Ibu Temanku Keselong, Benarkah?

[Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh]
[Mohon doa dari teman2 semua semoga biyungku masih sehat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga.]
[Aamiin ya rabbal alamiin]
Itulah pesan Whatsapp di grup sekolah dari seorang teman yang saya terima malam tadi sekitar pukul 21.28. Kontan saja saya dan sebagian besar anggota grup bertanya, apakah sang ibunda dalam keadaan sehat.
“Sehat kang Santo. Doakan saja ya, Kang, mudah-mudahan bisa pulang dengan selamat,” tulis teman saya, sebut saja namanya Tri.
Tidak berapa lama, kolom chat pun ramai dengan doa dan harapan, juga pertanyaan.
Ada yang menanyakan, apakah sang bunda sedang umroh, lalu ia pun mendoakan bisa pulang dalam keadaan sehat wal afiat.
“Ora Kang Jhon, tindak ora pamit. Kayane keselong …,” imbuhnya dalam bahasa Jawa yang artinya: Tidak Kang Jhon, pergi tanpa pamit. Sepertinya ‘keselong’.
Hingga keesokan pagi, teman-teman masih menanyakan dan dijawab Tri bahwa ibunya belum pulang. Bahkan katanya, Tim SAR akan menyusuri sungai sebelah timur rumahnya.
Jantung saya pun berdegub lebih kencang, membayangkan betapa panik teman saya itu. Awalnya mengira keselong, namun upaya pencarian melalui Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Kabupaten pun dilakukan.
Kisah Bapak Nde
Keselong dalam istilah masyarakat Jawa artinya disesatkan makhluk halus. Ilustrasi cerita keselong misalnya seperti dituturkan Mand Nde yang diceritakan kembali oleh Kobayogas dalam kobayogas.com.
Dikisahkan, suatu ketika Nde mengatakan bahwa Nde habis naik sepeda ke desa Karangasem, lalu pulangnya melewati jalan puteran. Ibu yang saat itu mendengar cerita Nde sambil menonton TV langsung memandang Nde lalu berkata besok-besok jangan lewat jalan puteran itu lagi, lebih baik lewat jalan lain saja meskipun lebih jauh.
Karena penasaran Nde lalu bertanya alasannya mengapa Nde tidak boleh melewati jalan puteran tersebut. Ibu lalu bercerita bahwa ketika Nde masih kecil, almarhum bapak pernah keselong (disesatkan makhluk halus) di jalan tersebut.
Waktu itu masih sore sekitar jam 16.30-an, almarhum bapak sedang mengendarai sepeda dari rumah saudara di desa Karangasem. Untuk mempercepat perjalanan, bapak memutuskan untuk melewati jalan putaran yang panjangnya hanya sekitar 400 meter.
Saat itu kondisi jalan sebenarnya tidak terlalu sepi karena banyak rumah penduduk, sementara di kedua ujung jalan hanya ada sebuah tikungan di pinggir sawah dan kebun di seberangnya. Sawah dan kebun itu panjangnya hanya beberapa meter saja. Setelah melewati beberapa rumah penduduk bapak pun sampai di tikungan pinggir sawah tersebut.
Bapak Nde Keselong
Saat itu keanehan mulai terjadi, sawah yang panjangnya hanya beberapa meter itu seharusnya bisa dilewati dalam waktu yang singkat tetapi saat itu bapak merasa seperti tidak sampai-sampai. Padahal bapak merasa sudah mengayuh lama tetapi tetap saja berada di sawah tersebut dan seolah-olah seperti berputar-putar di tempat itu.
Karena merasa waktu sudah sore bapak memutuskan untuk terus mengayuh sepeda meskipun mulai merasa agak aneh. Tetapi sekali lagi, meskipun bapak sudah mengayuh sepeda dengan cepat dan lama, tetap saja bapak tidak juga keluar dari tempat itu dan seperti berputar-putar kembali lagi ke sawah itu.
