artikel

Icha, si Polisi Bahasa

Pantun Bale (Pantau Tulisan Sobat Lage) “Kisah Manis di Kampus Marun” karya Ovi Blogger Ciomas

Design by Canva

Selesai juga cerita pendek tentang kisah manis di Kampus Marun. Aku tidak ingin tulisan ini terhenti di tengah jalan. Wow, meskipun cerita pendek lumayan tebal juga. Lebih dari enam ribu kata sudah berhasil aku goreskan.

“Uff … selesai juga kau, ya!” gumamku sambil ku-scroll lembar kerja Microsoft Word ke atas ke bawah.

“Untung aku tidak mengedit sambil menulis. Jika itu aku lakukan, alamat cerpen komedi ini bakal nggak rampung,” ucapku dalam hati. Begitulah nasihat para guru menulisku. Selesaikan tulisan, jangan edit di tengah jalan!

Agar aku mudah mengedit, draf novel ini akan kucetak. Draf ini akan kucetak di printer hadiah lomba menulis di blog. Ternyata, menulis yang sekedar curhatan bisa menjadi cuan. Aku pun tersenyum mengenang peristiwa itu. Tulisanku tidak banyak, hanya sekitar 25 halaman ukuran A4.

“Mencetak apa, Vi?” tanya mama.

“Biasa, Ma. Cerpen,” jawabku.

“Sesudah mencetak, boleh bantu Mama? Rasanya Mama nggak sanggup ngerjain sendiri,” kata mamaku.

Nah, alamat tidak bisa mengedit sendiri nih. Sebab, jika mama sudah meminta, maka aku tidak bisa menolak.

“Beres, Ma. Tunggu sebentar, yah! Masih beberapa halaman lagi, kok,” jawabku.

“Anak Mama ‘pancen oye’!” jawab mamaku.

Proofreading Episode Pertama

Karena aku harus membantu mama, untuk mengedit episode pertama aku meminta tolong Raisha. Ia jago jadi proofreader. Mata minusnya pun jeli. Lagi pula, gajah di pelupuk mata tak tampak sedangkan kuman di seberang lautan tampak besar. Menurutku, tulisanku sudah benar. Namun, jika dibaca oleh orang lain, biasanya kesalahan yang tidak tampak akan kelihatan. Baik, segera kuhubungi Raisha.

“Halo, Cha! Lagi off nggak nih. Aku mau minta tolong!” kataku setelah telepon tersambung.

“Hmm … kapan sih kamu nelpon aku nggak minta tolong?” jawab suara di seberang sana penuh keakraban.

“Nggaklah, Say. Ini kan berkaitan dengan keahlian kamu. Minta tolong proofreading cerpenku bagian kesatu, yah! Seterusnya aku edit sendiri, deh. Ini nyokap ada kerjaan minta bantu aku. Aku kirim, ya?”

Icha atau Raisha tidak bisa menolak. Sama seperti aku ke mamaku. Kami berdua sudah bersahabat cukup lama dan aku tidak hanya meminta tolong. Kami saling memberi. Begitu ‘kan akhlak bersahabat?

Setelah tiga hari menunggu, ada pesan WA Raisha.

“Say, aku kirim naskah perbaikannya, ya! Jangan tersinggung. Tampaknya kamu agak buru-buru nulisnya?”

Aku mengakui, kadang aku menulis di hape. Grup WA Cerpen yang anggotanya cuman aku menjadi tempat aku menulis draf cerita.

“Oke, Cha. Kirim aja. Jujur, aku nulisnya di WA. Tanpa banyak mengedit aku pindahin ke Word.”

Raisha si Polisi Bahasa

Icha pun mengirimkan naskah asli, komentar dan perbaikan. Pendeknya, kalau minta tolong dia, bukan Cuma barang jadi yang dikasih. Hmm, sekalian belajar ‘kan?

Seperti biasa, saya selalu duduk di barisan depan saat Mata kuliah berlangsung, tak terkecuali untuk mata kuliah terakhir hari Ini, dengan berbekal sisa-sisa semangat dan rasa lelah karna aktivitas organisasi yg begitu padat.

“Vi, kayaknya ada huruf kapital yang perlu dicermati. Selain itu, jangan disingkat dong. Kamu nulis cerpen bukan nulis SMS. He he he. Nih, aku perbaiki.”

