Mba Icha yang Menginspirasi

Sudah sepuluh menit aku menunggu taksi. Taksi itu mobil minibus bercat kuning bertuliskan “TAXI” di atas kepalanya. Pada lambung kiri dan kanan diberi tulisan “Angkutan Kota”. Sebenarnya bukan angkot juga, sih. Lebih tepatnya angkutan perdesaan yang melintasi jalan raya menuju kota kecil namun memiliki DPRD dan Walikota sebagai kepala daerahnya.
Sesekali kulihat jam tangan. Sudah pukul 13.15. Ujian akhir semester (UAS) sudah menunggu. Pukul 14.00 tet … ujian sudah mulai. Jam segini malah aku masih di jalan.
Sedang gelisah dan pandangan mataku tertuju pada jam tangan hadiah ultah dari calon imamku, tiba-tiba terdengar klakson mobil.
“Tin … tin …!”
Ini dia taksi yang kutunggu-tunggu. Segera aku melompat masuk di bagian belakang mobil. Hanya ada satu orang penumpang. Nenek-nenek dengan bawaan sekarung kecil. Mungkin ia mau jualan ke kota. Kursi penumpang sebelah sopir sebenarnya kosong. Dibandingkan duduk di kabin penumpang, lebih nyaman duduk di sana. Tapi …, biarlah aku duduk di sini. Lebih mudah naik dan turun. Tuh, benar saja. Seorang bapak-bapak menyetop dan menginginkan duduk di depan, sang sopir membantu membukakan pintu dengan beringgut sedikit dari tempat duduknya. Uh, dasar mobil tua. Bahkan penumpang pun tidak bisa membuka sendiri pintu mobil bagian kiri.
Taksi kota atau tepatnya angkutan kota yang mulai renta ini terasa sangat lamban berjalan. Beberapa kali kulihat jam tangan. Putaran jarum pada jam bahkan terasa lebih cepat ketimbang laju kendaraan.
“Dua puluh menit lagi. Belum lagi waktu berjalan dari pintu gerbang ke ruang kelas ujian. Sabar,” gumamku dalam hati.
“Stop, Pir!” ucapku kepada sopir. Pintu gerbang SMA Negeri tempat aku akan ujian sudah terlihat di depan. Setelah memberi lembaran uang lima ribuan, aku pun bergegas berjalan. Getaran hape berkali-kali terdengar. Tidak aku hiraukan. Yang ada dalam benakku hanya satu, ruang ujian.
Terlambat Masuk Ruang Ujian
Langkah kaki kupercepat. Dari kejauhan terlihat sepeda motor berjajar rapi, namun lalu-lalang orang sudah tidak ada lagi. Pun orang di jalan ini lengang.
“Waduh, terlambat aku,” kataku dalam hati diiringi degub jantung yang memburu.
“Maaf, Pak, terlambat. Boleh masuk?” tanyaku kepada pengawas ujian yang berdiri di pintu kelas.
Pengawas yang juga guru SMA tempatku ujian hanya menganggukkan kepala tanda mempersilakanku masuk.
Kursi di dalam ruang ujian penuh. Hanya satu yang masih kosong. Kursiku! Baris keempat, paling kanan menghadap papan tulis, tempat duduk nomor dua dari belakang.
“Tolong, Mbak. Tas dan hapenya letakkan di depan!” perintah pengawas ujian.
Aku juga sih, tahu sedang ujian, hape aku tenteng dan meletakkannya di atas meja.
“Iya, Pak. Maaf,” jawabku.
“Ayank, tenang. Kamu adalah sarjana dewasa. Hanya karena ingin penyetaraan ijazah dan ingin menjadi guru SD profesional kamu kuliah lagi di UT ini.” Ada suara tanpa rupa yang menenangkan. Suara hatiku. Aku sendiri yang menenangkan diri. Cemas dan panik itu wajar, tetapi kan tidak menyelesaikan masalah juga?
Satu demi satu soal pada lembaran ujian aku kerjakan. Soal pilihan ganda sudah aku kerjakan semua. Yang bikin soal pintar betul. Pilihan jawaban hampir sama semua. Paling hanya satu yang aku yakin bukan itu jawabannya. Namun keempat opsi lainnya, cukup membuat kepalaku menghangat. Tibalah saat mengerjakan soal uraian.
