!
PakDSus
Keren…berbagi cerita. Betul sekali…ada orang yg tidak bertanggungjawab membuang sampah dimana saja ???
Seperti ikut jalan di belakangnya Pak D. Deskripsinya mantap Pak D.
Ikut jalan jalan di minggu pagi bersama Pak D.
Persoalan sampah sangat menarik, karena hampir terjadi di mana-mana, bahkan kota besar seperti Jakarta.
Sosialisasi sudah sering disampaikan, himbauan sudah digaungkan tp tetap saja kebiasaan sudah menjadi karakter jadi sulit untuk diubah.
Baik, Mas Yamto.
Benar, Bu.
Keprihatinan di mana-mana..,
Semangat Mas e
Di Serang ada satu daerah, kabupaten kalo ga salah namanya pontang. Sepanjang Pontang ini di aliri sungai, sepanjang sungai, airnya digunakan untuk kebutuhan harian, mandi, cuci baju, cuci prabut cuci beras dll. Namun sayang sepanjang aliran sungai itu juga penuh dengan sampah. Heu heu .
Ha ha ha … Memanfaatkan kamera saja.
Wah Pak Camat olah raga sambil investigasi. Jadi catatan besok saat rembug desa bisa dimunculkan