Hingga akhirnya bapak pun istighfar sambil melihat jam tangan. Seketika bapak seperti disadarkan dan betapa kagetnya karena waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Sudah masuk waktu Maghrib! Itu artinya, bapak sudah berada di sana selama satu setengah jam. Bapak ingat pulang dari rumah saudara itu pukul 15.00 lebih dan ketika akan memasuki jalan putaran itu sekitar jam 16.30-an. Sementara dari rumah Nde ke rumah saudara di Karangasem hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer kalau ditempuh dengan naik sepeda hanya butuh waktu sekitar 20 menit.
Memikirkan keanehan tersebut bapak memutuskan untuk berhenti sejenak dan tidak lupa membaca doa lalu melanjutkan perjalanan dan alhamdulillah jalanan lancar tanpa ada halangan apa pun, tidak seperti tadi.
Sampai di rumah bapak lalu menceritakan kejadian tersebut kepada ibu. Sejak itulah bapak & ibu mengingatkan kakak-kakak dan anggota keluarga lain agar jangan melewati jalan putaran tersebut.
Itulah cerita pengalaman almarhum bapak Nde yang diselong atau disesatkan di jalan putaran. Saat ini mungkin sudah tidak ada lagi cerita orang diselong di jalan putaran tersebut karena sudah padat dengan rumah penduduk. Hal sangat berbeda dengan kondisi puluhan tahun yang lalu.
Kisah Nenek Tetangga Sebelah
Cerita senada dengan cerita Nde sering dituturkan masyarakat. Saya pun teringat kejadian sebelum pandemi tahun 2020 lalu. Kami dihebohkan oleh kabar bahwa nenek-nenek tetangga saya hilang. Ia biasanya pergi ke sawah untuk mencari remis atau mencari daun kelapa kering. Menjelang maghrib biasanya sudah sampai di rumah. Hari itu, hingga waktu maghrib terlewati, ia belum juga pulang. malam itu juga kami mencari. Kami pun menyebar dan mencari ke petak sawah dan daerah yang biasa ia lalui. Selain itu, kami pun menyusuri sungai, pematang sawah, serta persawahan yang disulap menjadi kolam ikan. Lampu senter dengan nyala yang terang kami bawa. Hingga pukul 21.00 usaha kami belum membuahkan hasil.
Di tengah keputusasaan, tiba-tiba ada kabar dari orang yang melintas bahwa di sebuah gubug dekat kolam ada seseorang tergeletak. Kontan kerabatnya segera menyusul dan akhirnya menemukan si nenek dalam keadaan lemas. Akhirnya, dengan digendong dan diboncengkan sepeda motor, si nenek pun dibawa pulang.
Setelah sampai, si nenek saya minta untuk diberi minum. Mata nenek yang tadinya terpejam, setelah diberi minum, tiba-tiba terbelalak. Dengan napas terengah-engah, ia membentak orang-orang di sekitarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak jelas. Setelah itu, tiba-tiba ia pun menangis. Namun badannya sangat lemah. Sambil duduk kepala si nenek terkulai.
Orang yang dianggap pintar pun diminta untuk menolong. Si nenek pun dibaringkan. Setelah dibacakan doa-doa, lalu dibisiki sesuatu, si nenek pun siuman. Setelah sadar, ia meminta makan. Beberapa suap makanan berhasil ia telan, air teh manis setengah gelas pun ia habiskan.
Sebagian besar masyarakat pun lega, lalu membubarkan diri. Saya tidak segera pulang, namun menunggui dan ingin mengetahui hal yang sebenanrnya terjadi. Rupanya si nenek menjelang maghrib kelaparan, hingga akhirnya terduduk di pondok tidak sadarkan diri, ketika gelap malam tiba ia tidak tahu jalan pulang, sementara kondisinya makin melemah. Beruntung segera ditemukan.
Kisah Kakek Tetangga Sebelah
Jauh sebelum kejadian nenek di atas, seorang kakek sebut saja Kakek Suhat memiliki gangguan jiwa pada usia rentanya. Namun, ia selalu pergi keluar rumah sambil berjalan. Ia berjalan tidak tentu arah, namun pada sore hari selalu kembali. Pada suatu hari ia pergi dan tidak kembali seperti biasanya. Anggota keluarganya pun segera mencari. Tidak berapa lama, terdengar kabar bahwa kakek tersebut ditemukan di tepi siring (sungai irigasi). Ia tersungkur akibat jatuh. Inna lillaahi wa inna ilaihi raa ji’un, si kakek ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.
