Harapan Shena dan Teman-Temannya, Resolusi Awal Tahun yang Mengejutkan

Awal tahun pelajaran ini, sekolah tempatku mengajar ditetapkan sebagai sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka. Hal baru yang aku rasakan. Tidak hanya diriku, hal yang sama juga dirasakan teman-temanku.
Meskipun aku guru kelas enam, bukan guru kelas empat, aku pun ingin menerapkan apa yang dilakukan oleh rekanku yang guru kelas empat dan kelas satu sebagai pelaksana pembelajaran dengan paradigma baru.
Sebagai sekolah yang baru melaksanakan IKM atau implementasi kurikulum merdeka, guru kelas 1, guru kelas empat, guru pendidikan jasmani, dan guru pengampu mata pelajaran pendidikan agama mendapat pelatihan di kecamatan.
Yang menjadi narasumber adalah teman-teman, rekan sejawat dari sekolah pelaksana PSP atau program sekolah penggerak. Ya, mereka adalah pelaksana kurikulum merdeka yang mendapat bimbingan dari para fasilitator serta instruktur nasional.
Selain para guru dari pelaksana program sekolah penggerak, ada juga narasumber yang mengisi materi dari aktor pendidikan guru penggerak yang telah lulus. Guru Penggerak Angkatan 5 dan pengajar praktik yang ikut membidani lahirnya guru penggerak angkatan pertama di tempatku itu.
In house training (IHT) yang bertempat di sekolah tetangga diikuti oleh para guru secara bergantian.
Hari pertama, pada waktu pembukaan, semua guru hadir. Pada hari kedua guru kelas satu dan kelas empat mengikuti kegiatan. Sesudahnya, mereka diberi tugas untuk dikerjakan di sekolah. Hari ketiga, giliran guru agama dan guru agama mengikuti materi yang sama.
Panitia mengatur demikian agar sekolah yang gurunya sedikit atau pas-pasan, tidak kosong, sehingga anak murid dapat diawasi.
Pada hari keempat, semua guru datang kembali berkumpul mendiseminasikan hasil pekerjaannya.
Salah satu hal menarik aku dapatkan dari rekanku adalah asesmen formatif awal yang disebut asesmen diagnostik.
“Asesmen diagnostik awal ada dua jenis, Pak Eko,” cerita Bu Ika di sela-sela istirahat pertama di sekolah.
“O, iya? Apa saja itu, Bu Ika?” tanyaku penasaran.
“Asesmen diagnostik nonkognitif dan diagnostik diagnostik kognitif, Pak,” jawab Bu Ika.
“Beda, ya? Boleh dong Bu Ika jelaskan?” tanyaku tertarik mendengar penjelasannya lebih lanjut.
“Kata narasumber, asesmen diagnostik non-kognitif itu asesmen awal, Pak. Asesmen ini untuk mengetahui kondisi psikologi, emosi, dan sosial mereka. Selain itu juga bisa digunakan untuk mengetahui gaya belajar, atau bisa juga untuk mengetahui kemampuan anak-anak mengungkapkan pikirannya,” jelas Bu Ika.
“Wah, menarik sekali ya, Bu!” kataku.
“Iya, Pak. Bu Narsum juga bilang bahwa ada siswa yang mampu mengungkapkan perasaannya dalam satu dua kalimat. Namun, ada juga lo yang mampu bercerita panjang lebar.
Mendengar cerita Bu Ika, aku tertarik untuk menerapkan di kelasku. Ya, walaupun kelas enam masih mengggunakan kurikulum yang lama, namun penilaian diagnostik bukan milik pelaksana Kumer atau Kurikulum Merdeka saja.
“Anak-anak, Semangat … pagi!” pekikku di kelas pada keesokan hari.
“Pagi, pagi, pagi, yes!” jawab anak-anak kelas enam bersemangat ketika aku mengajaknya untuk bersemangat pagi, meskipun hari mulai tinggi.
“Hari ini, Pak Eko akan membagikan sticky note. Nih, lembaran kertas warna-warni yang ada lemnya. Pak Eko ingin kalian membuat kalimat.”
