artikel

Jangan Sampai Kita Ini menjadi Gurusaurus, Apa Maksudnya?

Supadilah, Guru Honor yang Kaya Karya dan menginspirasi guru lainnya (Sumber: https://gurupembelajar.my.id/)

blogsusanto.com – “Jangan sampai kita ini menjadi gurusaurus,” tulis Supadilah di weblog pribadinya ketika seorang pengawas mendatangi sekolahnya.

Dengan penuh keheranan, sang guru pun mengerutkan kening. Bukankah kata “saurus” mirip kata yang melekat pada kata ‘dino’. Ya, dinosaurus, binatang purba yang sudah punah ribuan tahun lalu. Gurusaurus analogi untuk guru yang bakal punah jika tidak bisa beradaptasi.

Menangkap keheranan sang guru binaannya tentang gurusaurus, si pengawas pun memberikan penjelasan bahwa dinosaurus adalah hewan purba. Hewan itu punah akibat dari tidak bisa melakukan adaptasi dengan alam. Karena tidak bisa beradaptasi, akhirnya hewan itu punah.

Baca Juga: Pengalamanku menjadi Editor Penulis Media Literasi Nusantara Semaja (Melintas)

Supadilah pun melanjutkan cerita pada weblognya. Kata sang pengawas, saat ini teknologi semakin maju. Pembaruan pun selalu datang. Apabila guru tidak mau beradaptasi maka ia akan bernasib sama dengan dinosaurus. Gurusaurus adalah pengibaratan terhadap guru yang tidak mau beradaptasi dengan perubahan, terutama pesatnya perkembangan teknologi.

Seloroh Pak Pengawas yang Doktor kepada dirinya yang honor, menambah amunisi bagi Supadilah untuk memacu diri lebih baik lagi.

Disrupsi Teknologi Mengharuskan Guru Terus Berbenah

Pesatnya perkembangan teknologi, khususnya teknologi digital, menimbulkan transformasi pada berbagai bidang kehidupan. Tranformasi atau perubahan tersebut amat masif terhadap hal-hal mendasar. Misalnya, pada pekerjaan manusia. Berapa banyak jenis pekerjan pada saat ini yang “hilang” akibat sentuhan teknologi?

Baca Juga: Belajar Bahasa Indonesia sesuai EYD V dan KBBI

Gadis cantik penunggu pintu tol beberapa puluh tahun lalu, sekarang digantikan oleh sebuah tiang yang setiap kali kendaraan lewat, sang sopir harus menempelkan kartu berisi uang elektronik pada “pipi” sang tiang. Tanpa balasan senyuman, apalagi anggukan kepala tanda berterima kasih.

Perubahan berikutnya ada pada cara dan gaya hidup manusia. Misalnya, ketika perut lapar. Orang harus bersabar menunggu penjual makanan lewat.

“Kue … kue …!” teriak bibi penjual kue.

“Ting … ting … ting …,” suara mangkuk berdenting tanda gerobak soto siap menerima pembeli.

Jika para penjual itu tidak kunjung tiba, perut pun semakin lapar. Ambil uang di dompet, lalu berjalan ke warung tetangga atau pergi ke pasar tempat penjual makanan penawar lapar.

Saat ini, tidak ada alasan perut lapar lagi karena penjual makanan tidak kunjung datang. Aneka layanan pesan antar tanpa harus beranjak dari tempat duduk semakin marak.

Jastip atau jasa penitipan yang dilakukan oleh kaum muda pada radius daerah tertentu siap melayani pesan antar barang yang dibutuhkan. Aplikasi yang dibutuhkan hanya media sosial.

Baca Juga: Pertemuan Perdana Content Creator dan Kontributor Tulisan Portal Melintas ID Mitra Promedia Teknologi

Lalu, bermunculan aplikasi khusus yang melayani pesan antar yang lebih praktis. Sungguh perubahan yang sangat luar biasa.

Perubahan atau transformasi yang masif terhadap hal-hal mendasar dalam kehidupan manusia yang diakibatkan oleh pesatnya perkembangan teknologi digital, itulah yang dinamakan disrupsi digital.