Keselong, Benarkah?
Kepergian seseorang yang tidak diketahui dan pulang pada waktu yang tidak biasa kerap dianggap keselong, disesatkan makhluk halus. Apalagi ketika orang tersebut ditemukan biasanya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hal ini menambah keyakinan bahwa orang tersebut diganggu makhluk halus. Belum lagi bumbu cerita dari orang-orang, menambah yakin bahwa orang tersebut disesatkan makhluk halus. Benarkah demikian?
Boleh jadi, bagi sebagian orang keselong itu benar adanya, meskipun secara nalar tidak bisa dijelaskan dan diterima. Namun bagi sebagian lagi yang meyakini tentang adanya gangguan kejiwaan akan berpikir lain.
Sebagaimana dilansir oleh sehatq.com, ada orang yang memiliki gangguan amnesia disosiatif. Amnesia disosiatif merupakan jenis gangguan disosiatif yang melibatkan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi penting. Gangguan disosiatif dikatakan sebagai penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas, dan/atau persepsi. Biasanya berhubungan dengan trauma atau stres, dua hal yang membuat dirinya tidak mampu mengingat informasi-informasi pribadi yang penting.
Amnesia disosiatif, tulis sehatq.com, tidak sama dengan bentuk amnesia biasa. Pada amnesia biasa, hilangnya informasi dari ingatan akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Sedangkan pada amnesia disosiatif, ingatan masih ada, tetapi tersimpan sangat dalam di pikiran seseorang dan tidak dapat diingat. Namun, memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar orang tersebut.
Amnesia disosiatif berkaitan dengan stres yang luar biasa. Mungkin akibat dari sebuah peristiwa traumatis. Contohnya, perang, pelecehan seksual, kecelakaan, atau bencana alam yang dilihat sendiri atau dirasakan secara langsung. Terdapat pula kemungkinan adanya faktor genetik.
Gejala Amnesia Disosiatif
Gejala utama penyakit ini adalah ketidakmampuan secara tiba-tiba untuk mengingat kejadian masa lalu atau informasi personal. Penderita biasanya akan terlihat kebingungan dan mengalami depresi atau rasa cemas. hal ini terjadi karena informasi tertentu terblokir. Akibatnya, orang yang mengalaminya akan merasa “blank” dan sulit menemukan apa yang ingin ia ingat.
Mengutip klikdokter.com, gejala amnesia disosiatif yang cukup umum terjadi, di antaranya:
- Kehilangan memori tentang periode waktu tertentu, kejadian, seseorang, dan informasi pribadi.
- Perasaan seperti terpisah dari diri sendiri dan emosi.
- Tidak yakin dengan identitas diri.
- Ketidakmampuan untuk mengatasi stres emosional dengan baik.
- Masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan kecenderungan bunuh diri.
Apakah ibu teman saya keselong? Atau beliau mengidap amnesia disosiatif sehingga menurut teman saya orangnya sehat walafiat tetapi pergi dari rumah hingga tengah malam bahkan keesokan hari belum kembali? Tidak ada yang tahu karena pada Senin sore, pada saat saya menyelesaikan tulisan ini, saya mendapat kabar dari anggota grup lainnya.
[Assalamualaikum wr wb.]
[Innalillahi wainnaillaihi roji’un, Ibunda mba Tri Harjati telah diketemukan oleh tim SAR tetapi dalam keadaan sudah meninggal dunia. Rencana akan dimakamkan nanti malam. Mudah mudahan diterima segala amal ibadahnya oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkannya juga selalu diberikan ketabahan dan keihklasan. Aamiin ya rabbal alamin.]
Musi Rawas, 8 November 2021
remis = kerang sawah
Awesome site you have here but I was curious about if yyou knew of any message boards that cover
the same topics discussed in this article? I’d really like to be
a part of online community where I can get suggestions from
other knowledgeable people that share the same interest. If you have any suggestions, please let me
know. Kudos!
web page
Serem Pak D. Kadang di luar nalar sih. Tapi begitu adanya.