“Kalimat apa, Pak?” tanya Zahra.
“Iya, Pak, kalimat apa? Aku tidak bisa mengarang,” keluh Laura.
“Tenang … kalian tidak akan Pak Eko beri tugas berat-berat. Pak hanya ingin kalian membuat kalimat harapan. Nah, sekarang kan masih tahun ajaran baru. Boleh dong kalian membuat kalimat yang bernada harapan, seperti harapan orang tua kalian menyekolahkan dan memberimu pendidikan melalui sekolah kita,” jelasku.
“Bebas ya, Pak?” tanya Agil.
“Hmm … tentu harapan yang baik. Jika harapanmu bernada doa, semoga Tuhan akan mengabulkan. Ada lagi yang tanya? Jika tidak, segera kertas ini saya bagikan. Ingat, pada bagian bawah tuliskan nama kalian. Jika perlu bubuhkan tanda tangan,” kataku memberi penjelasan.
Anak-anak kelasku mulai asyik menuliskan harapannya pada kertas sticky note warna-warni.
Aku menunggu sambil berkeliling kelas. Aha, wajah mereka terlihat lucu. Terutama anak-anak lelaki. Ada yang mendongakkan kepala, memejamkan mata, menahan kening dengan bolpoin, dan banyak lagi aksi yang menunjukkan gestur seperti berpikir keras.
“Baik, jika sudah selesai, tempelkan di kertas plano yang sudah Pak Guru pasang pada dinding kelas. Mohon jangan berebut. Nomor absen 1 sampai 10 di dinding belakang, nomor 11 sampai 20 di dinding samping kananmu, nomor 21 sampai 30 di dinding sebelah kirimu. Silakan!” perintahku kepada anak-anak.
Setelah selesai mereka aku persilakan melihat harapan teman-temannya yang terpasang di kertas plano. Aku pun ikut berjalan melihat tulisan harapan mereka masing-masing.
Ada sebaris kalimat yang ditulis salah seorang anak perempuan. Shena menulis.
Aku berharap, semoga kelak jika aku sukses, orang tuaku masih ada dan melihatku
Shena, anak pendiam itu menulis harapannya. Pikiranku melayang pada wajah ibu bapaknya. Ketika itu, aku bersama perwakilan kelas menjenguk ibu Shena yang sakit sehingga Shena tidak masuk beberapa hari. Aku buru-buru melupakan dan berjalan melihat harapan teman-teman Shena pada kertas sticky note lainnya.
Setelah jam pelajaran berakhir, anak-anak pulang, kertas plano berisi harapan anak-anak kulipat dan kubawa ke ruang guru.
“Pak, ada kabar lelayu,” kata bu Ika mendekatiku.
Mendengar kabar itu, mendadak jantungku berdebar. Jangan-jangan ibu Shena …. Ah, semoga bukan.
“Lelayu dari mana, Bu?”
“Ibu Fariz meninggal. Anak murid Bapak,” jawab bu Ika.
“Fariz?” Aku mengernyitkan kening.
“Kabarnya, sekitar jam 11 tadi dibawa ke rumah sakit, tapi tidak tertolong.
Reflek aku buka dinding harapan kelasku.
Aku sayang ibuku, semoga ketika lulus ibuku hadir di acara perpisahan
Musi Rawas, 28 Juli 2023
PakDSus
Kisah yg mengharu biru Pkde, yg dituangkan dlm tulisan yg menarik
Saya jawab di sini ya, Pak.
https://blogsusanto.com/galau-hati-pak-ratri-sang-guru-penjas/
Bawangnya banyak
Mantap pak de..sangat menginfirasi, dari alur cerita ada 2 hal yang saya dapat, pertama guru sangat perduli pada peserta didiknya dan yang kedua saya memahami apa itu assesmen diagnostik nonkogniti….
Kalau guru PJOK gimana y pak cara untuk membuat dinding harapan?
Waaaah Pak D… Nangis aku baca ini :'( Terima kasih selalu menginspirasi.