artikel

Belajar dari Sang Suhu

Beberapa hari terakhir, badan terasa tidak sehat. Badan meriang, otot terasa kaku dan pegal. Tidak batuk, namun bersin-bersin meskipun tidak sering. Keringat dingin mengucur, tengkuk terasa kaku. Wah, komplet sekali. Anak bujang yang tersisa di rumah menjadi tukang urut yang mengurut badan ayahnya dengan minyak telon. Setelah itu, badan pun terasa ringan, rasa sakit berkurang.

Efek dari rasa sakit adalah saya tidak bisa menulis. Membalas WA pun tidak bersemangat. Tulisan yang saya kumpulkan pun gagal saya nilai. Tulisan itu adalah tulisan para peserta lomba blog dalam rangka ulang tahun Omjay. Ulang tahun guru blogger itu bertepatan dengan bulan bahasa, hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober. Baru saya tahu kenapa sejak tahun 2020 dahulu setiap tanggal itu Omjay menggelar lomba blog nasional.

Pada malam hari, saya tidak bisa ikut Zoom. Pengumuman pemenang. Saya sebagai salah satu juri tidak bisa bekerja karena sakit. Untunglah jurinya banyak dan rerata penulis kawakan. Hanya saya yang penulis amatiran. Mungkin karena pernah mendapat hadiah juara lomba blog ketika usia perkawinan Omjay berumur 24 tahun, saya diikutkan Omjay ke dalam Tim yang beliau bentuk.

Link Kompasiana bertaburan. Link blog di grup satunya berhamburan. Pun cerita Kopdar RVL tidak kalah ramai. Saya hanya bisa melihat sekilas. Tidak bisa membaca tuntas. Ada rasa marah. Pun tumbuh perasaan yang lebih sensitif dari biasanya.

Komentar Konyol

Ketika tubuh berangsur sembuh, saya pun kembali menjelajah WhatsApp. Hingga mata menatap tulisan bernada bertanya pada pukul 15.34 di grup RVL. Dasar mata belum sehat benar. Tidak terbaca jawaban pukul 16.00. Pada petang hari pukul 19.15 saya tidak mendapati jawaban. Semua sibuk dengan cerita masing-masing. Mengadu sudah membaca dan memberi komentar. Layaknya percakapan di grup blogger. Hati pun memanas. Mungkin saya stress namun tidak menyadari. Sebab, akibat sakit banyak pekerjaan administrasi tertunda. Akhirnya, keluar tulisan:

Posting jam 15.34 Sampai 19.14 tidak ditanggapi. Yg gak ikut kopdar, seperti saya, kudu bisa njawab sendiri. Ya nggak ikut nulis. Ini utk yg ikut kopdar, anggota kelas satu.

Bisa ditebak. Grup pun heboh. Saya pun dihubungi secara pribadi dan diberi bukti. Akhirnya, saya menyadari kekeliruan. Segera saya memberi klarifikasi di grup. Tentu agar tidak terjadi salah paham yang berkelanjutan.

Luar biasa. Sang suhu, Mr. Emcho, sangat bijaksana. Beliau memberi bukti dan meminta agar memberi klarifikasi. Saya pun bisa menerima dan akhirnya memberi keterangan di grup. Puji syukur, diterima kembali dalam komunitas penulis yang rata-rata memiliki jam terbang tinggi. Penulis yang memiliki tulisan yang bernas dan bermutu. Saya bergabung memang berniat belajar dari mereka, terutama sang Blantik Literasi yang menularkan virus literasi kepada kami.

Terima kasih, Suhu. Terima kasih, Bu Daswatia. Juga kepada teman-teman anggota RVL (Rumah Virus Literasi), lainnya. Kejadian petang tadi tentu menjadi salah satu dinamika kelompok.

Musi Rawas, 30 Oktober 2022
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Belajar dari Sang Suhu

  • Artificial intelligence creates content for the site, no worse than a copywriter, you can also use it to write articles. 100% uniqueness, scheduled posting to your WordPress :). Click Here: https://stanford.io/3FXszd0

Comments are closed.