artikel

Dinamika WAG Lagerunal

Selasa Malam, 9 Agustus 2022, saya sangat bahagia bercengkerama dengan teman-teman anggota Lagerunal. Menjelang senja, waktu di tempat saya, sang Ambu Guru membuat puisi. Pusi sederhana tentang senja hari yang sedang diguyur rintik hujan. Ibu Sumartini, nama asli sang Ambu Guru, membuat puisi sebagai berikut.

Senja ini
Di ufuk timur temaram jingga
Hujan nan rintik-rintik perlahan
Dan senja tetap kilau merona…

Saya yang cerewet meminta penjelasan lebih lanjut tentang larik kedua: Di ufuk timur temaram jingga. Permintaan saya tidak digubris. Hanya emoji tangan menutup mulut yang menjadi tanggapan si Ambu. Saya hanya tersenyum. Tetapi, tentu saja Ambu Guru tidak tahu. Jelaslah, kan kami tidak melakukan panggilan video.

Sebait puisi Ambu membuat saya tergelitik untuk membuat puisi akrostik. Ini tentu masih berkaitan dengan artikel berjudul Kegembiraan Akrostik yang belum lama ini saya publikasikan.

Puisi akrostik tentang senja hari menggunakan nama panggilan ternyata cukup menguras tenaga. Meskipun bukan otot yang saya gunakan melainkan otak, akan tetapi lumayan lelah. Dua belas baris bertema senja menyita waktu hampir satu setengah jam sejak puisi Ambu Guru menari-nari dalam benak menjadi ide.

“Uff … setelah tiga baris susah juga mau melanjutkan.” Hati bergumam sambil memutar otak mencari kata yang tepat.

Akhirnya, saya berselancar dan menemukan laman http://kbbi.kamus.pelajar.id/. Dari laman itu saya menemukan ratusan lema berawalan huruf yang saya cari. Meskipun pada laman tersebut iklan yang muncul bertubi-tubi, saya tidak peduli. Dengan sabar saya mencari dan menemukan kata yang saya inginkan.

“Nandung itu apa, Pak D?” tanya Bu Ovi di kolom percakapan WA.

“Nandung ya tupai,” jawab saya menjelaskan.

Berbalas Puisi Akrostik

Jadi, agar bisa lancar menulis puisi akrostik yang huruf awal lariknya sudah ditentukan, tesaurus atau laman kbbi.kamus.pelajar.id sangat membantu. Terutama orang-orang seperti saya yang miskin kosa kata. Ketahuan nih kurang literasi.

Pukul 20.26 waktu laptop saya, Bu Yusni hadir. Ia menulis puisi berjudul Yusni. Puisi akrostik juga.

Yusni

Y ang Maha Esa menciptakan nya dalam kesunyian
U mpama butiran mutiara putih berkilau
S etiap rangkai katanya kan singkap kabut kegelapan
N aluriku mengema,,,
I bu, aku sangat rindu padamu

Musi Rawas, 9 Agustus 2022

Puisi akrostik dari saya dan Bu Yusni merangsang Neli. Nenek Lincah? Boleh saja disebut begitu. Namun, Nely berarti Nenek Lely Suryani. He he he ….

Si Nenek berkata,” Ikutan akrostik aah …” Judul yang ia tulis adalah Nenek.

Nenek

L ima puluh tahun yang lalu
E lok wajah kulit hitam manis
L ahir ke dunia dengan selamat
Y ani dipanggilnya

S ekarang sudah jadi nenek
U ntuk cucu ‘ cucu tersayang
R iuh ragam jika berkumpul
Y akin semua bergembira
A da di pelukan nenek
N yaman enggan dilepasksn
I ngin selalu dekat dengan nenek

Banjarnegara, 9 Agustus 2022

Puisi berjudul “Nenek” yang ditulis oleh seorang nenek-nenek itu langsung menuai pujian dari Ambu Guru.

Si Nenek pun memberikan tantangan kepada saya untuk membuat puisi akrostik dengan huruf awal secara vertikal terbaca SUMARTINI.

“Lanjutkan, Pak D!”