Innalilahi Wa Innailahi ROjiun
Saya belajar banyak tentang kepercayaan atau apa yaa namanya? Istilah keselong merupakan kata baru yang saya dengar…
Innalilahi wa innailaihi rojiun … Semoga almarhumah di ampuni dosanya di terima amal 8badahnya, Pak Tri dan kel dibrikn ksabaran dan ktabahan. Aamiin
Komentar dari Ibu Daswatia di sebuah grup menulis.
Saya kutip di sini agar tulisan tersebut tidak hilang.
Membaca cerita bapak sy jd ingat kembali kenangan sy ktk memimpin di LPMP Sulbar ( Majene).
Sy org yg tdk percaya “ keselong” tp kejadian didepan mata sy memaksa sy percaya ada keselong. Itu bukan sekedar hilang ingatan tp benar hilang dg fisiknya dibawa berjln ke dunia lain. Dlm lingkungan kantor kami yg ktk itu masih hutan belantara. Hilangnya juga antara waktu asar magrib. Ditemukan malam sekitar pkl 24.00 . Menggunakan jasa org pintar sebab mnrt info ditempat kami itu itu sering terjd hal yg sama org hilang berhari2 ditemukan diatas pohon atau ditengah hutan dlm kondisi kelaparan dan linglung. Ktk berhasil ditemukan ditempat yg tdk masuk akal dibawa belantara alang2 putri malu yg susah untuk mengambilnya sebelum di tebas alang2 nya, dlm kondisi kesurupan dan badan yg penuh luka2, baret seperti selesai diseret.
Juga memanggil org pintar utk selesaikan.
Teman yg keselong itu pandai bercerita dibawa kemana dan apa yg dilakukan. Cerita akhirnya bbrp bulan setelah kejadian itu teman meminta pindah ke Makassar tdk mampu bertahan karena yg membawa dia ke alam lain suka mengunjunginya dlm wujud jin wanita dg 1 anak. kami dan beliau bertetangga dirumah dinas, sy mengikuti ceritanya jika jin itu datang untuk meminta makan bahkan meminta utk tidur bersama.
Kondisi kantor kami yg baru dan terletak diatas gunung membuat sy diberi oengalaman banyak ttg hal yg begini.
Bisa satu buku jika ditulis.
Sy sendiri pernah mengalami berkendaraan mobil seperti melewati lorong waktu tdk bisa sampai tujuan. Baru sadar setelah seorg teman berteriak mengatakan masjid ini sdh tiga kali kita lewati. Jarak tempuh yg seharusnya hanya 2 jam sdh 6 jam tdk bisa tiba. Kami harus menyetop mobil dan berzikir bersama baru dpt berjln dg benar. Dan pengalaman ini tdk hanya sekali.
Tim kami yg pertama merintis lembaga itu tim yg sangat tangguh mereka jd saksi hidup betapa banyak hal yg mesti kami hadapi.
Saya baru sadar betapa dikeranatkannya lokasi kantor sy ketika suatu malam saya melihat ada cahaya berkedip2 dibelakang salah satu gedung. Waktu itu listrik blm masuk shg jika malam dikantir kami gelap gulita . Sy minta satpam lihat. Plg laporannya ada org bersemedi minta no togel sy ktk kenapa tdk diminta keluar satpam sy tdk mau karena org itu ternyata tetangganya. Hehehe ….
Terima kasih kepada para pengunjung dan komentar-komentarnya.
Innalilahi wainnailaihi ilahi rojiun. Kosa kata baru buat sy dan keren tukusan Pak D Lanjut
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
Kalau di tempat saya peristiwa macam ini disebut “kabeulit areuy” (terlilit tumbuhan yang merambat).
Setiap daerah sepertinya punya sebutannya sendiri ya. Kejadian yang menarik untuk diceritakan, tapi tidak menyenangkan untuk dialami.
Innalilahi wa innailaihi roojiuun. Ikut berduka Pak D. Di tempat saya juga masih ada hal seperti itu. Di bawa kalong, istilahnya. Tapi semakin ke sini, semakin berkurang orang yang mengalaminya.
Wah….menarik pak D….cerita fiksi yang di dampingi non fiksi…namanya faksi bukan ya pak?