bahasa

LKPD dari Bu Tini

Digital signature vector created by vectorjuice – www.freepik.com

“Mak, Mimi dapat tugas dari Bu Tini!” teriak Mimi ketika ia memasuki pintu depan rumahnya sambil mengangkat kertas selembar.

Bu Siti, yang tidak lain adalah maknya Mimi menghentikan seterika yang tadi maju mundur menghaluskan baju seragam pramuka Mimi.

“Masuk rumah itu salam dulu, nggak teriak-teriak gitu, Mimi!” jawab Bu Siti.

“Assalamu’alaikum!” kata Mimi.

“Wa’alaikum salam. Nah, begitu anak baik. Sudah kelas delapan kok masuk rumah main selonong saja. Ada apa?” tanya Bu Siti lembut.

“Ini, Mak. Mimi dapat tugas. Tugas ini berisi pertanyaan yang jawabannya harus Mimi tulis. Besok dikumpulkan, Mak,” jawab Mimi.

Seterika yang tadi digerakkan maju mundur, sekarang diletakkan Bu Siti di samping meja seterika. Bu Siti menghentikan pekerjaannya demi si Mimi. Ia memberi contoh kepada anaknya agar menghormati orang yang mengajaknya bicara.

“Mengapa tidak kau cari di internet saja? Katamu di internet semuanya ada,” jawab Bu Siti.

“Jangan, Mak. Nggak boleh. Bu Tini tahu kalau Mimi menjiplak dari internet. Katanya, ibu punya aplikasi untuk mendeteksi jiplakan.”

Bu Siti tersenyum. Ia bangga, anak gadisnya memiliki semangat belajar yang tinggi.

“Ya, sudah. Simpan dulu lembar tugas dari Bu Tini. Kamu ganti baju, cuci tangan dan kaki, lalu makan dan salat. Mak melanjutkan sedikit lagi. Katamu lusa ke sekolah pakai seragam pramuka. Minggu kok pakai Pramuka, sih?” tanya Bu Siti.

“Loh, tanggal 14 Agustus kan Hari Pramuka. Mimi mau upacara di sekolah. Kami mau upacara memperingati Hari Pramuka, meskipun hari Minggu,” jawab Mimi.

Bu Siti melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak menanggapi jawaban anaknya. Mimi pun terlihat melakukan perintah emaknya.

Harapanku untuk Indonesia

Selesai makan, Mimi mengambil lembar kerja yang diberikan Bu Tini. Ia dan teman-temannya diminta memberi jawaban atas pertanyaan, “Apa harapanmu untuk Indonesia?”

Tampak raut kebingungan di wajahnya. Ia segera mengambil gawai dan masuk ke kamar.

“Meskipun tidak boleh njiplak, tetapi boleh membuka internet untuk mencari referensi.” Kata-kata Bu Tini di kelas masih diingatnya.

Ia pun mengetik kata kunci pada kolom pencarian Google di hape yang mulai retak kaca anti goresnya itu.

“Duh, banyak banget ternyata. Aku harus merangkumnya. Kata Bu Tini, meskipun isinya sama, namun harus menggunakan bahasa atau kalimat buatan sendiri,” gumam Mimi.

Mimi bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil buku catatan dan pensil. Mimi lebih suka membuat coretan atau draf menggunakan pensil ketimbang bolpoin. Ia pun sibuk menuliskan jawaban. Sebagian ia ambil dari internet.

Cukup lama ia membuat konsep. Setelah jadi, coretan itu ia bawa kepada ibunya.

“Mak, dengar ini, ya. Mimi mencoba menjawab pertanyaan Bu Tini,” kata Mimi kepada emaknya.

“Coba Mak dengar,” jawab Bu Siti.

Mimi pun mulai membaca tulisannya dengan suara keras.

Harapanku untuk Indonesia.

Aku anak Indonesia. Aku ingin menjadi anak yang hidup bahagia. Mohon hentikanlah pembulian. Dari Sabang sampai Merauke, aku berharap anak Indonesia bahagia. Aku takut jika kejadian pembulian menimpaku, menimpa teman-temanku. Temanku sesama anak bangsa Indonesia.

Wahai Indonesiaku, semoga engkau menjadi negara yang kaya. Menggratiskan pendidikan dan memberi bantuan. Agar aku bisa melanjutkan ke SMA. Aku kasihan dengan emakku. Dia hidup sendirian dan kesulitan mencari uang.

Aku ingin Indonesia bebas korupsi. Korupsi menghancurkan bangsa. Koruptor memperkaya diri dengan memanggil harta hak rakyat miskin.

O, ya. Indonesia harus toleran, rukun damai, tidak berperang.

“Bagaimana, Mak. Aku membaca di internet. Tapi, aku nggak menjiplak,” kata Mimi kepada emaknya.

Bu Siti mendengarkan dengan saksama tulisan yang dibaca anaknya.

“Koruptor memperkaya diri dengan memanggil harta, maksudnya apa, Mi?” tanya Bu Siti.

“Mana, Mak? Apa benar ada?” tukas Mimi.

“Coba ulangi. Emak tadi mendengar,” kata Bu Siti lagi.

Cukup lama Mimi memeriksa tulisannya. Ketika ia menemukan kalimat yang dimaksud emaknya, ia pun tertawa.

“Ha ha ha, iya, Mak. Maksud Mimi, koruptor memperkaya diri dengan mengambil harta hak rakyat miskin.”

Musi Rawas, 11 Agustus 2022

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “LKPD dari Bu Tini

Comments are closed.