Tantangan itu tidak saya tanggapi. La wong bikin puisi namaku saja butuh berjam-jam. Apalagi ini, belum ada tema dan menggunakan nama orang pula. Apa malah tidak membikin kepala menjadi pusing. Ah, Nenek bisa aja.

Meskipun saya tidak menanggapi, si pemilik nama, Ambu Guru, akhirnya tidak bisa menahan penasaran. Maka, terciptalah puisi tentang sosok Sumartini. Berikut kata si Ambu.

S udah tak muda lagi usiaku
U mur tak jadi penghalang bagiku
M enggoreskan pena digital
A dalah pengisi waktu senggangku
R agam karya adalah tantangan
T antangan yang menggoda
I ngin selalu terwujud
N yalakan semangat pasti bisa
I ndah kan datang pada akhirnya…

Puisi akrostik buatan Ambu bagus, bukan?

Yang Ikutan Ber-akrostik Semakin Banyak

Ibarat flu, yang lain ikut ketularan membuat puisi akrostik. Pak Sim Chung Wei yang biasanya menulis puisi bebas, pun ikutan berakrostik ria. Berikut puisinya.

S aat subuh saya lahir
I bu merawat dengan penuh kasih
M emiliki berat kurang dari normal

C eria selalu setiap saat
H ari-hari sebagai pendidik
U ntuk mencerdaskan putra-putri bangsa
N iat mulia sudah tertanam
G iat selalu memberi yang terbaik

W aktu kecil di kota tahu
E nak makan nya selagi hangat
I ndah nya hidup dalam kerukunan

Jakarta, 9 Agustus 2022

Nah, dari satu puisi ternyata berkembang menjadi beberapa puisi akrostik. Saya memiliki koleksi puisi akrostik karya teman-teman blogger di grup WA Lagerunal. Asyik sekali. Makanya, agar tidak terhapus sia-sia, saya salin dan sajikan di sini.

Setelah Pak Sim, datanglah Bu Nunung Komalasari. Guru TK berkaca mata. Bu Nunung sering dijadikan tokoh rekaan dalam cerita fisksi anak-anak kantin sebuah sekolah. Ia menanyakan, gerangan apa yang sedang terjadi. Bisa ditebak siapa yang dimaksud sebagai “si adik”. Tidak lain adalah Bu Yusni, kepala madrasah dari Musi Rawas.

“Program apa, Dik?”

Alih-alih menjawab pertanyaan sang kakak, si adik malah balik bertanya.

“Kak Nunung kemana aja? Rinduu tau!”

Si gadis berkaca mata yang dalam “cerita fiksi Lagerunal” adalah teman istimewa Beje, ikutan menulis, tanpa judul.

Nirwana menjemput hidupku
Untuk segera berjalan
Naluriku berkata
Ungkapan hati tak mampu
Namun aku tetap harus berjalan
Gapai asa yang terbentang

Kuharap akan menjadi bahagia
Olah rasa tuk sampai tujuan
Meski terasa terjal tuk digapai
Andai waktu dapat berhenti sejenak
Lalu kucoba mengatur strategi
Agar asa dapat ku genggam
Saat senja datang
Angin berhembus perlahan
Rasakan betapa sejuknya
Ijinkan aku merasakan kesejukannya

Di bawah baris terakhir tertulis “Maksakeun”. Hmm, logat Bandung. Pantas, dong. Bu Nunung kan tinggalnya di seputaran Bandung.

Ibu guru dari Kota Mendoan, Purwokerto, rupanya tidak ingin ketinggalan. Beliau pun menulis puisi akrostik berjudul “Hiasi dan Warnai”. Baris-baris puisinya diawali dengan huruf-huruf namanya, SUMINTARSIH.

S emangatlah menjalani hari-hari
U mur biarlah berlalu dengan sendirinya
M enginspirasi atau tidak akan datang pada waktunya
I nisiatif berkarya dan menghadapi kendala
N iat yang kuat hanya untuk rida Allah
T erampil bersamaan bertambahnya jam terbang
A ktifkan diri bukti tidak hanya menjadi penonton
R iang menjadi teman selesainya pekerjaan
S yukuri yang sudah di tangan
I nsyaallah berkah sebagai hadiah
H iasi dan warnai lingkunganmu dengan karya terbaik

“Keren, keren, keren,” kata saya sendirian di depan meja laptop. Sayangnya Bung Indra Keren malam ini tidak hadir. Mungkin si Bung masih sibuk dengan Google Master Trainer-nya.

