Galau Hati Pak Ratri, Sang Guru Penjas

Cerita tentang asesmen diagnostik nonkognitif yang kuceritakan, ternyata direspon oleh seorang rekan.
Rekanku itu, seorang guru mapel PJOK, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Tentu saja, karena ia mengajar semua kelas, ia pun perlu menguasai pengetahuan yang berkaitan dengan kurikulum merdeka. Di antaranya tentang asesmen diagnostik.
Kalau guru PJOK gimana y pak cara untuk membuat dinding harapan?
Komentar temanku itu ditulisnya di kolom komentar beranda FB-ku.
Aku hanya tersenyum. Dinding harapan, lembar harapan, atau apa pun istilahnya untuk menggali mental sosial anak, adalah materi lintas mata pelajaran. Tidak ditujukan untuk mata pelajaran tertentu.
Dengan memberi emoji, aku jawab komentar kawanku itu.
“Sebenarnya, itu lintas mapel, Pak Ratri. Akan tetapi, jika ingin dikhususkan untuk olahraga, modifikasi saja pertanyaannya. O, ya, sebelum kita melakukan asesmen pastikan dong tujuan asesmen kita itu untuk apa,” tulisku di kolom balasan. Tidak lupa emoji senyum mengiring komentar balasan itu.
Oke, Pak. Trims.
Komentar balasan dari Pak Ratri kubaca tidak lama setelah aku menulis balasan komentarnya.
“Hmm, rupanya beliau sedang on,” gumamku.
Diakui atau tidak, masih banyak guru yang belum paham tentang asesmen diagnostik khususnya yang nonkognitif. Termasuk aku. Syukurlah, bu Ika siap membantu dengan jawaban-jawabannya yang ia peroleh di tempat pelatihan.
“Sebenarnya, Pak Eko tidak harus ikut pelatihan, deh,” cetus bu Ika.
“Kok begitu, Bu Ika?” tanyaku sambil mengernyitkan kening, “Aku kan juga ingin punya pengetahuan dan pengalaman seperti Bu Ika, lo?” protesku dengan nada bertanya.
Bu Ika pun tersenyum. Sederet gigi biji mentimunnya mempermanis senyum iklan pasta gigi yang pernah viral pada zamannya.
“Bukankah Pak Eko sudah menginstal PMM? Ternyata para narasumber mengambil materinya dari sana,” jawab bu Ika dengan senyum khasnya.
“Owalaah, oke, Bu. Segera saya buka dan pelajari. Tapi, janji ya, kalau ada yang kurang paham, nanti saya tanya Bu Ika?”
Aku mengiyakan dan berjanji memelajari materi pada PMM. Kadang dengan hape, kadang belajar di laptop. Jika dengan laptop, Merdeka Mengajar relatif lebih mudah dipelajari. Tampilan layarnya lebih besar sehingga tidak membuat mata cepat lelah. Setidaknya itu menurutku.
Aku pun menjadi rajin membaca dan menonton video yang disebutnya sebagai modul belajar. Selain itu, aku pun menjadi rajin berselancar dan berpindah dari satu kanal ke kanal lainnya.
Ternyata banyak orang-orang baik yang gemar berbagi pengetahuan melalui tulisan atau tontonan.
“Halo, Pak Ratri, sudah dicoba asesmen diagnostik nonkognitifnya?” tulisku pada aplikasi mengirim pesan dari Facebook.
“He he, belum, Pak! Bingung mau nanya apa?” tulis temanku. Emoji tertawa dipasang di akhir tulisan.
Tidak lama kemudian, pak Ratri menelepon. Kami pun terlibat obrolan santai yang akhirnya mengarah ke pertanyaannya.
“Oke, Pak Ratri bikin asesmen non-kognitif tujuannya apa?” tanyaku.
“Ya, aku ingin tahu minat anak terhadap cabang olahraga, apakah semua anak di kelas empat akan mampu melakukan gerakan olahraga, mengingat sekarang sudah tatap muka dengan protokol kesehatan tidak seketat tempo hari,” jawab si guru penjas itu.
“O, begitu. Kayaknya Pak Ratri bisa memulai dengan beberapa pertanyaan. Misalnya seperti ini.” Aku menghela napas untuk melanjutkan.
Ada olahraga lari, lompat jauh, badminton, voli, sepak bola, senam, dan bersepeda coba tuliskan 3 olahraga yang sangat kamu gemari.
Pernahkan kalian berolahraga di rumah?
Jika berolahraga di rumah, apakah kalian melakukan pemanasan terlebih dahulu?
Pak Guru menyiapkan gambar tanda panah (lihat di bawah), berilah tanda yang menunjukkan arah kanan!
Tersedia tiga gambar (gambar anak berjalan, gambar anak berlari, gambar anak melompat) berilah tanda pada gambar yang menunjukkan anak berlari.
“Nah, Pak, menurut saya asesmen diagnostik nonkognitif untuk PJOK sudah cukup. Jika Pak Ratri memiliki pertanyaan lain untuk anak disilakan saja. Yang penting, Bapak punya tujuan dan hasil asesmen berguna untuk Bapak untuk memetakan minat, kemampuan, atau emosi mereka.” Aku menambahkan.
“Wah, Pak Eko, terima kasih. Saya sudah memiliki gambaran. Kegalauan hatiku terobati, Pak. Selamat sore!” Temanku menutup telepon.
Musi Rawas, 28 Juli 2023
PakDSus
Terima kasih, sudah berkunjung, Ibu Sumarni.
Terima kasih.
Narasi dari sebuah komentar yang menambah pengetahuan baru tentunya…
Terimakasih pak De … Super
Menginspirasi pak..
Jadi terobati galau pak Ratri, hee
Luar biasa pak..