artikel

Inspirasi Mengajar: Diferensiasi Itu Mengelompokkan Murid Berdasarkan Gaya Belajar?

Image by jcomp on Freepik

Marsaria Primadona, biasa dipanggil Pima, dalam akun IG-nya @missmetalguru, pada salah satu unggahannya bertanya, “Diferensiasi itu mengelompokkan murid berdasarkan gaya belajar?

Ia pun menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengatakan bahwa gaya belajar yang sebenanarnya adalah hipotesis yang tidak terbukti validitasnya dan sudah banyak dipatahkan oleh banyak ahli pendidikan dunia.

Selama ini kita tahu, dalam berbagai pelatihan implementasi kurikulum (termasuk pemahaman penulis pada saat itu), pembelajaran diferensiasi itu pembelajaran dengan mengelompokkan murid berdasarkan gaya belajarnya (auditif, visual, atau kinestetik).

Berdasarkan pemahaman lebih lanjut atas miskonsepsi tentang pembelajaran berdiferensiasi tersebut, seharusnya pendidik lebih menekankan pada kebutuhan belajar murid dengan memberikan beragam aktivitas belajar.

Meskipun demikian, seorang guru di kelas perlu mengetahui gaya belajar muridnya. Bukan untuk mengelompokkan mereka berdasarkan gaya belajarnya, melainkan agar guru di kelas dapat memberikan pelayanan pembelajaran sesuai gaya belajar yang dimiliki murid.

Hal menarik lainnya adalah pertanyaan tentang: “Apakah pengelompokan belajar murid dalam pembelajaran berdiferensiasi dilakukan berdasarkan gaya belajar murid, kontennya juga berbeda-beda?”

Kebanyakan guru melakukan pembelajaran dengan mengelompokkan murid berdasarkan visual, auditori dan kinestetik.

Sebelum pembelajaran, guru memetakan murid melalui asesmen diagnostik gaya belajar. Guru pun memperoleh informasi tentang gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

Murid dibentuk dalam kelompok masing-masing sesuai gaya belajarnya. Lalu, guru memberi konten dan intruksi yang berbeda-beda. Pun tagihan pembelajaran berbeda sesuai dengan gaya belajar.

Ketika ditanya dasar teorinya apa, para guru tentu menjawab berdasarkan pelatihan IHT tentang IKM dari narasumber. Misalnya si narasumber adalah Pengawas, Guru Penggerak, atau Pengajar Praktik.

Apabila hal tersebut dilakukan, misalnya seorang guru mata pelajaran Kimia yang menerapkan pembelajaran diferensiasi.

Dia membentuk tiga kelompok belajar dari hasil asesmen gaya belajar yaitu visual, auditori dan kinestetik. Lalu, anak visual diberi konten materi melalui video pembelajaran, belajar melalui kelompok, proses diskusi kelompok.

Murid golongan auditori diberi bahan bacaan berbentuk dokumen (konten), salah satu dari murid membaca hingga teman-teman kelompoknya paham (proses).

Sementara anak-anak kinestetik diberi mikroskop, mengamati pergerakan melalui mikroskop, melakukan diskusi kelompok dan mengambil kesimpulan. Setiap kelompok murid presentasi dan mengumpulkan tugas sesuai gaya belajar mereka (diferensiasi produk).

Seperti itukan sang guru Kimia melakukan pembelajaran yang benar?

Dikutip dari buku Quantum Learning dan beberapa referensi di Elsevier sebagaimana dilansir sman15tanjabbarat.sch.id, disebutkan bahwa gaya belajar diperuntukkan bagi penanganan murid secara individual/pribadi, bukan dijadikan dasar pengelompokan.

Gaya belajar hanyalah suatu kecenderungan, bukan sesuatu yang mutlak. Cenderung, tentu saja seorang anak dengan gaya belajar visual, dia juga dapat auditori bersamaan, atau kinestetik. Artinya gaya belajar lainnya masih bisa muncul.

Jelas, ya! Pembentukan kelompok belajar, gaya belajar tidak dapat dijadikan rujukan, apalagi jika kecenderungan itu tidak relatif berimbang pada jumlah murid.

Misalnya, jika hanya dua anak yang kinestetik, lalu hanya dua orang saja yang memegang mikroskop? Oleh karena itu, mari membentuk dengan anak yang beragam kemampuan kognitifnya. Misalnya, dalam satu kelompok ada yang kemampuan tinggi, sedang dan rendah, lalu guru memberi penanganan secara individu berdasarkan gaya belajar mereka.

Pada langkah selanjutnya, guru dapat mengelompokkan berdasarkan kemampuan belajar yang tinggi, sedang, dan rendah. Kelompok anak pintar dalam kelompok pintar, anak sedang sesama anak sedang, anak berkemampuan lemah memiliki kelompok sendiri. Guru lalu mendiferensiasikan proses untuk memberikan intensitas pembelajaran yang berbeda-beda.

Bagaimana dengan tagihan tugas? Tagihan tugas biarkan secara merdeka dilakukan oleh murid tanpa perlu memandang gaya belajar mereka apa. Semoga bermanfaat.

Musi Rawas, 25 Agustus 2024
Salam dan Bahagia,

PakDSus

Sumber 1
Sumber 2

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Inspirasi Mengajar: Diferensiasi Itu Mengelompokkan Murid Berdasarkan Gaya Belajar?

  • I was recommended this website by my cousin I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my difficulty You are wonderful Thanks

  • Semakin terang benderang. Ini salah satu keresahan saya dalam mempraktekkan pembelajaran differensiasi.

Comments are closed.