artikel

Guru Kelas, Pastikan Barang-Barang Milik Murid Tidak Ada yang Tertinggal ketika Pulang

Foto oleh Porapak Apichodilok: https://www.pexels.com/

Tulisan ini lahir setelah peristiwa Sabtu siang tanggal 7 Oktober 2023 sekitar pukul 14.30 WIB.

Seorang anak kelas satu masuk pintu gerbang menaiki sepeda. Wajahnya tegang, mulutnya merutuk dan akhirnya berucap, “Bukuku!”

Sepedanya digulingkan dan si anak menuju ke kelasnya yang sudah terkunci.

“Bukuku, bukuku, bukukuuu!” teriaknya histeris.

Anak itu mendekti jendela kaca dan melompat-lompat. Jika jendela itu terbuka niscaya ia akan masuk, bagaimanapun caranya.

Aku pun segera mendekati. Dari informasi guru kelasnya, anak tersebut memiliki isfat keras hati dan sesekali tantrum jika keinginannya tidak terpenuhi.

Ketika aku mendekat, tangisnya makin keras. Kata yang keluar adalah: bukuku, bukuku.

Dengan lembut aku tanya, “Buku apa, Mas?”

Sambil menangis ia menjawab, “Bukuku hilang, bukuku ketinggalan, aku nanti kena marah Mama, nanti aku kena marah Papa!”

Hape yang ada di tangan segera kunyalakan kameranya. Lalu, percakapan dengannya pun aku rekam.

Setelah anak itu tenang dan mau pulang, aku segera menuju kendaraan dan berangkat pulang ke rumah.

Setelah kuunggah ke TikTok, video itu pun segera aku kirimkan ke grup PGSD FKIP UNS UPP Kebumen. Satu di antara teman memberi komentar dan bercerita.

Mengingatkan kejadian setahun yg lalu di sekolah , juga menimpa kls 1.
Cerita singkatnya…. sekolah sudah bubar semua, hanya guru” masih lngkap , anak kls 1 mau ambil mainan yg trtinggal di kelasnya, tdk tahunya anak bisa masuk ke kelas lewat jendela , akan tetapi ketika mau keluar krah bajunya nyangkut di grendel kunci jendela , sehingga anak menggantung (spt posisi gantung diri) , alhmdulillah ada pedagang dari jauh melihat dan anak itu disangka kain lap yg menggantung , anak sudah kritis dibawa ke RS dg kondisi koma/tdk sadar selama 2 hari.
Alhamdulillah…sampai sekarang anak sehat dan selamat…

Belajar dari dua peristiwa di atas, sebagai guru, terutama guru kelas rendah, seyogyanya menyiapkan para muridnya untuk memerisa barang bawaan agar tidak tertinggal di kelas.

Dengan logika yang ia punya, si anak akan berusaha mengambil barang yang tertinggal seperti buku dan mainan. Alasan takut dimarahi orang tua menjadi pemicu dirinya untuk berusaha mengambil barang miliknya tersebut.

Bagaimana jika si anak nekat memecah jendela agar ia bisa masuk ke kelas untuk mengambil bukunya yang, katanya, ketinggalan? Aku tidak berani berandai-andai.

Musi Rawas, 8 Oktober 2023
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.