“Hmm … mengarang bebas nih. Untungnya aku sudah ikut kelas Belajar Menulis. Juga ikut grup Lagerunal.” Aku bergumam dalam hati.
Kedua grup menulis yang aku ikuti, cukup membantuku menulis jawaban soal uraian. Tulisan tanganku yang tidak terlalu bagus, tentu tidak akan dilirik pengoreksi jika kalimatku juga kacau. Tambah lagi ejaan yang aku pakai tidak sesuai PUEBI. Tong sampah membayang di pikiran. Lembar folio bergaris ini bakal masuk ke sana sebelum dibaca. Ha ha ha ….
Mba Icha yang Menginspirasi
Lima belas menit menjelang jam selesai, hasil pekerjaan kukumpulkan. Lembar jawaban ujian sudah aku periksa dua kali. Setelah yakin, aku berdiri dan berjalan ke meja pengawas. Teman-teman kelihatan masih sibuk.
Segera aku keluar. Tidak lupa tas dan hape aku ambil kembali. Uff … lega rasanya. UAS sudah selesai. Tinggal ujian Tugas Akhir Program. Ujian TAP tidak lagi dipusingkan dengan pilihan jawaban. Yang ada menyusun huruf dan merangkai kata agar kalimat yang dihasilkan logis. agar paragraf yang kurangkai mampu menjawab permasalahan yang aku ajukan sendiri. Sambil mengerjakan tugas, sebagai selingan, aku menulis di blog. Teman-teman boleh berkunjung. Blog Yandri Novita Sari adalah blog tempat aku menuliskan resume dan juga celotehan sambil belajar memoles tulisan.
Sebelum pulang, aku berjalan menuju kantin. Kantin sekolah ini buka hingga sore jika ada kegiatan UT. Unit Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka mengambil lokasi di SMA Negeri ini. Lokasinya yang jauh dari keramaian namun di tepi jalan lintas membuat kami, mahasiswa UT nyaman belajar. Di kantin aku memesan segelas es moccacino barangkali bisa mendinginkan kepalaku yang hangat akibat ujian yang hampir saja aku terlambat banyak.
“Hai, Ayank. Lagi ujian, nih?”
Uni Ussi, sahabat Kak Ovi mengirim broadcast di WA.
“Udah kelar, Uni. Apa kabar?
“Baik. O, ya. Tulisan keenam kamu berjudul UJIAN TERAKHIR oke loh.”
“Makasih,” balasku pendek.
“Emang udah diedit? Tadinya aku lihat nulis dialognya masih sedikit kacau.” Uni Ussi, si Peri Diksi, kembali berkomentar.
“Iya, tulisanku dibaca Mbak Icha. Itu, lo, yang ngoreksi cerpen Kak Ovi bagian kesatu. Nah, terus ia panjang lebar menjelaskan penulisan kutipan dialog yang pakai dialog tag dan tidak. Seru deh, Uni. Mbak Icha sungguh menginspirasi. Memang sih, tadinya takut nulis, jangan-jangan salah lagi. Tapi Mba Icha selalu mendorongku. Jangan takut. Adik balita pintar berjalan karena ia tidak takut jatuh. Sebab, ia yakin ada emaknya yang bakal nolongin.”
Es moccachino makin meleleh. Bulir-bulir embun di tepian gelas menjadi saksi kegembiraanku petang ini.
Musi Rawas, 16 Juni 2022
PakDSus
Belajar banyak tentang penulisan di cerita ini. Ingin bisa buat cerita dengan mengalir dan ok. Pak D mantap.
Enak bacanya… nyam..nyam..nyam
SEhat selalu Pak D
Orang mana tuh mbak Ichanya,??? Hehe cantik gk???
Wah, memang Pak D piawai nulis cerita… ringan dibaca, menghibur sekali..
Wow…kita seperti berada di kantin, lengkap dengan atribut lelehan embun es teh di gelasnya…salut dan benar benar bebas polusi, typo dan teman-temannya…Kisah Pak D, memang oke bet.
Tulisan keren dengan diksi yang bagus.
Kalo pak D yang tulis, tetap selalu keren
Ini super duper asli kereen banget pak D. Tidak bisa berkata2 selain takjub.. Smoga yandri bisa menulis seperti ini juga pak D. Duhh bagus banget pak D.. Sampai berkali2 bacaa…
Ciee ciee…kali ini ayang yandri Novita Sari jadi tokoh tulisan pak D. Seru seruuuu…. Top banget