Jogja, Banyak Amat Namamu!

Kapan Anda ke Yogyakarta pertama kali? Saya ke Yogyakarta pertama kali ketika saya bersekolah di SPG. SPG adalah sekolah menengah atas bagi anak yang ingin menjadi guru. Betul, sejak kelas lima saya bercita-cita ingin menjadi guru. Ketika saya duduk di kelas dua, adik saya duduk di SMEA, Sekolah Menengah Ekonomi Atas.
Adik saya mempunyai teman yang sering main ke rumah. Teman adik adalah anak dari seorang pegawai PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), sekarang PT KAI. Sebagai seorang anak pegawai PJKA, ia memiliki SAP. SAP adalah Surat Angkutan Percuma. Ia dan keluarganya bebas pergi ke mana-mana menggunakan angkutan kereta api.
Aturan saat itu, tidak seketat sekarang. Bahkan, cenderung longgar dan permisif. Pegawai dan keluarganya dapat memanfaatkan transportasi plat merah ini. Saya adalah satu di antara orang yang pernah memanfaatkan itu, karena diajak teman adik saya.
“Mas, besok kita ke Jogja. Ikut aku, gratis,” ajak teman adik. Sebut saja namanya Marsono.
“Memangnya bisa, Mar?” tanya saya.
“Bisa, Mas. Tenang saja,” jawabnya santai.
Tiba pada hari yang ia janjikan, kami pun pergi ke stasiun. Sebelum berangkat, saya ingin melihat kartu dan SAP yang ia maksudkan.
“Mar, fotone mbakyumu!” kata saya kaget ketika melihat foto di kartu adalah foto kakak perempuannya.
“Wis lah, tenang saja. Nanti kalau kondektur periksa, biar aku yang nunjukin,” kata Marsono meyakinkan.
Sampai di stasiun, kami menunggu kereta pagi. Sumpah, saya tidak tahu nama-nama kereta api. Juga jam pemberangkatan. Padahal, rumah saya hanya berjarak paling jauh tiga puluh meter dari rel. Iya juga, mana mungkin bermodal dekat rel bisa tahu nama-nama kereta api. Hampir setiap jam kereta api lewat di belakang rumah. Nah, kali ini, adalah pengalaman pertama naik kereta api setelah hampir tujuh belas tahun hidup di atas bumi dan rumah dekat rel kereta api. Ampun, dah!
Setelah naik di atas kereta, tidak lama kereta siang pukul sepuluh lebih itu merangkak meninggalkan Stasiun Gombong. Penumpang tidak terlalu padat. Saya pun kebagian tempat duduk dengan sandaran kursi yang keras. Maklum, kereta api ekonomi saat itu.
Pandangan saya nanar melihat keluar kereta. Sawah dan pekarangan mendominasi pemandangan di kanan kiri kereta. Hmm, sebentar lagi kami melewati kampung. Mata seakan tidak berkedip karena gerbong kereta kami akan segera melewati kampung tempat tinggal saya. Siapa tahu ada kawan yang sedang di sawah atau di pinggir jalan. Jika ia melihat kami, rasa bahagia makin bertambah. Sayangnya, kereta melaju semakin cepat, dan di sekitar kampung tidak saya temui satu orang pun yang bisa saya ajak melambaikan tangan. Uh, sedihnya.
Jogja, Yogya, Jogjakarta, atau Yogyakarta?
Hari itu, seperti saya ceritakan, adalah pengalaman pertama ke kota Jogjakarta. Begitulah lidah saya menyebut kota Sri Sultan Hamengku Buwono X itu. Jika singkat, saya menyebutnya JOGJA.
Jika kita melansir pejelasan yogyes.com, paling tidak ada tiga perkembangan yang dapat diuraikan.
Tahun 1755, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kita ingat, Perjanjian Giyanti antara VOC dengan Kasultanan Mataram membagi kekuasaan Mataram kepada Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi (https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Giyanti).
Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755 (www.jogjakota.go.id).
Nah, bolehlah kita simpulkan bahwa kata Yogyakarta awalnya bernama Ngayogyakarta Hadiningrat, pengucapannya mirip dengan bunyi: ngayogyokarto hadiningrat.
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat keterangan tentang batik Yogya. Batik Yogya (kain) adalah batik yang dibuat dengan corak dan gaya Yogyakarta. Secara tidak langsung, KBBI membakukan nama Yogyakarta.
Lalu, seorang teman bertanya di grup WA, Jogja apa Yogya? Variasi nama kota yang terkenal dengan Kota Pelajar dan juga Jalan Malioboro itu akibat variasi pelafalan. Juga akibat variasi tulisan. Ejaan lama, konsonan “J” sama dengan konsonan “Y” ejaan sekarang. Namun, karena sudah menjadi paten nama barangkali atau tercetak pada gedung, tulisan JOGJA tidak diganti menjadi YOGYA. Misalnya hotel ABADI JOGJA.

Jadi, silakan Anda mau mengeja nama kota dan juga nama salah satu provinsi di Indonesia di selatan Pulau Jawa. Itu sama dengan Anda menyebut nama kendaraan skuter buatan Italia yang bentuknya unik, Vespa. Anda boleh menyebutnya vespa, pespa, pespah, atau vespah. Jenis kendaraan ini, memang cocok dipanggil pespa. Sebab, kalau kempes, tidak bisa dipompa, berat!
Salam dan Bahagia!
PakDSus

“
Banyak namanya dengan banyak cerita yang tak akan ada habisnya.
Hari ini khusus jogja, KEREN
Hari ini khusus jogja, KEREN
Selain banyak nama, Jogja juga banyak istilah, kota pelajar, kota pendidikan, kota kost-kostan, kota wisata, dan lain-lain.
Emang vespa , gak bisa dikompa ya pak D . Jogja tetap istimewa dihati ya pak D
Keren…berbagi ceritanya.PakD…menukis yg betul Yogya / Jogyakarta ???
Luar biasa pak De
Apapun itu.. yogya, jogja, yogyakarta yang teroenting jogja tetep d hati.
Kalimat terakhir bikin ketawa
Top tulisan pak D