Seperti biasa, saya selalu duduk di barisan depan saat mata kuliah berlangsung. Tidak terkecuali untuk mata kuliah terakhir hari ini. Berbekal sisa-sisa semangat dan rasa lelah karena aktivitas organisasi yang begitu padat, kuikuti mata kuliah terakhir semampuku.

Membaca WA Icha aku jadi geli sendiri. Lanjut.

Saya duduk seperti biasa di kursi terdepan tepat di samping tembok sehingga selain bersandar ke kursi saya juga bisa merubah posisi bersandar ke samping dengan sandaran dinding. Disebabkan rasa lelah itulah perlahan namun pasti mata saya terkantuk yang rupanya cukup lama.

“Kalimatmu panjang, Vi. Aku pangkas, ya!”

Saya duduk seperti biasa di kursi terdepan tepat di samping tembok. Sehingga, selain bersandar ke kursi saya juga bisa mengubah posisi bersandar ke samping dengan sandaran dinding. Disebabkan rasa lelah itulah perlahan namun pasti mata saya terkantuk. Tanpa saya sadari, saya terkantuk cukup lama.

“Kalimat yang terakhir membingungkan. Makanya aku ubah menjadi dua kalimat,” tulis Icha.

Aku pun mulai menyadari kesalahanku. Aku lanjutkan membaca tulisan Icha.

“Berikutnya ya, Vi!”

Lamat-lamat terdengar suara ibu Sri teman sesama mahasiswa yang duduk dibelkang saya berujar dengan keras,

 ” biarin kita tinggalin aja  si Vio, pas bangun ga ada orang” , setengah sadar namun tak saya gubris karna nyawa saya masih melayang diperaduan mimpi haha..

Aku baca penjelasan Icha.

“Bukankah lamat-lamat itu artinya sayup-sayup? Mana mungkin kamu bisa menyatakan ibu Sri berujar dengan keras?” tulis Icha.

Ha? Segitunya, Cha? Aku bicara sendiri.

“Lalu, karena kamu nulis cerpen, perhatiin dong kutipan dialognya!” tulis Icha selanjutnya.

“Nih, aku perbaiki!” tulis Icha lagi.

Aku pun membaca dan memperhatikan kembali tulisanku yang sudah dibetulkan editor berkaca mata minus itu. Cha, Cha, teliti banget sih, kamu?

Lamat-lamat terdengar suara ibu Sri, teman sesama mahasiswa yang duduk dibelakang saya. Kudengar ia berujar.

 “Biarin kita tinggalin aja si Vio. Pas bangun ga ada orang.” Setengah sadar, namun tak saya gubris. Nyawa saya masih melayang di peraduan mimpi, ha … ha ….

“Kutipan dialog diawali huruf kapital, Vi! Tanda koma sesudah kata “orang” mestinya tanda titik. Kok gitu? Karena tidak diikuti dialog tag. Kamu bikin kalimat baru sesudahnya.”

Aku terbelalak membaca penjelasan Icha. Aku tidak salah nih meminta Icha melakukan proofreading tulisanku sebelum aku kirim ke media.

Ingin rasanya menghabiskan pelajaran dari Icha, si Polisi Bahasa, andai mama tidak memanggilku.

Musi rawas, 14 Mei 2022

PakDsus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Icha, si Polisi Bahasa

  • Saran dalam bentuk cerita di kemas dalam cerita. Menjadi ciri khas dari Pak D

    Sehat terus Pak D

  • Wah, enak dong temenan sama polisi bahasa. Ia biasa membantu karya kita jadi lebih sempurna. Ya kan, Pak D?

  • mantap Pak De Sus… kapan kapan kisah Damar boleh dong dijadikan tokoh di cerpennya
    Luar biasa deh. Barokallah

  • Seru y punya sahabat polisi bahasa, bisa jadi detektif bahasa yg kita tulis.mantap

  • Halo Icha salam kenal . Kau pinter deh,aku suka

  • Terima kasih Icha, lanjut yaaaa….
    Masih menunggu ini, episode ke 2 sampai episode 7 minta diproofreading sama Icha sang polisi bahasa .

    Keren pak D. Saya ketawa-ketwa jadinya hehe menyadari banyak yang harus diperbaiki

    Jadi gimana ? Icha masih bersedia Proofreding kan ? Hehe

  • Yandri suka dengan cara penyampaian nya pak. Bhsa nya ringan dan mudah di pahami. Dan pas baca langsung nyambung. Suka sangt pokok nya pak D

Comments are closed.