artikel

Kung… Kung… Akung!

Cahayu dan Akung (Dok. PakDSus)

Menjelang pukul satu dini hari, saya, istri, dan Cahayu tiba di kota kecil di bagian selatan Sumatera, Lubuklinggau. Tiga bulan sebelumnya, Cahayu ikut tinggal bersama kami. Dua minggu lalu kami mengantarnya kembali ke rumah orang tuanya. Kini, gadis kecil itu kembali ikut pulang bersama kami.

Karena sudah larut malam, tidak ada lagi kendaraan umum yang dapat mengantar kami ke rumah di Tugumulyo. Akhirnya kami memutuskan menginap. Keesokan paginya, setelah mandi dan sarapan, saya pulang lebih dulu untuk mengambil kendaraan. Setelah itu saya kembali menjemput dua perempuan yang paling saya cintai.

Begitu pintu kamar penginapan terbuka, terdengar suara yang selalu kami rindukan.

“Akung… Akung…!”

Suara Cahayu memanggil kakeknya kini terdengar semakin jelas. Artikulasi setiap katanya semakin baik. Panggilan sederhana itu membuat lelah perjalanan seolah lenyap. Kami pun segera mengemas barang-barang dan bersiap pulang.

Sepanjang perjalanan, seperti biasa Ayu begitu ceria. Hampir semua yang dilihatnya menjadi alasan untuk bertanya.

“Apa tu… apa tu…?”

Ia menunjuk ke kiri, lalu ke kanan, sambil menatap penuh rasa ingin tahu. Kami dengan sabar menjelaskan apa yang dilihatnya, sementara ia berusaha menirukan setiap kata yang kami ucapkan.

Dua minggu lalu kami sempat diliputi rasa gundah. Apakah kata-kata yang mulai lancar diucapkannya masih akan kami dengar lagi ketika ia kembali? Ternyata kegelisahan itu terjawab. Cahayu kembali menyeberangi Selat Sunda, meninggalkan Bandung untuk sementara waktu dan kembali menghidupkan rumah kecil kami di Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas.

Tugumulyo, 4 Juli 2026

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.