Roda tetikus saya putar ke atas ke bawah. Percakapan berupa karya-karya puisi akrostik tertimpa oleh tayangan tentang tautan tulisan maupun flyer acara kegiatan Public Speaking dari Omjay.

Akhirnya mata yang mulai mengantuk menemukan puisi akrostik dengan judul Nunung. Siapa lagi penulisnya kalau bukan si adik, Yusni dari Musi Rawas.

Nunung

N an jauh di sana aku merindumu
U ntuk semua masa yang pernah kita lewati
N unung komalasari,,,
U ngkapan doa akan selalu kau terima
N yatakan asamu dan ingatlah selalu KepadaNya
G apailah mimpi diiriingi do’a

Serta merta hal itu membuat pemilik nama berasa bahagia. Emoji berhias tiga buah gambar hati “love” menjadi emoji balasan Bu Nunung buat si adik.

Wah, ternyata seru juga berakrostik ria,” gumamku di keheningan malam itu.

Penulis hal-hal serius dengan gaya santai nan kocak, Rizki Kurnia, pun ikut berpuisi. Katanya, ia ingin “Nyoba bikin puisi juga deh.” Begini puisi Pak Rizky.

Kunanti

R: Rindu adanya dirimu
I: Izinkan rindu itu selalu dalam qolbu
Z: Zamrud cakrawala indah dalam mataku
K: Ketika dirimu bisa hadir tepat waktu
Y: Yakinlah, bahwa aku setia untukmu tanpa jemu

K: Kurasa waktu memang semakin lama
U: Usia yang makin berjalan ke sana
R: Rasanya, baru sebentar dirimu tiba
N: Namun, dirimu tetap pergi juga
I: Izinkan aku tetap bersama dalam suka
A: Atau tak merasa sedih dibalut duka

R: Rabu ini, dirimu tetap kunanti
A: Apakah saat ini atau besok lain hari
H: Hanyalah rindu ini yang terus menghampiri
M: Menatap dirimu yang sekarang jauh tak terperi
A: Andai waktu bisa berputar kembali
N: Niscaya aku tak berbuat salah menyakitimu lagi

Setelah membaca tulisan Pak Rizki, Anda bertanya-tanya tidak siapa yang dimaksud?

Nah, sebagai pamungkas, sang Maestro cerita fiksi dan puisi di grup kami, menulis puisi tanpa judul dengan inisial namanya, SUDOMO.

S emburat senja di wajahnya
U sia baginya hanyalah angka
D oa dan usaha adalah sebaik-baiknya
O h usia
M engapa harus memperdebatkannya?
O leh sebab apa mempermasalahkannya?

Nadanya seperti curhat sang pemilik usia. Meskipun hanya angka, tetap saja hitungan usia mengundang debat dan permasalahan. Jangankan untuk lelaki, bagi seorang wanita pun demikian.

Wanita sering enggan menyebut angka untuk usia. Untunglah PNS tidak perlu menyembunyikan angka. Karena, tanpa perlu bertanya, nomor induk pegawai atau NIP-nya sudah jujur menyebutkannya.

Itulah keseruan hari Selasa malam, tempat anggota bercengkerama setelah menulis #PantunBale.

Musi Rawas, 10 Agustus 2022.

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Dinamika WAG Lagerunal

  • Iya, Pak. Makasih sudah berkunjung dan berkenan puisinya saya publikasikan.

  • Sebenarnya tidak disengaja. Daripada hilang percuma, percakapan kita dokumentasikan.

  • Luar biasa ….kolaborasi yang meramaikan suasana dan sangat menarik.mungkin akan berlanjut berkomukasi berbahasa puisi dengan penuh warna hati nurani…sungguh luar biasa.keren abis.

  • Rizky Kurnia Rahman

    Wah, jadi objek tulisan di blog ini, Pak D, sekalian didokumentasikan, hehe…

  • Mantaaap, Pak D. Rekaman yg lengkap ttg isi chat Selasa malam. Saluuut…

Comments are closed.