Tidak terkecuali dunia pendidikan pun terimbas disrupsi digital. Bahkan, akibat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu menumbuhsuburkan disrupsi pada cara guru mengajar.

Sebagian guru nenerasi baby boomer menghadapi kesulitan yang cukup lumayan dibandingkan para guru generasi milenial. Akhirnya, guru-guru “tua” pun diharuskan beradaptasi semampu yang ia bisa lakukan.

Baca Juga: Kopi Kingkong dan Caluk Bangka

Dengan diberlakukannya BDR (Belajar dari Rumah), guru harus mencari cara agar bisa bertemu murid menggunakan media (perantara).

Ada yang memilih menggunakan tulisan (pesan WA), sebagian lagi memilih bertemu melalui suara (merekan pesan suara di WA), yang lain merekam video diri sendiri atau objek sebagai media bertemu anak-anak didiknya.

Guru, seperti Supadilah ini, mengembangkan diri untuk mampu membuat konten-konten video agar pembelajaran yang dilakukan dapat dipahami dengan menarik dan menyenangkan.

Supadilah, Sosok Guru Pembelajar yang Menginspirasi Rekan Lainnya

Supadilah, kadang dipanggil Pak Padil atau Guru Padil, adalah guru yang bukan korban disrupsi teknologi melainkan guru yang memanfaatkan disrupsi teknologi digital.

Teknologi internet dimanfaatkan untuk menunjang aktivitasnya sebagai guru maupun sebagai kepala rumah tangga.

Dengan internet ia mengenal blog dan menyalurkan kegemarannya menulis di blog yang ia kelola. Jadilah ia seorang kreator konten tulisan.

Kecintaannya pada dunia literasi membaca dan menulis itu bahkan telah mengantarkannya pada perolehan poin dan koin.

Berbagai lomba blog dan menulis ia ikuti. Beberapa kali menjadi juara. Hadiah pun diterima. Hadi-hadiah itu, ia sebut sebagai “koin” ibarat mata uang yang bisa dibelanjakan. Kenyataannya, sebagian hadiah lomba berupa uang yang menambah pundi-pundi rekeningnya.

Berkahnya sebagai penulis membawanya menjadi pembicara pada berbagai even kepenulisan atau lainnya. Penghargaan ini, ia namakan sebagai poin yang ia terima karena menambah menaikkan brandingnya sebagai guru penulis.

Anda sang Guru Padil seorang guru PNS, tentu karya-karya yang ia hasilkan dihargai dengan poin-poin angka kredit yang diperhitungkan untuk kenaikan pangkat dan jabatannya.

Meskipun ia masih berstatus honor, kedua hal yaitu poin dan koin diterimanya dari kiprahnya dalam literasi. Tentu kiprahnya menghasilkan karya-karya literasi tidak terlepas dari majunya teknologi internet.

Disrupsi cara mengajar akibat pandemi seiring dengan pesatnya internet, menantang Guru Padil untuk membuat konten selain tulisan. Akun Youtube dan TikTok pun dibuat. Aplikasi editing video ia pasang pada telepon seluler pintarnya. Dengan belajar tekun, satu demi satu video pun dihasilkan.

Video yang dihasilkan, sebagian sebagai media pembelajaran, ia simpan di Youtube. Berkat internet yang lancar, mengunggah video hasil karyanya ke Youtube semakin mudah.

Jawara lomba menulis dan kreativitasnya membuat Guru Padil takurung menjadikannya sebagai guru yang kaya karya. Karya raya sang Guru Padil menginspirasi teman-teman di sekolahnya, pun rekan guru di seantero Nusantara ketika ia diundang menjadi narasumber melalui media sosial maupun ruang rapat Zoom. Pembaca melintas.id yang ingin mengetahui lebih banyak betapa karya rayanya dia, bisa dikepoin di sini.***

Semula dipublikasikan di https://www.melintas.id/ pada 10 Juni 2023

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.