Bantal yang Meledak

Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Cahayu, belum juga tertidur. Mungkin salah kami. Lampu rumah dan kamar menyala terang. Boleh jadi, dia menganggap hari masih siang.
Eyang Uti, istri saya, sudah sangat mengantuk. Beberapa kali mengajak Cahayu ke kamar, menutup pintu dan mematikan lampu. Tetapi, itu tidak mempan.
“Da mau, da mau!”
Itu artinya Tuan Puteri belum mau tidur. Ketika ia dipaksa maka drama tangisan pasti dipertontonkan. Ketika si nenek pura-pura marah, sang cucu pun makin menjadi.
“Akung!”
Ia pun beralih ke arah saya. Minta peluk atau meminta perlindungan dan mengadu dengan bahasanya sendiri bahwa ia kena marah.
Setelah dibujuk, Cahayu mau kembali ke kamar. Lampu kamar sudah dipadamkan. Temaram karena pintu tidak ditutup, membuat Cahayu tenang. Saya kembali ke kamar depan.
Berbantal dua telapan tangan yang saya kaitkan, mata melirik ke arah jam dinding. Ya, Tuhan, sudah seperempat jam lewat dari pukul sepuluh malam.
“Semoga mereka sudah bisa tidur,” gumamku setengah berharap. Mata ini pun mulai berat, seperti kantuk yang melanda Eyang Uti.
Namun, tiba-tiba terdengar teriakan kecil.
“Ayuuuu, astaghfirullah all aziim!”
Suara istri membuatku bergegas. “Ada apa lagi si Uti berteriak?” saya bertanya dalam hati.
Di muara pintu saya melihat cucung tengah asyik mandi kapuk randu pengisi bantal.
“Akung!” ucap Cahayu disertai tawa renyah, seakan yang dilakukan menyenangkan semua.
Kantuk mata si Uti ditambah rasa kesal, barangkali, ia membiarkan cucunya berbalur kapuk bantal yang karena usia berubah menjadi bulir–bulir halus lembut.
“Aduh, cucung Akung! Yuk, kita ganti baju ke kamar mandi.” Saya berkata lembut sambil menyodorkan kedua tangan siap menggendong. Cahayu tidak mau digendong.
Saya pun menggandeng cucu pertama itu dan mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa perlawanan. Di kamar mandi ia gembira. Seperti biasa, ketika pancuran dihidupkan, kedua tangannya sibuk ‘menangkap’ air.
Seakan membaca benak sang cucu, saya menyeka mukanya, membersihkan sebagian badannya yang terbalut kapuk bantal.
Ranjang di kamar Cahayu penuh dengan butiran kapuk yang berhamburan. Lubang kecil pada bantal menjadi media bagi Ayu untuk mengeluarkan isinya dan menjadikannya barang mainan. Hal itu cukup menjadi alasan bagi Uti yang sudah mengantuk berat untuk berpindah ke kamar depan. Cahayu pun terpaksa kuantar mengikuti neneknya ke kamar depan.
Malam ini adalah malam terakhir, sebel;um esok kami berangkat ke Bandung, mengantarkan Cahayu ke pangkuan ayah bundanya.
Sambil merapikan tempat tidur Ayu, terlintas dalam pikiran: besok rumah ini akan kembali rapi seperti dulu. Namun, mungkin saat itulah kami justru merindukan kekacauan kecil yang malam ini membuat kami kelelahan.
Tugumulyo, 20 Juni 2026