artikel

Contoh Kegiatan MPLS Ramah 2026 untuk SD: Panduan Menciptakan Hari Pertama Sekolah yang Aman dan Menyenangkan

MPLS Ramah (Gambar: Kemendikdasmen)

Memasuki tahun ajaran baru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali memperkenalkan konsep Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. Pedoman ini tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Kepmendikdasmen Nomor 198 Tahun 2026 tentang Uraian Materi MPLS Ramah. Lewat dua aturan ini, pemerintah menegaskan satu hal yang sederhana namun penting: hari pertama sekolah harus menjadi pengalaman yang membuat anak merasa diterima, bukan momen yang menakutkan.

Jika sebelumnya kegiatan MPLS sering identik dengan orientasi yang kaku dan formal, kini arahnya berubah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Kemendikdasmen secara tegas melarang segala bentuk perpeloncoan, kekerasan, dan pungutan biaya dalam pelaksanaan MPLS. Seluruh pendanaan kegiatan ditanggung dari Dana BOS, sehingga orang tua tidak dibebani biaya apa pun. Larangan ini bukan sekadar imbauan, melainkan aturan yang mengikat seluruh satuan pendidikan di Indonesia.

MPLS Ramah berlangsung selama lima hari pada minggu pertama masuk sekolah. Sebelum hari pertama tiba, sekolah juga diwajibkan menyosialisasikan rangkaian kegiatan kepada orang tua, paling lambat lima hari sebelumnya. Pada masa ini pula, orang tua dapat diajak mengisi instrumen deteksi awal sederhana mengenai kondisi anak, sebagai bagian dari upaya sekolah memahami kebutuhan setiap murid sejak awal.

Selama lima hari pelaksanaannya, sekolah didorong menghadirkan aktivitas yang membangun karakter, memperkenalkan budaya sekolah, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri murid.

Hari Pertama: Mengenal Sekolah dan Warga Sekolah

Hari pertama difokuskan untuk membantu murid baru mengenal lingkungan belajarnya. Kegiatan dapat diawali dengan penyambutan oleh kepala sekolah dan guru, dilanjutkan perkenalan seluruh warga sekolah.

Suasana keakraban dibangun melalui permainan ringan atau ice breaking, kemudian murid diajak berkenalan dengan teman sekelas. Setelah itu, sekolah dapat memperkenalkan visi, nilai, dan budaya yang menjadi ciri khas satuan pendidikan.

Murid juga diajak berkeliling sekolah untuk mengenal ruang kelas, perpustakaan, UKS, kantin, serta fasilitas lainnya. Tata tertib sekolah dikenalkan melalui pendekatan yang menyenangkan, dan hari pertama ditutup dengan murid menceritakan kembali apa yang paling mereka sukai dari hari itu.

Hari Kedua: Membiasakan Pola Hidup Sehat dan Disiplin

Pada hari kedua, kegiatan dapat dimulai dengan senam pagi atau Pagi Ceria sebagai pembuka aktivitas belajar. Murid kemudian diperkenalkan pada Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Guru mata pelajaran mulai dikenalkan kepada murid. Berbagai permainan kolaboratif juga dapat dilakukan untuk melatih kerja sama dan komunikasi antarteman.

Selain mengenalkan jadwal pembelajaran, sekolah dapat memberikan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat, pentingnya kantin sehat, serta latihan disiplin melalui aktivitas sederhana. Hari kedua diakhiri dengan wali kelas mengajak murid berbagi cerita tentang kebiasaan baik apa yang ingin mereka mulai.

Hari Ketiga: Mengembangkan Potensi dan Literasi

Hari ketiga ditujukan untuk membantu murid mengenali bakat, minat, dan potensi dirinya. Berbagai permainan literasi maupun numerasi dapat menjadi aktivitas yang menarik sekaligus edukatif.

Sekolah juga dapat memperkenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler agar murid mengetahui pilihan kegiatan sesuai minatnya. Aktivitas membaca bersama, edukasi penggunaan media digital secara bijak, pembelajaran menjaga kebersihan lingkungan sekolah, hingga simulasi keselamatan menjadi bagian penting pada hari ini.

Diskusi mengenai sikap saling menghargai dan kerja sama antarteman turut memperkuat kemampuan sosial murid sebelum mereka memasuki hari-hari belajar yang sesungguhnya.

Hari Keempat: Menanamkan Karakter Positif

Fokus kegiatan hari keempat adalah penguatan karakter. Sekolah dapat mengawali kegiatan dengan pembiasaan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

Selanjutnya, murid diajak bergotong royong membersihkan kelas sebagai bagian dari pembentukan budaya sekolah yang peduli lingkungan.

Murid juga dikenalkan pada organisasi sekolah, permainan kepemimpinan sederhana, edukasi pencegahan perundungan, pentingnya menjaga kesehatan mental, budaya antre, hingga berbagai aktivitas seni dan kreativitas. Sebagai penutup, guru dapat mengajak murid bercerita tentang cita-cita mereka, sederhana saja, sekadar untuk saling mengenal lebih dalam.

Hari Kelima: Merayakan Kebersamaan

Hari terakhir menjadi momentum untuk merayakan pengalaman belajar selama MPLS. Murid dapat menampilkan hasil karya atau pertunjukan kelompok sebagai bentuk apresiasi terhadap proses yang telah mereka jalani.

Sekolah juga dapat memberikan penghargaan kepada seluruh murid, menyampaikan pesan inspiratif dari kepala sekolah, serta mengajak murid membangun komitmen bersama untuk menjaga sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Penandatanganan komitmen, foto bersama seluruh warga sekolah, pengisian evaluasi sederhana, hingga doa bersama menjadi penutup rangkaian kegiatan MPLS Ramah.

Melalui konsep baru ini, Kemendikdasmen berharap setiap sekolah mampu menghadirkan kesan pertama yang positif bagi seluruh murid. MPLS tidak lagi dipandang sebagai kegiatan orientasi semata, tetapi sebagai awal terbentuknya karakter, rasa percaya diri, serta hubungan yang hangat antara murid, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah.

Paradigma MPLS Ramah 2026 menempatkan sekolah sebagai ruang belajar yang aman, inklusif, bebas perundungan, bebas kekerasan, dan menghargai setiap anak. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang memberikan rasa nyaman sekaligus mendukung tumbuh kembang murid sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan pendidikan.

Musi Rawas, 5 Juli 2026

Salam Literasi!

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.