Merdeka: Merayakan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Kelas melalui Kokurikuler

Penulis: PakDSus
Ada suasana yang selalu saya nantikan setiap bulan Agustus. Agustus selalu menghadirkan kesempatan bagi sekolah untuk menanamkan rasa cinta tanah air dengan cara yang menyenangkan.
Biasanya kegiatan di sekolah terfokus pada lomba-lomba. Tidak salah. Lomba tetap penting sebagai bagian dari perayaan.
Namun, saya percaya, ada cara lain yang lebih bermakna, yaitu menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai bagian dari proses belajar.
Karena itulah, menjelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini, saya mengajak seluruh guru di sekolah untuk melakukan sesuatu yang sederhana.
Selama dua minggu, pada dua jam pelajaran terakhir setiap hari, peserta didik tidak belajar seperti biasanya. Mereka akan mengubah ruang kelas menjadi ruang berkarya.
Bersama guru kelas dan guru mata pelajaran, mereka membuat berbagai pernak-pernik bernuansa merah putih untuk menghias kelas masing-masing.
Sekilas mungkin terlihat seperti kegiatan menghias kelas. Padahal, kalau dicermati lebih dalam, anak-anak sedang belajar banyak hal. Mereka:
- mempelajari makna sederhana peringatan Hari Kemerdekaan RI.
- berdiskusi menentukan tema dekorasi.
- membuat rancangan sederhana. Ada yang menggambar pola, ada yang menggunting, melipat, menempel, atau merangkai.
- memasang hasil karya bersama-sama.
Di tengah kegiatan itu, mereka belajar membagi tugas, saling membantu, menghargai pendapat teman, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang sudah disepakati. Justru di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi.
Baca Juga: Merencanakan Program Kokurikuler Tahun Ajaran 2026/2027
Mengapa Saya Memasukkannya sebagai Kokurikuler?
Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan. Dalam panduan Kemendikdasmen, kokurikuler menjadi wahana bagi peserta didik untuk memperdalam kompetensi melalui pengalaman belajar yang lebih kontekstual, kolaboratif, dan menyenangkan. Menghias kelas menjelang Hari Kemerdekaan memenuhi karakteristik tersebut.
Kegiatannya berangkat dari tema yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Hasil belajarnya nyata. Anak-anak menghasilkan karya yang dapat dinikmati bersama.
Proses belajarnya berlangsung secara alami tanpa terasa seperti sedang mengikuti pelajaran. Bagi saya, pengalaman seperti ini justru akan melekat lebih lama diingat dibandingkan sekadar menghafal materi.
Baca Juga: Kalender Pendidikan dan Minggu Efektif Pembelajaran
Tiga Dimensi Profil Lulusan yang Dikembangkan
Kegiatan ini sengaja dirancang untuk mengembangkan tiga dimensi Profil Lulusan: kreativitas, kebangsaan, dan kolaborasi.
1] Kreativitas
Murid diberi ruang untuk menuangkan ide-idenya. Mereka bebas memilih bentuk hiasan, memanfaatkan bahan yang tersedia, bahkan menggunakan barang bekas yang masih layak pakai. Tidak ada satu model yang dianggap paling benar. Yang dihargai adalah proses berpikir kreatif mereka.
2] Kebangsaan
Merah putih adalah kombinasi warna yang di baliknya ada sejarah perjuangan, pengorbanan para pahlawan, serta identitas bangsa Indonesia. Melalui kegiatan sederhana ini, peserta didik diajak mencintai negaranya dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.
3] Kolaborasi.
Tidak ada dekorasi kelas yang selesai dikerjakan oleh satu orang. Semua membutuhkan kerja sama. Anak-anak belajar bahwa hasil terbaik lahir ketika setiap orang mengambil perannya masing-masing.
Baca Juga: Menyusun Tujuan Pembelajaran Kokurikuler dan Modul Ajar
Bukan Sekadar Menghias
Saya berharap nanti tidak ada guru yang hanya berkata, “Ayo, buat hiasan.” Guru perlu menjadi fasilitator. Ia mengajak peserta didik berdiskusi.
Mengapa memilih desain tertentu?
Mengapa menggunakan bahan itu?
Bagaimana agar hiasan lebih rapi?
Bagaimana pembagian tugas supaya pekerjaan selesai tepat waktu?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu yang membimbing/melatih kemampuan berpikir para murid.
Yang Terpenting Adalah Prosesnya
Pada akhirnya, kelas yang paling indah belum tentu menjadi tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap anak terlibat. dalam prosesnya.
Ada anak yang biasanya pendiam, ternyata pandai menggambar. Di antara murid ada yang kurang percaya diri, ternyata telaten menggunting dan menempel. Yang lain, ternyata memiliki kemampuan mengoordinasikan teman-temannya. Semua memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka masing-masing.
Saya percaya, sekolah tidak hanya membentuk anak yang pandai menjawab soal. Sekolah juga perlu menghadirkan pengalaman belajar yang membuat peserta didik mampu berkarya, bekerja sama, dan mencintai bangsanya.
Kalau dua minggu menjelang 17 Agustus dapat menghadirkan pengalaman belajar seperti itu, rasanya dua jam pelajaran setiap hari bukanlah waktu yang terbuang.
Baca Juga: Contoh Alokasi Waktu dan Jadwal Pelajaran 6 Hari Kerja Sekolah Dasar
Justru dari kegiatan sederhana itulah, semangat kemerdekaan dapat tumbuh dengan cara yang menyenangkan dan membekas dalam ingatan anak-anak.
Semoga tahun ini, merah putih tidak hanya menghiasi dinding kelas, tetapi juga menguatkan rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Lanjutkan ke modul ajar. KLIK!
Musi Rawas, 29 Juli 2026
Salam Literasi,
PakDSus
